Latih Bakat Anak Sejak Dini, SDN Kiansantang Desa Karanganyar Subang Lestarikan Tari Sintren Lewat Ekskul

PASUNDANEKSPRES.ID - Seni budaya menunjukkan sebuah bangsa yang memiliki nilai estetika tinggi dan menjadi daya tarik wisata. Untuk itulah SDN Kiansantang, Desa Karanganyar, Kecamatan Pusakajaya, melestarikan seni Tari Sintren sebagai ekskul unggulan.
Walaupun belum mempunyai peralatan gamelan sendiri, apalagi tempat untuk latihan karawitan, hal itu tidak membuat langkah mereka terhenti untuk ikut serta dalam melestarikan kesenian tradisional.
Menurut Kepala Sekolah SDN Kiansantang Karnica, S.Pd. MM, pihaknya berkomitmen untuk melestarikan kesenian tradisional seni Sintren walaupun sarana dan prasarana untuk kegiatan tersebut belum menunjang akan tetapi hal itu tidak lantas menjadi hambatan untuk pelestarian kesenian daerah Subang.
"Kami berusaha untuk menemukan bakat anak sejak awal yang nantinya bakat ini dapat diasah dan menjadikan prestasi untuk anak -anak, karena kami yakin setiap anak memiliki bakatnya masing-masing,” tuturnya.
Karnica menjelaskan tarian sintren adalah sebuah seni tari yang dibawakan oleh seorang wanita dan didampingi satu orang dalang. Sama seperti seni tari pada umumnya, tarian sintren juga turut diiringi oleh alunan musik gamelan tradisional.
Selain itu, dalam kesenian tari sintren, juga terdapat beberapa orang wanita yang bertugas sebagai penari pengiring. Dalam proses pementasan kesenian ini, seorang wanita yang menjadi penari sintren akan lebih dulu diikat dengan tali dan dimasukkan ke dalam sebuah kurungan yang tutup oleh kain.
Beberapa saat kemudian, sang penari sintren pun akan keluar dengan kondisi tubuh yang sudah terlepas dari ikatan. Selain itu, saat keluar dari kurungan, penampilan sang penari pun telah berubah. Ia keluar dengan mengenakan pakaian khusus dan berkacamata hitam.
Seirama dengan alunan musik yang mengiringinya, seorang penari sintren akan terus melenggak-lenggok melakukan gerakan tarian. Namun ketika ada penonton yang melemparkan uang dan tepat mengenai tubuh si penari, maka penari sintren akan terjatuh.
Di saat itu, seorang Dalang yang mendampingi, kemudian akan kembali mendirikan tubuh si penari sintren, begitu pun seterusnya.
Karnica menyebut nama Sintren sendiri berasal dari dua kata yakni Si dan Tren. Si yang berarti Dia, dan Tren yang berarti Putri. Sehingga jika diartikan, nama Sintren memiliki makna Si Putri atau bisa juga disebut Sang Putri.
Sebetulnya seni Sintren ini sudah ada sebelum ajaran Islam masuk ke tanah Jawa. Hal ini, ditandai dengan adanya syair-syair dalam tarian sintren yang menyebut dewa-dewa. Setelah ajaran Islam masuk ke tanah Jawa, khususnya di era Walisongo, tarian Sintren juga dijadikan sebagai media dakwah oleh para wali.
"Baru setelah Islam masuk, khususnya di era Walisongo, syair-syair dalam kesenian tari sintren kemudian diisi dengan ajaran Islam, seperti shalawat," ujarnya.
Lebih lanjut Karnica berharap melalui ekskul seni Sintren ini siswa bisa mengeksplorasi minat dan ikut melestarikan budaya yang diwariskan oleh nenek moyang sebagai kekayaan budaya bangsa Indonesia.(dan/ded)
