Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Menelusuri Sejarah Kota Subang Jaman Dulu, Dari Prasejarah hingga Kemerdekaan

F
Fahrizal Abdul MEditor: Dobi Maulana
|15:05 WIB
Bagikan:
Menelusuri Sejarah Kota Subang Jaman Dulu, Dari Prasejarah hingga Kemerdekaan
Sejarah kota Subang jaman dulu mencakup masa prasejarah, pengaruh kerajaan besar seperti Tarumanagara dan Pajajaran, masa penjajahan Belanda, hingga perjuangan rakyat Subang dalam merebut kemerdekaan Indonesia.

PASUNDAN EKSPRES - Sejarah kota Subang jaman dulu adalah kisah panjang peradaban yang telah melewati berbagai era: dari zaman prasejarah, pengaruh kerajaan Hindu dan Islam, masa kolonialisme, kebangkitan nasionalisme, hingga perjuangan kemerdekaan.

Wilayah yang kini dikenal sebagai Kabupaten Subang menyimpan banyak jejak historis yang menjadi bukti penting perjalanan sejarah kawasan di jalur tengah Pulau Jawa Barat ini.

Sejarah Kota Subang Jaman Dulu: Jejak Peradaban dari Prasejarah hingga Kemerdekaan

Prasejarah: Awal Kehidupan di Subang

Jejak pertama peradaban dalam sejarah kota Subang jaman dulu ditandai dengan penemuan alat-alat batu bercorak neolitikum di beberapa wilayah seperti Bojongkeding (Binong), Pagaden, Kalijati, dan Dayeuhkolot (Sagalaherang).

Benda-benda ini mengindikasikan bahwa masyarakat telah mengenal aktivitas pertanian sederhana sejak masa prasejarah.

Tak hanya itu, temuan situs perunggu di Kampung Engkel, Sagalaherang memperkuat bukti bahwa budaya logam juga berkembang di wilayah ini.

Peradaban awal ini menjadi fondasi penting dalam membentuk struktur sosial dan ekonomi masyarakat Subang di masa-masa berikutnya.

Era Hindu: Bagian dari Kerajaan Besar di Nusantara

Dalam fase sejarah kota Subang jaman dulu saat masuk ke era Hindu-Buddha, wilayah ini berada di bawah pengaruh tiga kerajaan besar: Tarumanagara, Galuh, dan Pajajaran.

Perdagangan dan kontak budaya dengan kerajaan luar bahkan sudah terjadi sejak abad ke-7, terbukti dari penemuan pecahan keramik Tiongkok di Patenggeng (Kalijati).

Tome Pires, seorang penjelajah Portugis, mencatat bahwa sepanjang jalur utara Jawa, termasuk wilayah Subang, merupakan bagian dari Kerajaan Sunda.

Hal ini mengindikasikan bahwa Subang bukanlah daerah terpencil, melainkan bagian dari jalur perdagangan penting dalam jaringan kerajaan maritim Nusantara.

Pengaruh Islam: Dakwah dan Penyebaran dari Talaga

Memasuki abad ke-16, penyebaran Islam turut membentuk corak sejarah kota Subang jaman dulu. Seorang ulama bernama Wangsa Goparana dari Talaga, Majalengka menjadi tokoh penting dalam penyebaran Islam di Subang.

Ia membuka pemukiman di Sagalaherang sekitar tahun 1530 dan menyebarkan ajaran Islam ke pelosok-pelosok wilayah Subang.

Perubahan kepercayaan masyarakat ini tidak terjadi secara tiba-tiba, namun melalui proses panjang dakwah dan akulturasi budaya yang berlangsung damai.

Peninggalan tradisi-tradisi keagamaan yang kental hingga hari ini menjadi bukti kuat pengaruh Islam dalam struktur budaya Subang.

Kolonialisme: Perebutan dan Eksploitasi

Setelah runtuhnya Kerajaan Pajajaran, sejarah kota Subang jaman dulu memasuki fase kolonialisme.

Daerah ini menjadi rebutan kekuatan besar seperti Kerajaan Banten, Mataram, hingga VOC dan Belanda.

Subang menjadi jalur logistik pasukan Sultan Agung dalam perangnya melawan Batavia, menyebabkan interaksi budaya antara tentara Jawa dan masyarakat Sunda yang bermukim di Subang.

Tahun 1812, masa kolonial semakin menguat saat tanah-tanah di Subang mulai dimiliki pihak swasta Eropa dan perusahaan perkebunan Pamanoekan en Tjiasemlanden (P&T Lands) menguasai wilayah seluas 212.900 hektar.

