Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Iran Menutup Selat Hormuz Usai Serangan AS-Israel, Ancaman Krisis Energi Global

D
Dobi MaulanaEditor: Dobi Maulana
|19:06 WIB
Bagikan:
Iran Menutup Selat Hormuz Usai Serangan AS-Israel, Ancaman Krisis Energi Global
Ancaman Krisis Energi Global setelah Iran Menutup Selat Hormuz Usai Serangan AS-Israel

PASUNDANEKSPRES.ID - Parlemen Iran mendesak pemerintah agar menutup Selat Hormuz sebagai tanggapan atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dalam eskalasi konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel beberapa hari terakhir.

Komunitas internasional kini mengawasi dengan cermat apakah Teheran benar-benar akan merealisasikan langkah tersebut.

Dilaporkan bahwa parlemen telah menyatakan dukungannya terhadap rencana penutupan itu. Meski demikian, keputusan final tetap berada di tangan dewan keamanan nasional Iran.

Apabila benar dilakukan, ini akan menjadi pertama kalinya Iran menutup Selat Hormuz sejak konflik dengan Israel pecah pada 1979.

Selat tersebut dikenal sebagai salah satu jalur maritim paling vital di dunia karena dilalui sekitar seperlima distribusi minyak dan gas global.

Saat ini, Republik Islam Iran berada dalam posisi paling dekat untuk mengambil langkah tersebut. Sebelumnya, sejumlah analis meragukan ancaman serupa karena Iran secara historis cenderung memilih respons yang terukur dan penuh perhitungan.

Namun, serangan yang menyasar pemimpin tertinggi mereka baru-baru ini dinilai berpotensi mengubah strategi tersebut, mendorong Teheran mengambil kebijakan yang berdampak besar terhadap perekonomian global.

Signifikansi Strategis Selat Hormuz

Selat Hormuz memiliki lebar kurang lebih 33 kilometer. Meski relatif sempit, jalur ini menjadi penghubung utama antara Teluk Persia yang kaya energi dengan pasar internasional, sehingga menjadikannya salah satu rute pelayaran tersibuk dan paling strategis di dunia.

Sekitar 22 persen pasokan minyak dunia, atau hampir seperempatnya, melewati Selat Hormuz. Selain itu, sekitar 20 persen perdagangan gas alam cair (LNG) global pada 2022 juga melalui jalur ini.

Tak hanya minyak mentah, selat tersebut juga menjadi jalur distribusi LNG, produk petrokimia, serta berbagai komoditas penting lainnya.

Karena perannya yang krusial, keamanan dan stabilitas Selat Hormuz sangat menentukan kelancaran perdagangan internasional.

Jika jalur ini ditutup atau terganggu, dampaknya dapat memicu lonjakan harga energi, gangguan rantai pasok, serta tekanan ekonomi global.

Ketegangan Geopolitik di Sekitar Selat

Secara geografis, Selat Hormuz berbatasan dengan sejumlah negara yang memiliki kepentingan strategis di kawasan.

Di bagian barat terdapat Uni Emirat Arab dan Oman, sementara Iran menguasai sisi utara. Di seberangnya terdapat Arab Saudi dan Bahrain.

Letaknya yang berdekatan dengan negara-negara berkekuatan besar dan kawasan kaya sumber daya membuat Selat Hormuz menjadi pusat dinamika geopolitik. Nilai strategisnya kerap memicu tantangan politik maupun militer selama bertahun-tahun.

Iran, sebagai penguasa sebagian besar garis pantai utara, beberapa kali melontarkan ancaman penutupan selat ketika ketegangan meningkat.

Pada 2019 misalnya, saat hubungan Iran dan AS memanas, Iran menyita kapal tanker yang melintas di wilayah tersebut.

Insiden tersebut, bersama sejumlah konfrontasi lain, menimbulkan kekhawatiran global terkait keamanan jalur pelayaran dan dampaknya terhadap pasar energi.

Isu Keamanan dan Kehadiran Militer

Selat Hormuz juga menjadi titik fokus isu keamanan regional. Mengingat perannya yang vital dalam distribusi energi dunia, ancaman terhadap jalur ini dapat dengan cepat berkembang menjadi krisis internasional.

Amerika Serikat dan Iran sama-sama menempatkan kekuatan militer di sekitar kawasan tersebut, sehingga ketegangan kerap meningkat ketika operasi militer berlangsung.

Dalam beberapa tahun terakhir, kehadiran militer di wilayah ini terus bertambah. Angkatan Laut AS bersama sejumlah anggota NATO rutin melakukan patroli guna memastikan kebebasan navigasi tetap terjaga.

Uni Emirat Arab dan Arab Saudi pun mempertahankan kesiapan militernya demi melindungi infrastruktur energi mereka.

Meski demikian, tingginya konsentrasi kekuatan militer justru meningkatkan risiko konflik terbuka. Iran telah berulang kali memperingatkan bahwa mereka dapat menutup Selat Hormuz jika menjadi sasaran aksi militer.

Jika hal tersebut benar terjadi, dunia berpotensi menghadapi krisis energi global karena negara-negara yang bergantung pada pasokan dari kawasan Teluk harus mencari jalur alternatif.

Berita Terbaru

6 Fakta Kasus Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

6 Fakta Kasus Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Headline20 menit lalu
Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Olahraga38 menit lalu
Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Headline57 menit lalu
Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Headline1 jam lalu
ADVERTISEMENT
6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

Lifestyle1 jam lalu
7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

Lifestyle2 jam lalu
Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Subang, Ada Berbagai Permainan Seru

Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Subang, Ada Berbagai Permainan Seru

Lifestyle3 jam lalu
Program Jabar Sakola Resmi Diluncurkan, Bantu Tekan Angka Putus Sekolah

Program Jabar Sakola Resmi Diluncurkan, Bantu Tekan Angka Putus Sekolah

Jawa Barat4 jam lalu
Darurat Kekerasan di Sekolah, DPP AGPAII Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk ke Dalam RUU Sisdiknas

Darurat Kekerasan di Sekolah, DPP AGPAII Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk ke Dalam RUU Sisdiknas

Headline4 jam lalu
Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

Nasional11 jam lalu