Bupati Purwakarta Om Zein Dorong Industri Genting Plered Terus Tumbuh

PASUNDANEKSPRES.ID - Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, akrab disapa Om Zein, menerima kedatangan para pengusaha genting dari wilayah Kecamatan Plered.
Pertemuan tersebut membahas peluang kebangkitan industri genting lokal di tengah adanya program gentingisasi yang dicanangkan pemerintah pusat.
Om Zein menyampaikan, meski tren penggunaan genting sempat menurun karena masyarakat beralih ke material lain, para pengusaha genting Plered hingga kini masih bertahan dan tetap menjalankan usahanya.
"Walaupun dulu sempat banyak yang beralih, para pengusaha ini masih tetap eksis. Memang produksinya tidak sebanyak dulu, tapi belum berhenti. Ini potensi besar yang harus kita dorong," kata Om Zein pada pertemuan yang berlangsung di rumah dinasnya itu, Jumat (10/4/2026).
Menurutnya, keberadaan sentragenting di Plered merupakan aset penting bagi Purwakarta yang perlu dijaga dan dikembangkan. Terlebih, Plered dikenal sebagai salah satu daerah penghasil genting, selain wilayah Jatiwangi Sumedang.
Ia pun menekankan pentingnya strategi agar produk genting Plered bisa kembali bersaing di pasar, khususnya dengan menggandeng para developer perumahan.
"Ke depan, bagaimana caranya developer yang membangun perumahan, baik di Jawa Barat maupun nasional, bisa menggunakan genting dari kita. Tapi tentu ada syaratnya, kualitas harus bagus dan harga harus kompetitif," ujarnya.
Salah satu pengusaha menyampaikan kendala utama yang dihadapi pengusaha genting Plered adalah harga yang relatif lebih tinggi dibandingkan daerah lain, seperti Jatiwangi.
Selisih harga, sambungnya, bahkan bisa mencapai sekitar Rp200 per unit, sehingga menjadi pertimbangan konsumen.
"Di masyarakat ada anggapan genting Plered lebih mahal. Ditambah lagi kalau beli dari luar daerah harus ada ongkos kirim, itu makin jadi pertimbangan," ucapnya.
Meski demikian, ia menjelaskan bahwa harga tersebut sebanding dengan kualitas yang dihasilkan. Pasalnya, proses produksi genting di Plered dinilai lebih modern dan presisi.
Hal ini salah satunya ditunjukkan dengan penggunaan teknologi mesin rotari yang mampu menjaga tekanan produksi tetap stabil dari pagi hingga sore hari.
"Dengan teknologi itu, kualitas dan ketahanan genting lebih terjamin. Jadi memang ada nilai lebihnya," katanya.
Selain faktor teknologi, tingginya biaya produksi juga dipengaruhi oleh upah tenaga kerja yang relatif lebih tinggi di Plered dibandingkan daerah lain.
"Upah tenaga kerja di sini lebih tinggi, itu juga berpengaruh. Tapi di sisi lain, kondisi pasar sedang tidak baik-baik saja, sehingga produksi tidak maksimal," ujarnya.
Meski begitu, Binzein optimistis industri genteng Plered masih memiliki peluang untuk bangkit. Ia menilai, edukasi kepada masyarakat terkait kualitas produk menjadi kunci penting agar konsumen memahami alasan di balik harga yang ditawarkan.(add/ysp)
