Jaga Ketahanan Pangan, Tim LTT BRMP Unggas Petakan 200 Titik Rawan Kekeringan di Purwakarta

PASUNDANEKSPRES.ID – Sekitar 200 titik yang berpotensi mengalami kekeringan di Kabupaten Purwakarta dipetakan sebagai langkah antisipasi untuk menjaga ketersediaan air bagi lahan pertanian. Pemetaan yang dipimpin Kepala Balai Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Unggas, Andi Saenab, bersama tim Luas Tambah Tanam (LTT) ini menjadi dasar untuk mengidentifikasi kebutuhan pengairan dan menentukan prioritas penanganan di lapangan.
Dalam proses pemetaan tersebut, Tim LTT juga melibatkan Dinas Pangan dan Pertanian Purwakarta, Penyuluh Pertanian Lapangan, Balai Besar Wilayah Sungai Citarum, serta perwakilan Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Purwakarta.
Pemetaan ini merupakan langkah antisipatif guna memastikan kebutuhan air lahan pertanian teridentifikasi sejak dini, sehingga penanganan dapat diprioritaskan dan produktivitas petani tetap terjaga. Upaya ini dilakukan untuk menjaga ketahanan pangan.
Salah satu lokasi yang menjadi perhatian ialah lahan sawah milik Kelompok Tani Cinta Mukti di Munjuljaya, Kecamatan Campaka, dengan luas sekitar 30 hektare.
Peninjauan dilakukan untuk mengetahui kondisi lahan sekaligus mengidentifikasi kebutuhan air yang diperlukan petani dalam menjaga keberlangsungan kegiatan pertanian.
Sebelumnya, Tim LTT telah berkoordinasi dengan Kepala Dispangtan Purwakarta, Hadyanto Purnama. Pertemuan tersebut membahas strategi penanganan potensi kekeringan sekaligus menentukan lokasi yang perlu ditinjau bersama.
Rombongan bergerak menuju kawasan Situ Cigangsa untuk melihat kondisi infrastruktur sumber daya air. Peninjauan kemudian dilanjutkan ke lahan sawah Poktan Cinta Mukti di Munjuljaya guna memperoleh gambaran langsung mengenai kondisi pertanian dan kebutuhan pasokan air di lapangan.
Pemetaan Wilayah Rawan Kekeringan
Dikonfirmasi terkait pemetaan tersebut, Hadyanto mengatakan bahwa pemetaan wilayah rawan kekeringan perlu disertai pemeriksaan kondisi aktual agar langkah penanganan dapat disesuaikan dengan kebutuhan petani.
“Penanganan kekeringan perlu dilakukan sejak dini melalui pemetaan wilayah rawan, pengecekan kondisi irigasi, serta koordinasi dengan instansi yang memiliki kewenangan di bidang sumber daya air. Dengan begitu, kebutuhan petani bisa diidentifikasi dan langkah penanganannya dapat lebih tepat sasaran,” kata Hadyanto, Senin (12/10/2026).
Terpisah, Ketua Kelompok Tani Cinta Mukti, Atim, menyampaikan bahwa petani membutuhkan dukungan infrastruktur untuk mengantisipasi kekurangan air, salah satunya melalui bantuan mesin pompa air.
"Dengan luas persawahan sekitar 30 hektare, keberadaan pompa air sangat penting untuk membantu memenuhi kebutuhan air tanaman ketika pasokan dari jaringan irigasi tidak mencukupi," ujar Atim.
Dukungan tersebut memberikan alternatif pengairan bagi petani sekaligus membantu menjaga kondisi tanaman agar tetap produktif. Kondisi sumber air dan jaringan irigasi juga menjadi faktor penting.
Pemetaan sekitar 200 titik rawan kekeringan menjadi dasar untuk mengidentifikasi wilayah yang memerlukan perhatian lebih awal. Melalui koordinasi lintas sektor, kebutuhan air petani dapat dipetakan bersamaan dengan pemeriksaan kondisi infrastruktur sumber daya air.
Keterlibatan seluruh stakeholder diharapkan memperkuat sinergi dalam mendukung pertanian. Setiap instansi dapat berkontribusi sesuai tugas dan kewenangannya, mulai dari pendampingan petani hingga peninjauan infrastruktur pengairan.
Langkah antisipasi ini penting untuk menjaga produktivitas sawah, mengingat ketersediaan air menjadi salah satu faktor utama dalam pertumbuhan tanaman dan keberhasilan panen.
Dengan mengetahui wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan sejak dini, upaya penanganan diharapkan dapat dilakukan secara lebih terarah. Kebutuhan sarana pengairan, optimalisasi jaringan irigasi, serta kondisi sumber air menjadi bagian yang perlu ditindaklanjuti berdasarkan hasil pemetaan dan pemeriksaan lapangan.
Melalui langkah kolaboratif tersebut, upaya menjaga lahan pertanian tetap produktif diharapkan semakin kuat. Mitigasi yang tepat sasaran juga menjadi bagian penting dalam mempertahankan produksi pertanian dan mendukung ketahanan pangan Kabupaten Purwakarta.(add/ysp)
