KALEIDOSKOP BANDUNG BARAT: Dari Pergantian Kepala Daerah Hingga Persoalan Sektor Kesehatan di Tahun 2025

PASUNDANEKSPRES.ID - Tahun 2025 akan berakhir. Ada berbagai peristiwa yang cukup menyita perhatian publik. Dari pergantian kepemimpinan daerah hingga persoalan serius di sektor kesehatan, sejumlah peristiwa menonjol menjadi catatan penting perjalanan Bandung Barat sepanjang tahun ini.
Jeje Govinda Resmi Jadi Bupati, Kepemimpinan Baru Dimulai
Awal 2025 ditandai dengan dilantiknya Drummer Govinda, Jeje Ritchie Ismail atau Jeje Govinda, sebagai Bupati Bandung Barat. Jeje dilantik langsung oleh Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, di Jakarta pada Kamis (20/2/2025), bersama Wakil Bupati Asep Ismail.
Pelantikan tersebut menjadi sorotan publik karena Jeje merupakan figur publik yang sukses menapaki dunia politik. Meski resmi menjabat sebagai orang nomor satu di KBB, Jeje belum langsung aktif bekerja di daerah karena harus mengikuti retret kepala daerah di Akademi Militer (Akmil) Magelang hingga akhir Februari 2025.
Jeje menyatakan kesiapan mengikuti pembekalan tersebut sebagai bagian dari tanggung jawab kepala daerah. Ia baru mulai aktif menjalankan tugas di Bandung Barat setelah seluruh rangkaian pelantikan dan retret rampung, bertepatan dengan awal bulan puasa. Kepemimpinan Jeje pun menjadi simbol harapan baru masyarakat Bandung Barat terhadap arah pembangunan daerah ke depan.
Keracunan Massal MBG, Program Nasional Jadi Sorotan
Di sisi lain, Bandung Barat juga dihadapkan pada persoalan serius di sektor kesehatan. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang bertujuan meningkatkan gizi pelajar justru memicu kasus keracunan massal. Sepanjang 2025, tercatat lebih dari 2.000 siswa di KBB menjadi korban setelah menyantap makanan dari program tersebut.
Hasil investigasi Badan Gizi Nasional (BGN) dan Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Barat menyebutkan bahwa penyebab utama keracunan berasal dari kualitas air yang digunakan dalam proses memasak. Selain itu, Dinkes juga menemukan kandungan nitrit pada beberapa menu MBG.
Kasus keracunan ini terjadi di sejumlah wilayah, mulai dari SMP Negeri 1 Cisarua, SDN 2 Cibodas, SDN Buahbatu, SMPN 4 Lembang, SMK PNC, hingga Cipongkor, dengan ratusan siswa terdampak di setiap kejadian. Peristiwa tersebut memicu keprihatinan luas dan mendorong evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan MBG di Bandung Barat.
Evaluasi dan Pengetatan Standar Kesehatan
Menindaklanjuti kejadian tersebut, Dinas Kesehatan Bandung Barat mendorong pengelola Sarana Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk meningkatkan standar sanitasi dan keamanan pangan. Pengelola diminta berinvestasi pada perbaikan kualitas air, termasuk pemasangan filter dan penggunaan tangki air yang memenuhi standar.
Selain itu, percepatan penerbitan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), inspeksi kesehatan lingkungan, serta kewajiban sertifikasi bagi penjamah makanan menjadi langkah penting untuk mencegah kejadian serupa terulang.(red)
