Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Jejak Nyai Subang Larang Hingga Mbah Buyut Gelok, Ini Sejarah Cipunagara Kabupaten Subang

K
Khoirul AnsoriEditor: Dobi Maulana
|13:02 WIB
Bagikan:
Jejak Nyai Subang Larang Hingga Mbah Buyut Gelok, Ini Sejarah Cipunagara Kabupaten Subang
Jejak Nyai Subang Larang Hingga Mbah Buyut Gelok, Ini Sejarah Cipunagara Kabupaten Subang

PASUNDAN EKSPRES.ID – Kecamatan Cipunagara merupakan salah satu wilayah di Kabupaten Subang, Jawa Barat, yang menyimpan jejak sejarah cipunagara kabupaten subang dan tradisi masyarakat yang cukup panjang.

Selain dikenal sebagai kawasan dataran rendah di bagian utara Subang, Cipunagara juga memiliki sejumlah situs yang berkaitan dengan tokoh-tokoh masa lalu dan cerita sejarah lokal.

Pembahasan mengenai sejarah Cipunagara Kabupaten Subang tidak bisa dilepaskan dari keberadaan situs-situs lama yang sampai sekarang masih dikenal masyarakat.

Salah satu yang paling sering dikaitkan dengan perjalanan sejarah Islam dan Kerajaan Pajajaran adalah situs Mbah Buyut Gelok di Kampung Cipicung, Desa Kosambi.

Data Pemerintah Kabupaten Subang melalui dokumen Dinas Pendidikan dan Kebudayaan mencatat sejumlah situs cagar budaya di Kecamatan Cipunagara, di antaranya Mbah Buyut Gelok, Makam Kuno Gedong Pasir, Mbah Buyut Undein dan Syeh Waliyudin.

Sejarah Cipunagara Kabupaten Subang

Cipunagara merupakan kawasan dataran rendah Subang

Secara geografis, Cipunagara berada di bagian utara Kabupaten Subang. Data BPS menyebut wilayah Kecamatan Cipunagara memiliki topografi dataran rendah dengan ketinggian sekitar 0–100 meter di atas permukaan laut.

Kecamatan ini berada sekitar 20 kilometer dari pusat Kabupaten Subang. 

Dalam data pemerintahan, Cipunagara saat ini terdiri atas sejumlah desa, antara lain Jati, Kosambi, Manyingsal, Padamulya, Parigimulya, Sidajaya, Sidamulya, Simpar, Tanjung dan Wanasari.

BPS Kabupaten Subang secara rutin menerbitkan publikasi Kecamatan Cipunagara Dalam Angka yang memuat berbagai data sosial, ekonomi, demografi dan kondisi wilayah.

Publikasi tersebut menjadi salah satu rujukan penting untuk melihat perkembangan Cipunagara dari waktu ke waktu.

Namun, data statistik modern tersebut tidak secara khusus menjelaskan kapan nama Cipunagara pertama kali digunakan.

Karena itu, asal-usul nama Cipunagara sebaiknya tidak ditulis sebagai fakta sejarah apabila belum ditemukan dokumen primer yang mendukungnya.

Jejak sejarah Mbah Buyut Gelok

Salah satu bagian penting dalam sejarah Cipunagara Kabupaten Subang adalah keberadaan makam Mbah Buyut Gelok di Kampung Cipicung, Desa Kosambi.

Dokumen Pemerintah Kabupaten Subang mengenai pengenalan potensi cagar budaya mencatat Mbah Buyut Gelok sebagai situs yang berada di Kampung Cipicung, Desa Kosambi, Kecamatan Cipunagara. 

Sosok Gelok juga muncul dalam sejumlah sumber yang membahas sejarah Nyai Subang Larang.

Dalam kisah yang berkembang, Eyang Gelok dipercaya sebagai salah satu abdi dalem atau pengiring Nyai Subang Larang.

