Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Fakta-fakta Mengenai Kontroversi Paskibraka Istana yang Diminta untuk Melepas Jilbab

K
Kharisma AlfiEditor: Kharisma Alfi
|13:27 WIB
Bagikan:
Fakta-fakta Mengenai Kontroversi Paskibraka Istana yang Diminta untuk Melepas Jilbab
Fakta-fakta Mengenai Kontroversi Paskibraka Istana yang Diminta untuk Melepas Jilbab(Freepik)

PASUNDAN EKSPRES - Isu mengenai aturan seragam bagi anggota Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) putri yang beragama Islam menjadi sorotan tajam menjelang peringatan HUT ke-79 RI. 

Perhatian publik tertuju pada keputusan yang tampaknya mengharuskan anggota Paskibraka untuk melepas jilbab saat menjalankan tugas kenegaraan, khususnya pada upacara pengukuhan dan pengibaran bendera di Ibu Kota Nusantara (IKN), Kalimantan Timur.

Fakta-fakta Mengenai Kontroversi Paskibraka Istana yang Diminta untuk Melepas Jilbab

Munculnya Polemik

Aturan ini pertama kali mencuat setelah sejumlah anggota Paskibraka putri yang sebelumnya terlihat mengenakan jilbab saat latihan, tiba-tiba tampil tanpa jilbab saat upacara pengukuhan di IKN.

Hal ini menimbulkan spekulasi di kalangan masyarakat dan media, yang mencurigai adanya kebijakan dari Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) sebagai pihak yang kini menaungi Paskibraka, untuk memaksa anggota putri melepas jilbab mereka.

BPIP Membantah, Tapi Kontroversi Tetap Berkobar

Menanggapi tuduhan tersebut, BPIP dengan cepat memberikan klarifikasi.

Kepala BPIP Yudian Wahyudi menyatakan bahwa tidak ada paksaan bagi anggota Paskibraka putri untuk melepas jilbab mereka.

Menurut Yudian, keputusan ini diambil secara sukarela oleh anggota Paskibraka sendiri, berdasarkan kesepakatan yang telah dicapai dalam surat pernyataan yang ditandatangani di atas meterai.

Namun, keputusan ini hanya berlaku selama acara pengukuhan dan upacara pengibaran bendera. Di luar itu, para anggota tetap memiliki kebebasan untuk mengenakan jilbab.

Meskipun BPIP telah memberikan penjelasan, gelombang protes dari berbagai kalangan tidak bisa dihindari.

Banyak yang mempertanyakan logika di balik aturan tersebut, mengingat bahwa penggunaan jilbab merupakan bagian dari kebebasan beragama yang dijamin oleh konstitusi.

Reaksi dari Ormas Islam

Reaksi keras datang dari berbagai organisasi Islam, termasuk Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU), dua ormas terbesar di Indonesia.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, dengan tegas menyatakan bahwa tidak seharusnya ada larangan bagi perempuan Muslim untuk mengenakan jilbab, terlebih lagi dalam konteks kenegaraan.

Ia menyebut aturan tersebut sebagai bentuk pemaksaan yang tidak perlu dan mendesak agar kebijakan itu segera dicabut.

Sikap serupa juga disuarakan oleh PBNU.

Gus Fahrur, salah satu tokoh PBNU, menyatakan bahwa aturan ini harus dikoreksi karena bertentangan dengan prinsip kebebasan beragama yang harus dihormati oleh semua pihak.

Menurutnya, jilbab tidak mengurangi kekompakan dan keserasian pasukan Paskibraka.

MUI, melalui Ketua Bidang Dakwahnya, Cholil Nafis, juga mengecam kebijakan ini.

Menurut Cholil, dugaan larangan jilbab merupakan langkah yang tidak Pancasilais, karena tidak menghormati kebebasan beragama yang menjadi salah satu pilar Pancasila.

Sikap Purna Paskibraka Indonesia

Di tengah polemik ini, Purna Paskibraka Indonesia (PPI) turut menyuarakan keprihatinannya.

Mereka mengecam adanya dugaan tekanan terhadap anggota Paskibraka putri untuk melepas jilbab mereka.

PPI menegaskan bahwa penggunaan jilbab adalah bagian dari keyakinan agama yang harus dihormati, dan tidak seharusnya menjadi bahan negosiasi dalam konteks apapun.

Paskibraka Putri Tetap Diperbolehkan Berjilbab

Menanggapi tekanan publik yang semakin kuat, Kepala Sekretariat Presiden, Heru Budi Hartono, akhirnya memberikan kepastian bahwa anggota Paskibraka putri yang beragama Islam tetap diperbolehkan mengenakan jilbab saat bertugas pada upacara peringatan 17 Agustus.

Heru menjelaskan bahwa penggunaan jilbab akan tetap dihormati, sesuai dengan apa yang telah dipraktikkan oleh anggota Paskibraka selama latihan.

Langkah ini tampaknya diambil setelah BPIP berkoordinasi dengan Istana, guna memastikan bahwa hak-hak kebebasan beragama para anggota Paskibraka tetap terjamin.

Polemik ini menunjukkan betapa sensitifnya isu kebebasan beragama di Indonesia, khususnya dalam konteks tugas kenegaraan yang melibatkan simbol-simbol penting seperti Paskibraka.

Meskipun BPIP telah mencoba menjelaskan posisi mereka, kenyataan bahwa aturan ini mendapat begitu banyak kritik menunjukkan perlunya kehati-hatian dalam menerapkan kebijakan yang bersinggungan dengan hak-hak dasar warga negara.

Pada akhirnya, kebijakan apa pun yang diterapkan harus selalu mempertimbangkan dan menghormati nilai-nilai keberagaman dan kebebasan yang menjadi fondasi dari negara ini.

Dengan demikian, semoga kejadian ini menjadi pembelajaran bagi semua pihak untuk lebih bijak dalam mengelola isu-isu yang berpotensi menimbulkan gesekan di masyarakat.

Artikel ini mengutip dari berbagai sumber.

Berita Terbaru

6 Fakta Kasus Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

6 Fakta Kasus Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Headline14 menit lalu
Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Olahraga32 menit lalu
Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Headline51 menit lalu
Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Headline1 jam lalu
ADVERTISEMENT
6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

Lifestyle1 jam lalu
7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

Lifestyle2 jam lalu
Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Subang, Ada Berbagai Permainan Seru

Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Subang, Ada Berbagai Permainan Seru

Lifestyle3 jam lalu
Program Jabar Sakola Resmi Diluncurkan, Bantu Tekan Angka Putus Sekolah

Program Jabar Sakola Resmi Diluncurkan, Bantu Tekan Angka Putus Sekolah

Jawa Barat4 jam lalu
Darurat Kekerasan di Sekolah, DPP AGPAII Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk ke Dalam RUU Sisdiknas

Darurat Kekerasan di Sekolah, DPP AGPAII Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk ke Dalam RUU Sisdiknas

Headline4 jam lalu
Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

Nasional11 jam lalu