1,78 Juta Orang di Jawa Barat Menganggur

PASUNDANEKSPRES.ID - Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) di Jawa Barat pada Agustus 2025 mencapai 6,77 persen, naik tipis 0,02 persen poin dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya (6,75 persen).
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Jawa Barat, per Agustus 2025, jumlah pengangguran tercatat 1,78 juta orang, atau bertambah sekitar 10 ribu orang dibanding Agustus 2024.
Jika dilihat dalam tiga tahun terakhir, pada Agustus 2023, TPT mencapai 7,44 persen, turun menjadi 6,75 persen pada 2024, dan sedikit naik kembali menjadi 6,77 persen tahun ini.
Gubernur Jabar, Dedi Mulyadi merespons santai kenaikan TPT di Jabar. Menurutnya hal itu akan selesai ketika industri mulai tumbuh.
Pria yang akrab disapa KDM itu mengakui bahwa pengangguran merupakan salah satu pekerjaan rumah yang harus dituntaskan, "Ya itu bagian PR yang harus diselesaikan," ungkapnya saat di Gedung Sate, Jumat (7/11).
KDM melanjutkan, pertumbuhan industri di Jawa Barat bakal menjadi salah satu solusi untuk permasalahan tersebut. "Industrinya kan hari ini baru sampai pembangunan, rancang bangun gedung-gedungnya atau tempat-tempat industrinya. Ya tahun depan kan mulai rekrut. Nanti juga akan turun lagi (TPT.red), " katanya.
Pihaknya optimistis masalah itu bisa diselesaikan. "Ini kan memang bukan hanya problem Jabar, itu sudah problem secara umum lah," jelasnya.
Terpisah, Kepala Bidang Hubungan Industrial Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Barat, Firman Desa menjelaskan, posisi Jawa Barat dalam tingkat pengangguran nasional masih tinggi.
“Kalau berdasarkan peringkat Indonesia, memang Jawa Barat masuk ke dalam kategori yang tinggi. Pergantian biasanya antara peringkat satu sampai tiga, bergantian dengan Banten, Kepri, dan DKI Jakarta,” ujar Firman.
Firman menjelaskan, kondisi itu bisa dimaklumi karena Jawa Barat merupakan provinsi dengan jumlah penduduk terbesar di Indonesia dan menjadi tujuan urbanisasi para pencari kerja dari berbagai daerah.
“Ada gula, ada semut. Ada investasi, ada perusahaan masuk, otomatis ada pembukaan ruang pekerjaan di Jawa Barat. Tapi persaingannya bukan hanya warga Jawa Barat, melainkan se-Indonesia yang memperebutkannya,” katanya.
Menurutnya, ketidakseimbangan antara pertumbuhan penduduk dan pembukaan lapangan kerja baru turut memengaruhi kenaikan TPT.
“Penduduk Jawa Barat setiap tahun makin lama makin tinggi saja. Sekarang sudah mencapai 54 juta penduduk. Pertumbuhan penduduk dengan pembukaan lapangan pekerjaan baru kadang tidak seimbang, sehingga dari sisi persentase kenaikan TPT ini pasti terjadi,” ucapnya.
Firman menyebut ada tiga langkah utama yang perlu didorong untuk mengatasi pengangguran, yakni peningkatan investasi, penciptaan wirausaha baru, dan perluasan kesempatan kerja di luar daerah.
"Semakin banyak investasi masuk, semakin banyak perusahaan masuk, maka ruang pekerjaan akan terbuka. Kedua, kita dorong kewirausahaan baru agar masyarakat bisa menjadi pengusaha dan menyerap tenaga kerja. Ketiga, kita dorong pekerja migran, baik ke luar negeri maupun luar provinsi,” katanya.
Dia menambahkan, tingginya investasi di Jawa Barat belum berbanding lurus dengan penyerapan tenaga kerja karena sebagian besar investasi yang masuk berbentuk padat modal.
"Kalau kita melihat jenis investasi yang masuk, kebanyakan bentuknya padat modal. Serapan tenaga kerjanya cukup rendah dan spesifikasi tenaga kerja yang dibutuhkan pun cukup tinggi,” ujar Firman.(son/dam/zar)