Pemerintah Belanda kemudian menetapkan struktur distrik dan onderdistrik, dengan seorang kontrolir BB berkedudukan di Subang.

Kebangkitan Nasional: Benih Perlawanan di Tengah Penjajahan

Meski tidak terlalu banyak tercatat dalam arus utama sejarah Indonesia, sejarah kota Subang jaman dulu mencatat bangkitnya semangat nasionalisme pada awal abad ke-20.

Setelah Kongres Sarekat Islam di Bandung tahun 1916, cabang organisasi ini berdiri di Pringkasap dan Sukamandi.

Tokoh-tokoh seperti Odeng Jayawisastra dan Darmodiharjo menjadi pelopor perlawanan melalui organisasi politik seperti Partai Nasional Indonesia (PNI), Nahdlatul Ulama (NU), Parindra, dan Partindo.

Mereka tidak hanya berkegiatan politik, tetapi juga terlibat dalam aksi pemogokan dan protes terhadap penguasa kolonial.

Pendudukan Jepang: Masa Kelam dan Gerakan Bawah Tanah

Tanggal 1 Maret 1942, tentara Jepang mendarat di pantai Eretan Timur dan merebut pangkalan udara Kalijati, menjadi titik kritis dalam sejarah kota Subang jaman dulu.

Peristiwa ini memaksa Hindia Belanda menyerah, dan Jepang mengambil alih seluruh kekuasaan di Nusantara.

Masa pendudukan Jepang sangat keras, diwarnai penangkapan dan pembunuhan terhadap pejuang seperti Sukandi, R. Kartawiguna, dan Sasmita.

Meski berada dalam tekanan, gerakan bawah tanah tetap berjalan, menunjukkan bahwa semangat perjuangan tidak pernah padam.

Kemerdekaan: Lahirnya Kabupaten Subang

Setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945, Subang menjadi pusat penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Dibentuk berbagai laskar rakyat seperti BKR, Pesindo, dan Lasykar Uruh. Wilayah ini menjadi front penting dalam menghadapi agresi militer Belanda.

Tahun 1946, Karesidenan Jakarta sementara dipindahkan ke Subang. Pejabat residen seperti Sewaka, Kusnaeni, dan Kosasih Purwanegara bergantian memimpin perlawanan.

Pada 5 April 1948, ditetapkan bahwa wilayah Kabupaten Karawang Timur—yang mencakup Subang dan Purwakarta—menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Subang. Penetapan ini secara resmi dikukuhkan melalui Keputusan DPRD No. 01/SK/DPRD/1977.

Sejarah kota Subang jaman dulu tidak bisa dipisahkan dari perkembangan budaya, ekonomi, dan politik di tanah Pasundan.

Dari zaman batu hingga masa kemerdekaan, Subang memainkan peran penting sebagai simpul interaksi antara kerajaan, kolonial, dan nasionalis.

Dengan kekayaan sejarah tersebut, penting bagi generasi sekarang untuk memahami dan melestarikan jejak sejarah kota Subang jaman dulu, sebagai bagian dari identitas daerah yang turut membentuk wajah Indonesia masa kini.

Berita Terbaru

Polisi Razia Saritem Bandung, 21 Orang Terindikasi Positif Metamfetamin

Polisi Razia Saritem Bandung, 21 Orang Terindikasi Positif Metamfetamin

Jawa Barat6 menit lalu
Bupati Reynaldy Resmikan Jalan Rancasari–Mariuk, Panjang 740 Meter

Bupati Reynaldy Resmikan Jalan Rancasari–Mariuk, Panjang 740 Meter

Headline41 menit lalu
Kanwil KemenHAM Jabar Sebut Prosedur Pendirian Gereja di Purwakarta Telah Sesuai Aturan

Kanwil KemenHAM Jabar Sebut Prosedur Pendirian Gereja di Purwakarta Telah Sesuai Aturan

Headline1 jam lalu
Anggota Watimpres Rocky Gerung Sarankan Gibran Mundur dari Jabatan Wapres, Ini Alasannya

Anggota Watimpres Rocky Gerung Sarankan Gibran Mundur dari Jabatan Wapres, Ini Alasannya

Nasional2 jam lalu
ADVERTISEMENT
6 Fakta Kasus Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

6 Fakta Kasus Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Headline3 jam lalu
Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Olahraga3 jam lalu
Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Headline3 jam lalu
Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Headline4 jam lalu
6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

Lifestyle4 jam lalu
7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

Lifestyle5 jam lalu