Sambut Nyepi, Ribuan Umat Hindu di Wilayah Bandung Raya Ikuti Upacara Melasti

PASUNDANEKSPRES.ID - Menyambut Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1948, sekitar 2.000 umat Hindu dari wilayah Bandung Raya mengikuti Upacara Melasti, yang digelar di kawasan Taman Lembah Dewata, Sabtu (14/3/2026).
Prosesi upacara dimulai sejak pagi hari dengan sembahyang bersama dan persiapan sarana upacara di pura. Selanjutnya umat mengikuti arak-arakan menuju lokasi upacara di kawasan Taman Lembah Dewata dengan rangkaian ritual seperti prosesi Mendak Tirta, penyucian pratima, serta persembahyangan bersama.
Bagi umat Hindu ritual sakral ini menjadi bagian dari rangkaian Tawur Agung Kesanga yang merupakan prosesi penyucian diri dan alam semesta sebelum umat Hindu memasuki Hari Raya Nyepi yang jatuh pada 19 Maret 2026.
Dalam tradisi Hindu, Melasti bertujuan membersihkan Bhuwana Alit (diri manusia) dan Bhuwana Agung (alam semesta) dengan memohon air kehidupan atau tirta amerta sebagai simbol kesucian.
Kegiatan Melasti juga diiringi berbagai pertunjukan seni budaya Bali yang menambah kekhidmatan suasana, seperti Tari Pendet, Tari Rejang Dewa, Tari Baris Gede, hingga alunan musik tradisional Baleganjur.
Selain menjadi tempat pelaksanaan ritual keagamaan, kawasan wisata tersebut juga akan menghadirkan kegiatan Rakat Budaya Bali pada 28 Maret 2026. Acara ini akan menampilkan berbagai kesenian khas Bali, mulai dari prosesi sakral Mendak Tirta, pertunjukan tari tradisional, hingga demonstrasi gamelan Gong Kebyar sebagai bentuk pelestarian budaya Nusantara di Jawa Barat.
Manajemen Taman Lembah Dewata, Yovi, menegaskan bahwa kawasan Wisata Lembah Dewata terbuka bagi berbagai kegiatan yang menjunjung tinggi nilai toleransi. Ia pun menyambut baik atas terselenggaranya kegiatan keagamaan tersebut. "Di tempat kami, prinsip yang selalu dijunjung adalah saling menghormati. Selama ini tidak pernah ada masalah, karena setiap pihak memahami dan menghargai satu sama lain," ujar Yovi.
Ia menambahkan bahwa pihaknya selalu berupaya menjaga suasana kebersamaan di tengah keberagaman. "Kami memegang nilai bahwa kamu adalah aku dan aku adalah kamu, yang berarti kita semua adalah satu keluarga yang harus hidup berdampingan dengan saling menghargai. Yang terpenting, setiap kegiatan dijalankan sesuai dengan bidang dan tanggung jawab masing-masing sehingga semuanya dapat berjalan dengan baik, aman, dan penuh kebersamaan," katanya.(ijr/sep)
