Situs Megalitik Gurudug: Jejak Peradaban Kuno di Subang Masih Minim Tersentuh Penelitian

PASUNDANEKSPRES.ID - Situs Megalitik Gurudug jejak peradaban kuno di Subang hingga kini dinilai masih kurang terekspos oleh media maupun kalangan akademisi.
Padahal, wilayah ini menyimpan beragam peninggalan sejarah yang berpotensi mengungkap perjalanan panjang peradaban masa lampau di Jawa Barat.
Salah satu peninggalan yang menarik perhatian adalah Situs Megalitik Gurudug, yang terletak di dekat aliran Sungai Ciasem, tepatnya di Desa Situsari, Kecamatan Dawuan. Lokasi situs ini juga berada tidak jauh dari Lembur Pakuan, kediaman Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Sayangnya, informasi mengenai Situs Megalitik Gurudug masih sangat terbatas. Saat penelusuran lapangan dilakukan, kuncen atau juru kunci setempat tidak berada di lokasi.
Berdasarkan penuturan Mang Dahlun, seorang penggiat sejarah Subang yang turut mengantar ke lokasi, berkembang kepercayaan di masyarakat sekitar bahwa situs tersebut merupakan makam Eyang Gurudug. Tokoh ini diyakini berasal dari era Majapahit, pada masa pemerintahan Raja Brawijaya.
Upaya penelusuran kemudian diperluas melalui sumber-sumber kolonial. Salah satu rujukan penting adalah karya François Valentijn berjudul Oud en Nieuw Oost-Indiën yang ditulis pada abad ke-18.
Dalam catatan tersebut, Valentijn menyebut sejumlah desa di sekitar Sungai Ciasem, termasuk Desa Groodak, yang diduga memiliki keterkaitan historis dengan Kampung Gurudug pada masa kini.
Berbeda dengan wilayah Subang bagian selatan yang relatif lebih banyak dikaji, kawasan ini juga pernah disinggahi oleh Dr. Salomon Müller, seorang naturalis sekaligus peneliti peninggalan peradaban kuno.
Müller mengungkap adanya jejak-jejak peradaban lama di daerah Cisalak, Subang, seperti punden berundak, arca, serta sisa-sisa benteng pertahanan yang kini telah banyak mengalami kerusakan.
Dalam perjalanannya, Müller juga tercatat bertemu dengan Raden Rangga Martayuda, Demang Batusirap wilayah yang kini mencakup Cisalak dan Tanjungsiang.
Dari pertemuan tersebut, diperoleh informasi mengenai sejumlah desa yang disebut telah hilang, di antaranya Nagara Dhomas, Nagara Tandjong Singa, Nagara Pariju, dan Nagara Djati Nangor.
Kondisi ini menunjukkan bahwa Subang menyimpan kekayaan sejarah dan jejak peradaban kuno yang sangat besar. Namun, potensi tersebut masih memerlukan perhatian lebih serius melalui penelitian lanjutan, pendokumentasian yang memadai, serta penggalian sumber-sumber historis secara lebih mendalam agar warisan masa lalu ini tidak hilang ditelan waktu.
