Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Makam Keramat Cijenuk: Jejak Spiritualitas Syekh Maulana Muhammad Syafei, Sang Pangeran Raja Atas Angin

F
Fahrizal Abdul MEditor: Dobi Maulana
|16:00 WIB
Bagikan:
Makam Keramat Cijenuk: Jejak Spiritualitas Syekh Maulana Muhammad Syafei, Sang Pangeran Raja Atas Angin
Makam Keramat Cijenuk, jejak spiritual Syekh Maulana Muhammad Syafei di Bandung Barat. (Foto: goodnewsfromindonesia.id)

PASUNDANEKSPRES.ID - Terletak di kaki pegunungan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, Makam Keramat Cijenuk menjadi salah satu situs spiritual paling dihormati di tanah Sunda.

Bukan sekadar tempat peristirahatan seorang ulama besar, kompleks makam ini juga menjadi simbol penyebaran Islam yang damai dan gigih di tengah tekanan kolonial Belanda.

Sosok yang dimakamkan di sini, Syekh Maulana Muhammad Syafei, dikenal luas sebagai Pangeran Raja Atas Angin, tokoh yang meninggalkan kemewahan istana Banten demi mengajarkan nilai-nilai Islam kepada masyarakat pedalaman.

Pesona dan Atmosfer Makam Keramat Cijenuk

Kompleks Makam Keramat Cijenuk berdiri di atas lahan sekitar 2,5 hektare di tengah pedesaan Cijenuk, dikelilingi oleh pepohonan rindang seperti beringin dan bambu yang menciptakan suasana sejuk dan menenangkan.

Nuansa mistis terasa lembut, berpadu dengan panorama sawah dan lembah hijau yang menenangkan hati setiap peziarah.

Di pusat area makam berdiri nisan utama Syekh Maulana Muhammad Syafei, dengan tulisan Arab kuno di atas batu sederhana yang dikelilingi pagar besi rendah sebagai tanda penghormatan.

Di sampingnya, terdapat makam istri dan dua putri beliau, membentuk formasi keluarga yang harmonis. Di dekat area utama, berdiri sebuah saung kayu kecil tempat peziarah berdoa, membaca tahlil, atau sekadar beristirahat sambil merenungkan perjuangan sang wali.

Jalan setapak berbatu yang mengarah ke makam tetap dijaga keasliannya, menyatu dengan alam sekitar. Tak jauh dari area makam, terdapat mata air kecil yang dipercaya membawa berkah dan sering digunakan peziarah untuk bersuci. Pada hari biasa, suasananya hening hanya diiringi angin dan kicau burung.

Namun saat haul tahunan, ribuan orang memadati area ini, dan banyak yang meyakini hembusan angin sejuk yang datang tiba-tiba adalah pertanda karomah sang wali.

Sejarah Syekh Maulana Muhammad Syafei: Dari Pangeran Banten ke Ulama Cipongkor

Syekh Maulana Muhammad Syafei lahir di Banten pada akhir abad ke-17. Ia merupakan keturunan kesembilan Sultan Syarif Hidayatullah (Sunan Gunung Jati) dan putra dari Sultan Abdul Fatah (Sultan Agung Tirtayasa), penguasa Banten pada 1631–1683.

Sebagai pangeran keraton, beliau memilih meninggalkan kehidupan istana demi menyebarkan ajaran Islam ke pelosok Jawa Barat. Sekitar tahun 1700-an, beliau tiba di daerah Cipongkor, yang kala itu masih terpencil dan berada di bawah pengawasan Belanda.

Bersama tiga pendamping spiritual—Eyang Jaga Wadana, Eyang Jaga Raksa, dan Eyang Jaga Wulan—beliau mendirikan pesantren sederhana di Cijenuk, menjadi pusat pengajaran Al-Qur’an, fikih, dan tasawuf bagi masyarakat pedesaan Sunda.

Julukan “Pangeran Raja Atas Angin” diberikan karena karomahnya yang diyakini dapat “berada di dua tempat sekaligus”, seperti mengajar santri di Cijenuk sambil hadir di majelis ilmu di Banten. Kisah ini melambangkan kebesaran ruhani dan kecepatan spiritualnya yang tidak terikat ruang dan waktu.

Walau dakwahnya kerap diganggu Belanda, pesantrennya tetap berdiri berkat perlindungan karomah angin yang disebut-sebut mampu menghalau pasukan penjajah.

Syekh Syafei wafat sekitar tahun 1750-an dan dimakamkan di Cijenuk bersama istri dan dua putrinya yang juga dikenal sebagai ulama perempuan berilmu tinggi.

Generasi penerusnya kemudian membangun kompleks makam dan pesantren-pesantren cabang di berbagai daerah Jawa Barat.

Pada tahun 2016, situs ini resmi diakui sebagai Cagar Budaya Kabupaten Bandung Barat melalui SK Dinas Kebudayaan No. 430/KEP.012-DISBUDPAR/2016, menegaskan pentingnya Makam Keramat Cijenuk dalam sejarah penyebaran Islam pasca-era Wali Songo.

Lokasi dan Akses ke Makam Keramat Cijenuk

Makam ini berlokasi di Kampung Keramat Wali, RT 07/RW 07, Desa Cijenuk, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, sekitar dua jam perjalanan dari pusat Kota Bandung.

Rute tercepat dapat ditempuh melalui Tol Cipularang dan keluar di Gerbang Tol Padalarang, kemudian melanjutkan perjalanan ke arah selatan menuju Cipongkor.

