Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

PASUNDANEKSPRES.ID – Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera, Indonesia, berdampak hingga ke Singapura. Kualitas udara di negara kota tersebut memburuk dengan indeks polusi mencapai kategori tidak sehat, tepat ketika ajang balap mobil bergengsi Formula 1 (F1) Singapore Grand Prix 2026 digelar pada 9–11 Oktober 2026.
Situasi ini menjadi perhatian karena Singapura bersiap menyambut ribuan penggemar balap dari berbagai negara di kawasan Marina Bay Street Circuit. Di tengah berlangsungnya salah satu agenda olahraga terbesar di Asia Tenggara tersebut, kabut asap lintas batas berpotensi mengganggu kenyamanan dan kesehatan masyarakat.
Dikutip dari Channel News Asia (CNA), indeks standar polutan atau Pollutant Standards Index (PSI) di Singapura mencapai angka 152 pada Rabu (7/10/2026). Angka tersebut masuk kategori tidak sehat.
Kondisi serupa berlanjut pada Kamis (8/10/2026). PSI 24 jam di wilayah barat Singapura bahkan menyentuh angka 160 sekitar pukul 10.00 waktu setempat.
CNA melaporkan, PSI 24 jam telah memasuki kategori tidak sehat di seluruh wilayah Singapura sejak Rabu siang dan bertahan hingga Kamis pagi.
Pada pukul 13.00 waktu setempat, PSI 24 jam tercatat mencapai 154 di wilayah barat, 140 di wilayah tengah, 118 di wilayah timur, 108 di wilayah selatan, dan 109 di wilayah utara.
Selain itu, konsentrasi partikel halus PM2.5 dalam pengukuran satu jam juga meningkat di wilayah timur dan selatan. Kondisi tersebut kemudian meluas ke wilayah tengah dan barat.
Kabut Asap Lintas Negara, Titik Panas Tersebar di Sumatera dan Kalimantan
Badan Lingkungan Hidup Nasional Singapura atau National Environment Agency (NEA) menyatakan kabut asap lintas batas dengan intensitas sedang menyelimuti sebagian wilayah Singapura, Semenanjung Malaysia, Kalimantan, Sarawak, serta Sumatera bagian selatan dan tengah.
NEA juga mendeteksi kepulan asap dengan tingkat kepadatan sedang hingga pekat dari sejumlah kelompok titik panas atau hotspot di sebagian besar wilayah Kalimantan serta Sumatera bagian tengah dan selatan.
Meski titik panas terpantau tersebar di Sumatera dan Kalimantan, NEA menyebut jumlah titik panas yang teramati di wilayah lain di kawasan ASEAN bagian selatan relatif sedikit. Namun, pemantauan belum dapat menggambarkan keseluruhan situasi secara pasti akibat tebalnya kabut asap dan tutupan awan.
Kondisi cuaca turut menjadi faktor penting dalam perkembangan krisis tersebut. NEA memperkirakan cuaca kering masih akan berlangsung di sebagian besar wilayah ASEAN bagian selatan.
Sementara itu, hujan diprakirakan turun di wilayah utara Kalimantan serta sebagian Sumatera dan Semenanjung Malaysia.
Hujan berpotensi membantu mengurangi titik panas dan kabut asap. Sebaliknya, wilayah yang mengalami kekeringan berkepanjangan masih berisiko menghadapi peningkatan kebakaran dan kabut asap lintas batas.
Apa Arti PSI 160 bagi Warga dan Wisatawan?
Berdasarkan klasifikasi yang digunakan Singapura, PSI 24 jam pada rentang 101–200 masuk kategori tidak sehat. Adapun kategori sangat tidak sehat berada pada rentang 201–300, sedangkan angka di atas 300 dikategorikan berbahaya.
Artinya, PSI 160 yang tercatat di wilayah barat Singapura menunjukkan bahwa kualitas udara telah berada pada tingkat yang perlu diwaspadai, khususnya bagi kelompok rentan.
Paparan polusi udara dapat meningkatkan risiko gangguan pernapasan, terutama bagi anak-anak, lansia, serta orang yang memiliki penyakit pernapasan atau jantung.
Partikel PM2.5 menjadi salah satu perhatian karena ukurannya sangat kecil sehingga dapat masuk jauh ke dalam saluran pernapasan.
Dalam pengukuran PM2.5 per jam, konsentrasi 56–150 dikategorikan meningkat, 151–250 masuk kategori tinggi, dan angka di atas 250 dikategorikan sangat tinggi.
Kondisi tersebut membuat pemantauan kualitas udara menjadi penting bagi masyarakat maupun wisatawan yang beraktivitas di luar ruangan selama akhir pekan balapan.
F1 Singapore Grand Prix 2026 Tetap Berlangsung?
Di tengah memburuknya kualitas udara, penyelenggaraan F1 Singapore Grand Prix 2026 turut menjadi sorotan.
Juru bicara Singapore GP Pte Ltd menyatakan pihaknya akan bekerja sama dengan lembaga terkait apabila kabut asap menimbulkan persoalan terhadap jarak pandang, kesehatan masyarakat, atau operasional sirkuit.
Penyelenggara menyebut keputusan mengenai kemungkinan langkah lanjutan akan dibuat secara kolektif setelah mempertimbangkan hasil penilaian situasi.
Meski demikian, pihak penyelenggara menyatakan kondisi saat itu belum berada pada tingkat yang mengkhawatirkan.
Dengan demikian, persoalan kabut asap menjadi faktor yang perlu terus dipantau selama rangkaian balapan berlangsung. Keputusan terkait penyelenggaraan acara akan bergantung pada perkembangan kondisi dan penilaian otoritas terkait.
Krisis Kabut Asap Kembali Mengingatkan pada 2015
Persoalan kabut asap lintas batas bukan kali pertama terjadi di kawasan Asia Tenggara.
Berdasarkan data platform pemantauan kebakaran Kementerian Kehutanan Indonesia, SiPongi, jumlah titik panas pada September 2026 disebut menjadi yang tertinggi sejak krisis kabut asap regional pada 2015.
Krisis pada 2015 tersebut sempat menimbulkan gangguan luas di sejumlah negara dan memicu ketegangan diplomatik di kawasan.
Sementara itu, kelompok advokasi lingkungan Greenpeace mengidentifikasi lebih dari 20 perusahaan di sektor kelapa sawit, pulp, dan gula yang konsesi lahannya dilaporkan mengandung titik sumber asap kebakaran. Sejumlah perusahaan juga disebut memiliki indikasi keterkaitan dengan Malaysia dan Singapura.
Temuan tersebut menambah perhatian terhadap persoalan pengelolaan lahan, pencegahan kebakaran, serta tanggung jawab berbagai pihak dalam mengatasi kabut asap.
Dampak polusi udara juga telah dirasakan dalam kegiatan olahraga di negara tetangga. Pekan sebelumnya, penyelenggara Kuala Lumpur Standard Chartered Marathon membatalkan perlombaan kategori anak-anak karena pertimbangan kesehatan. Sementara itu, kategori maraton penuh dan setengah maraton tetap dilanjutkan.
Perkembangan ini menunjukkan bahwa kabut asap tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat memengaruhi aktivitas masyarakat, kesehatan publik, pariwisata, dan penyelenggaraan acara olahraga internasional.
Di tengah berlangsungnya F1 Singapore Grand Prix 2026, perkembangan kualitas udara di Singapura dan kondisi kebakaran hutan serta lahan di Indonesia menjadi perhatian penting bagi kawasan Asia Tenggara.
