Bapperida Dukung Riset BRIN, Hidrolisat Ikan ASIKA Siap Diuji untuk Penanganan Stunting di Subang

PASUNDANEKSPRES.ID - Badan Perencanaan Pembangunan, Riset dan Inovasi Daerah (Bapperida) Kabupaten Subang mendukung pelaksanaan riset Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui persiapan uji coba produk ASIKA (Hidrolisat Protein Ikan) sebagai salah satu inovasi dalam upaya penanganan stunting di Kabupaten Subang.
ASIKA merupakan produk pangan siap santap berbahan dasar ikan kembung dan ikan pari. Produk tersebut dikembangkan oleh Tim Riset BRIN untuk membantu meningkatkan asupan asam amino pada balita yang mengalami stunting.
Uji coba ASIKA dijadwalkan mulai dilaksanakan pada 1 November 2026 di wilayah kerja Puskesmas Palasari dan Puskesmas Jalancagak. Pelaksanaan intervensi akan berlangsung selama 30 hari dengan sasaran balita yang telah ditentukan dalam penelitian.
Dalam pelaksanaannya, sasaran balita akan dibagi menjadi tiga kelompok intervensi. Pembagian kelompok tersebut dilakukan untuk memperoleh data yang dapat digunakan dalam mengukur efektivitas pemberian produk ASIKA terhadap kondisi gizi balita.
Kepala Bidang Riset dan Inovasi Daerah Bapperida Kabupaten Subang, Eti Maryati, S.IP., MT., mengatakan Bapperida mendukung pelaksanaan riset ASIKA sebagai salah satu upaya untuk memperkuat penanganan stunting sekaligus meningkatkan kualitas asupan gizi bagi balita di Kabupaten Subang.
Sinergi Antara Bapperida Kabupaten Subang dan BRIN
Menurutnya, sinergi antara Bapperida Kabupaten Subang dan BRIN diharapkan dapat menghadirkan solusi penanganan stunting yang efektif serta memiliki dasar ilmiah yang kuat.
“Sinergi antara Bapperida Subang dan BRIN ini diharapkan mampu menghadirkan solusi penanganan stunting yang efektif dan berbasis sains,” ungkapnya.
Selain melihat dampak pemberian ASIKA terhadap kondisi gizi balita, penelitian ini juga bertujuan mengetahui pengaruh pemberian makanan tambahan (PMT) ASIKA terhadap perbaikan profil asam amino pada anak.
Penelitian tersebut juga akan menguji potensi saliva atau air liur sebagai biomarker praktis untuk membantu menentukan status gizi. Penggunaan saliva diharapkan dapat menjadi salah satu pendekatan yang lebih praktis dalam pemantauan kondisi gizi anak.
"Untuk memastikan validitas data serta kelancaran proses pemantauan selama penelitian, program ini akan melibatkan tenaga lapang dan enumerator yang dikerahkan langsung dari Puskesmas Palasari dan Puskesmas Jalancagak," ujarnya.
Ia menegaskan, keterlibatan tenaga kesehatan di lapangan diharapkan dapat mendukung proses pengumpulan data secara optimal.
Melalui pelaksanaan riset tersebut, hasil penelitian ASIKA diharapkan dapat memberikan dasar ilmiah bagi pengembangan intervensi gizi serupa di masa mendatang. Kolaborasi Bapperida dan BRIN ini sekaligus menjadi bagian dari upaya mendorong penanganan stunting di Kabupaten Subang yang berbasis riset, data, dan inovasi.(znl/ysp)