Pasundan Ekspres menulis bahwa sekitar tahun 1441 Nyai Subang Larang wafat di Keraton Pakuan dan jenazahnya kemudian dibawa oleh abdi dalem untuk dimakamkan di Muara Jati.

Salah satu abdi dalem tersebut dikenal sebagai Eyang Gelok yang makamnya berada di Kampung Cipicung, Desa Kosambi, Kecamatan Cipunagara. 

Keterangan serupa juga dimuat dalam kajian dan pemberitaan lain mengenai Nyai Subang Larang.

Karena cerita mengenai hubungan Gelok dan Subang Larang bersumber dari tradisi sejarah serta penelusuran lokal, bagian tersebut perlu dibedakan dari fakta yang sudah ditetapkan melalui penelitian arkeologis.

Hubungan dengan kisah Nyai Subang Larang

Nama Mbah Buyut Gelok kemudian sering disebut ketika masyarakat membicarakan hubungan sejarah Cipunagara dengan Nyai Subang Larang.

Nyai Subang Larang sendiri merupakan tokoh yang tercatat dalam Carita Purwaka Caruban Nagari (CPCN), naskah yang dikaitkan dengan Pangeran Arya Cirebon.

Sejumlah sumber menyebut Subang Larang sebagai istri Prabu Siliwangi dan ibu dari Walangsungsang, Rara Santang serta Raja Sangara. 

Menurut penelusuran sejarah lokal, setelah Subang Larang meninggal, salah satu abdi dalem yang mengiringi perjalanan jenazahnya adalah Eyang Gelok. Makam tokoh tersebut kemudian berada di Cipunagara.

Kaitan tersebut membuat Cipunagara memiliki posisi tersendiri dalam cerita sejarah lokal Tatar Sunda, khususnya mengenai jaringan tokoh yang berhubungan dengan penyebaran Islam pada masa awal.

Meski demikian, perlu dicatat bahwa beberapa detail mengenai perjalanan hidup Subang Larang dan lokasi-lokasi yang dikaitkan dengannya masih memiliki versi berbeda.

Bahkan, penelitian mengenai lokasi makam dan jejak kehidupan Subang Larang masih terus menjadi bahan pembahasan.

Makam Kuno Gedong Pasir

Selain Mbah Buyut Gelok, Pemerintah Kabupaten Subang juga mencatat Makam Kuno Gedong Pasir sebagai situs di Kecamatan Cipunagara.

Lokasinya tercatat berada di Kampung Cipunagara, Desa Tanjung, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Situs ini masuk dalam daftar situs yang dicatat pemerintah daerah dalam dokumen pelestarian cagar budaya.

Keberadaan makam kuno tersebut memperlihatkan bahwa kawasan Cipunagara memiliki tinggalan sejarah selain situs yang berkaitan dengan tokoh Gelok.

Mbah Buyut Undein di Desa Jati

Situs lain yang tercatat adalah Mbah Buyut Undein. Pemerintah Kabupaten Subang mencatat lokasinya berada di Susukan Hilir RT 14/RW 03, Desa Jati, Kecamatan Cipunagara, Kabupaten Subang, Jawa Barat.

Situs tersebut masuk dalam daftar situs budaya yang didata pemerintah daerah. 

Keberadaan situs ini menjadi salah satu bagian dari warisan sejarah lokal yang masih tercatat dalam administrasi kebudayaan Kabupaten Subang.

Bagi warga setempat, situs seperti ini tidak hanya berkaitan dengan bangunan atau makam, tetapi juga dengan cerita turun-temurun yang membentuk identitas suatu wilayah.

Syeh Waliyudin juga tercatat sebagai situs

Daftar pemerintah daerah juga mencantumkan Syeh Waliyudin sebagai situs di Kecamatan Cipunagara. 

Namun, data yang tersedia dalam dokumen tersebut tidak memberikan keterangan alamat secara lengkap setelah nama situs. 

Mengapa sejarah Cipunagara penting dipelajari?

