Ingkar, Israel Kembali Luncurkan Bom Gaza, 12 Warga Palestina Tewas Termasuk Anak-anak

PASUNDANEKSPRES.ID - Situasi keamanan di Jalur Gaza kembali memanas setelah serangan udara militer Israel menewaskan sedikitnya 12 warga Palestina.
Dari jumlah tersebut, separuh korban dilaporkan merupakan anak-anak. Serangan ini terjadi sehari sebelum rencana pembukaan kembali penyeberangan Rafah, yang untuk pertama kalinya akan dibuka sejak Mei 2024.
Berdasarkan keterangan sumber medis, serangan udara Israel pada Sabtu menyasar sebuah tenda pengungsian di kawasan Mawasi, barat laut Khan Younis. Wilayah tersebut sebelumnya ditetapkan sebagai zona aman.
Namun, serangan tersebut justru menewaskan tujuh warga Palestina, termasuk tiga anak.
Seluruh jenazah korban segera dievakuasi ke Kompleks Medis Nasser di Khan Younis di tengah suasana duka mendalam.
Serangan juga dilaporkan terjadi di wilayah utara Jalur Gaza. Di Kota Gaza, tim layanan darurat menyebutkan sedikitnya lima orang tewas setelah sebuah gedung apartemen di kawasan Remal dihantam rudal Israel. Korban tewas di lokasi tersebut termasuk seorang ibu bersama anak-anaknya.
Koresponden Al Jazeera, Hani Mahmoud, yang berada di lokasi kejadian menggambarkan dahsyatnya ledakan yang terjadi. Ia menyebut gelombang kejut disertai kepulan debu tebal menyelimuti area permukiman sesaat setelah serangan berlangsung.
“Kami merasakan getaran kuat akibat ledakan yang diikuti awan debu hitam besar. Serangan itu menewaskan sedikitnya lima orang di dalam apartemen, termasuk seorang ibu dan anak-anak,” ujar Mahmoud dalam laporannya, Sabtu (31/1/2026).
Selain korban meninggal, delapan warga Palestina lainnya dilaporkan mengalami luka-luka akibat serangan terpisah yang juga menyasar sebuah gedung apartemen di kawasan Daraj, Kota Gaza.
Kantor Media Pemerintah Gaza mencatat, sejak gencatan senjata yang dimediasi Amerika Serikat mulai berlaku pada 10 Oktober lalu, jumlah warga Palestina yang tewas akibat aksi militer Israel telah mencapai sedikitnya 524 orang.
Serangan terbaru ini berlangsung di tengah persiapan pembukaan kembali gerbang Rafah yang menghubungkan Jalur Gaza dengan Mesir.
Meski pembukaan tersebut merupakan bagian dari kesepakatan gencatan senjata dengan Hamas, Israel menyatakan akan memberlakukan pembatasan ketat.
Otoritas Israel menegaskan hanya individu tertentu yang telah lolos pemeriksaan keamanan yang diizinkan melintas.
Namun, jalur tersebut tidak dibuka untuk pengiriman bantuan kemanusiaan maupun pasokan logistik. Pembatasan ini menuai kritik luas dari berbagai pihak.
Menurut Hani Mahmoud, hanya warga yang sebelumnya mengungsi dalam dua tahun terakhir yang diperbolehkan kembali ke Gaza. Sementara mereka yang lahir di luar wilayah tersebut tidak mendapatkan izin masuk.
Menanggapi kebijakan tersebut, Hamas mendesak Israel agar membuka akses keluar masuk Gaza tanpa pembatasan.
Hamas juga meminta Israel mematuhi seluruh ketentuan yang telah disepakati dalam perjanjian gencatan senjata.
Sejak konflik yang dimulai pada 7 Oktober 2023, agresi militer Israel di Jalur Gaza telah menewaskan lebih dari 71.600 warga Palestina dan memicu krisis kemanusiaan yang disebut sebagai salah satu yang terburuk di abad ini.
