Ruwat Bumi Warga Desa Gempol di Subang Suguhkan Ratusan Tumpeng

PASUNDANEKSPRES.ID - Tradisi Ruwat Bumi begitu mengakar di masyarakat petani pedesaan. Budaya lokal yang sudah ada sejak nenek moyang dan turun temurun dijaga kelestariannya oleh masyarakat adat.
Dengan aneka dan corak yang berbeda tetapi memiliki arti yang sama, rasa syukur atas limpahan berkah alam semesta serta tolak bala agar hasil bumi yang akan datang lebih melimpah.
Seperti halnya itu, suguhan ratusan tumpeng berjejer di pinggiran jalan menghiasi perempatan menuju kantor Desa Gempol Kecamatan Pusakanagara, Kabupaten Subang, dalam rangka perayaan hajat Ruwatan Bumi, pada Sabtu (1/11/2025).
Kepala Desa Gempol, Edy Wirana, menjelaskan bahwa tumpeng memiliki makna filosofis yang mendalam bagi masyarakat. Dalam bahasa Jawa, "Tumpeng" adalah akronim dari "Tumapaking Penguripan Tumindak Lempeng Tumuju Pangeran," yang bermakna "berpijaklah pada pemikiran bahwa manusia harus menjalani hidup lurus menuju Allah SWT.
"Nasi tumpeng yang menjulang tinggi ke atas melambangkan gunung, menjadi harapan agar kehidupan kita terus meningkat, sementara lauk-pauk yang bervariasi mencerminkan kehidupan yang hakiki," ujar Edy Wirana Kades Gempol kepada Pasundan Ekspres.
Menurutnya dalam Ruwat Bumi itupun terjalin harmonisasi antar masyarakat desa,pemuka agama, tokoh adat dan pemerintahan, menjadi simbol persatuan dan kesatuan.
Selanjutnya do'a bersama pun dipanjatkan agar keberkahan alam senantiasa menjadi sebuah harapan agar melimpah ruah dan hidup lebih sejahtera.
Camat Pusakanagar Agus Hermawan menyampaikan apresiasinya bahwa rasa syukur atas nikmat alam harus dimanifestasikan dalam wujud doa dan harapan bersama agar alam tetap terawat, lestari memberkahi bumi.
"Budaya menunjukkan identitas bangsa, teruslah dijaga agar tetap lestari di bumi pertiwi," pungkasnya.(dan/ded)