Mempelajari sejarah Cipunagara Kabupaten Subang tidak hanya berkaitan dengan mencari tahun berdirinya sebuah kecamatan.

Sejarah wilayah juga dapat ditelusuri melalui keberadaan situs, makam tua, tradisi masyarakat dan cerita mengenai tokoh yang pernah hidup atau dikaitkan dengan kawasan tersebut.

Data pemerintah menunjukkan bahwa situs Mbah Buyut Gelok, Makam Kuno Gedong Pasir dan Mbah Buyut Undein telah masuk dalam pendataan situs budaya Kabupaten Subang.

Hal ini memberikan dasar yang lebih kuat untuk membedakan antara situs yang memang tercatat pemerintah dengan cerita rakyat yang belum mendapatkan penguatan dokumentasi sejarah. 

Di sisi lain, penelitian akademik mengenai Mbah Buyut Gelok juga mencatat lokasi situs tersebut di Cipicung, Desa Kosambi, Kecamatan Cipunagara, dan menghubungkannya dengan kajian mengenai jaringan sejarah Nyai Subang Larang. 

Bagi kamu yang ingin mengenal lebih jauh jejak sejarah Cipunagara dapat menjadikan situs-situs tersebut sebagai titik awal penelusuran.

Namun, untuk kunjungan langsung, kondisi akses, aturan ziarah dan informasi terbaru dari pemerintah desa atau pengelola setempat tetap perlu diperiksa terlebih dahulu.

Hingga kini, jejak sejarah tersebut masih menjadi bagian dari identitas masyarakat Cipunagara dan terus muncul dalam berbagai pembahasan mengenai sejarah Subang dan Tatar Sunda.

Berita Terbaru

Pemain dan Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Pemain dan Jadwal Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026

Olahraga9 jam lalu
Terkumpul Rp5,2 Juta, Infaq ASN RSUD Ciereng Fokus untuk Kesehatan

Terkumpul Rp5,2 Juta, Infaq ASN RSUD Ciereng Fokus untuk Kesehatan

Subang9 jam lalu
Jumah Berkah, DPD Golkar Purwakarta Berbagi Nasi Kotak

Jumah Berkah, DPD Golkar Purwakarta Berbagi Nasi Kotak

Purwakarta10 jam lalu
Sertifikat K3 untuk Melamar Kerja di Subang: Syarat, Manfaat, dan Cara Mendapatkannya

Sertifikat K3 untuk Melamar Kerja di Subang: Syarat, Manfaat, dan Cara Mendapatkannya

Lifestyle10 jam lalu
ADVERTISEMENT
Warga Dukung untuk Jabat Kedua Kalinya, Endi Sonjaya Kembali Nyalon Kades Kalentambo Subang

Warga Dukung untuk Jabat Kedua Kalinya, Endi Sonjaya Kembali Nyalon Kades Kalentambo Subang

Subang10 jam lalu
Indonesia Diproyeksikan Masuk Pot 3 Kualifikasi Piala Dunia 2030, Ini Dasarnya

Indonesia Diproyeksikan Masuk Pot 3 Kualifikasi Piala Dunia 2030, Ini Dasarnya

Nasional11 jam lalu
Jurusan Kuliah untuk Kerja di Industri Otomotif Subang, Ini Daftar Pilihannya

Jurusan Kuliah untuk Kerja di Industri Otomotif Subang, Ini Daftar Pilihannya

Subang12 jam lalu
Sun Life Syariah dan BMM Dorong UMKM Perempuan di Bandung Naik Kelas

Sun Life Syariah dan BMM Dorong UMKM Perempuan di Bandung Naik Kelas

Nasional12 jam lalu
PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat

PERINTIS 10 Hari Jawab Kebutuhan Masyarakat akan Layanan Pertanahan yang Pasti dan Cepat

Nasional13 jam lalu
PGRI Subang Gelar ToT Senam Bugar Jawa Barat Istimewa

PGRI Subang Gelar ToT Senam Bugar Jawa Barat Istimewa

Headline13 jam lalu