Koordinat GPS-nya: -6.950° LS, 107.550° BT, dengan akses jalan aspal yang cukup baik untuk kendaraan roda dua dan empat. Area parkir tersedia sekitar 500 meter dari pintu masuk utama.

Dari sana, peziarah melanjutkan perjalanan kaki selama 5–10 menit melewati jalan setapak berbatu yang dikelilingi sawah dan kebun teh—menambah kesan alami dan spiritual perjalanan.

Fasilitas di area makam mencakup saung istirahat, toilet umum, dan mushola sederhana, meskipun terbatas. Disarankan untuk datang pada pagi hari agar lebih nyaman dan khusyuk saat berziarah.

Nilai Spiritual dan Budaya Makam Keramat Cijenuk

Lebih dari sekadar tempat peristirahatan ulama, Makam Keramat Cijenuk merupakan warisan budaya dan spiritual yang menandai keteguhan Islam Sunda di masa penjajahan.

Dakwah Syekh Maulana Muhammad Syafei menekankan nilai tasawuf, kesabaran, dan ketulusan, yang hingga kini menjadi cerminan karakter masyarakat sekitar.

Tradisi haul tahunan diadakan setiap tahun oleh keturunannya yang kini mengelola pesantren lokal. Acara ini diisi pengajian, doa bersama, dan tausiah yang menarik jamaah dari berbagai daerah seperti Banten, Cirebon, hingga Jakarta.

Secara simbolik, Makam Keramat Cijenuk juga tercatat dalam “Kendi Nusantara” yang dibawa Gubernur Jawa Barat Ridwan Kamil ke Ibu Kota Nusantara (IKN) pada tahun 2022.

Hal ini menandakan pengakuan terhadap makam ini sebagai salah satu pusat spiritual penting di Jawa Barat yang berkontribusi terhadap persatuan ulama Nusantara.

Bagi banyak peziarah, kehadiran hembusan angin sejuk di sekitar makam diyakini sebagai bentuk karomah sang wali—pengingat bahwa keberkahan dan kebesaran Allah hadir dalam kesederhanaan.

Warisan Abadi dari Syekh Maulana Muhammad Syafei

Makam Keramat Cijenuk bukan hanya situs sejarah, melainkan cermin dari nilai-nilai luhur Islam yang diajarkan lewat contoh nyata: kesederhanaan, pengorbanan, dan kasih sayang kepada sesama.

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan modern, tempat ini menjadi oase spiritual yang menuntun setiap pengunjung untuk kembali mengenal jati diri dan makna iman.

Jika Anda berkesempatan berziarah, datanglah dengan niat ikhlas, hormati adat dan tata krama lokal, serta jaga kebersihan lingkungan. Seperti pesan para sesepuh, ziarah bukan sekadar mengenang kematian, tapi merenungkan kehidupan.

Makam Keramat Cijenuk mengajarkan bahwa warisan sejati bukan pada kemegahan, melainkan pada jejak kebaikan yang abadi.

Berita Terbaru

Daftar Drama Korea Tayang November 2026, Ada The Remarried Empress hingga Good Partner 2

Daftar Drama Korea Tayang November 2026, Ada The Remarried Empress hingga Good Partner 2

Lifestyle19 menit lalu
HP Infinix Terbaru 2026 dari Rp1 Jutaan hingga Rp12 Jutaan, Ini Daftarnya

HP Infinix Terbaru 2026 dari Rp1 Jutaan hingga Rp12 Jutaan, Ini Daftarnya

Lifestyle1 jam lalu
Rumah123 Ungkap Tren Rumah Tapak di Subang, Harga Penawaran Tembus Rp1,5 Miliar

Rumah123 Ungkap Tren Rumah Tapak di Subang, Harga Penawaran Tembus Rp1,5 Miliar

Lifestyle2 jam lalu
Polda Metro Jaya Hapus Postingan Sumpah Pemuda di Instagram? Ini Informasi yang Beredar

Polda Metro Jaya Hapus Postingan Sumpah Pemuda di Instagram? Ini Informasi yang Beredar

Nasional2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Subang Fest Vol.15 Kembali Digelar Akhir Oktober, Gandeng Komunitas Otomotif

Subang Fest Vol.15 Kembali Digelar Akhir Oktober, Gandeng Komunitas Otomotif

Lifestyle3 jam lalu
Green Policing di Cidadap, Kapolsek Pagaden Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

Green Policing di Cidadap, Kapolsek Pagaden Ajak Masyarakat Peduli Lingkungan

Subang3 jam lalu
Daftar Lengkap HP OPPO Terbaru 2026, Cek Spesifikasi dan Harga Oktober

Daftar Lengkap HP OPPO Terbaru 2026, Cek Spesifikasi dan Harga Oktober

Lifestyle3 jam lalu
Angkat Kisah Aktivis 1998, Penonton Film Laut Bercerita Tembus 184 Ribu di Hari Pertama

Angkat Kisah Aktivis 1998, Penonton Film Laut Bercerita Tembus 184 Ribu di Hari Pertama

Lifestyle4 jam lalu
Pertamina Targetkan 500 Ribu Liter Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Bioavtur

Pertamina Targetkan 500 Ribu Liter Minyak Jelantah untuk Bahan Baku Bioavtur

Nasional4 jam lalu
Usulan WFA saat Libur Nataru 2026 untuk Urai Kemacetan, Kemenhub Bidik 3 Tanggal Ini

Usulan WFA saat Libur Nataru 2026 untuk Urai Kemacetan, Kemenhub Bidik 3 Tanggal Ini

Nasional4 jam lalu