Kebijakan Prabowo Jadi Angin Segar Industri Genting Lokal, Perajin Plered Purwakarta Tunggu Janji Program Gentengisasi

PASUNDANEKSPRES.ID - Program gentengisasi yang disampaikan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto disambut optimis para pengusaha genteng tanah liat di Kecamatan Plered, Kabupaten Purwakarta.
Kebijakan tersebut menjadi angin segar di tengah keterpurukan industri genteng tradisional yang kian tergerus persaingan material atap modern seperti baja ringan, genteng metal, dan beton.
Seperti diketahui, industri genteng tanah liat di Plered mengalami penurunan drastis sejak beberapa tahun terakhir. Dari ratusan unit usaha yang pernah ada, kini hanya tersisa sekitar 20 industri yang masih berproduksi.
Kondisi itu membuat para perajin berharap besar agar program gentengisasi benar-benar direalisasikan hingga ke tingkat daerah.
Salah satu pengusaha genteng tanah liat Plered, Diki Zulkifli Permana, mengaku optimis dengan pernyataan Presiden Prabowo. Ia berharap kebijakan tersebut tidak hanya wacana, namun ditindaklanjuti secara berjenjang oleh pemerintah pusat hingga daerah.
"Harapannya pernyataan Presiden soal gentengisasi ini benar-benar direalisasikan. Industri genteng tanah liat di sini sudah sangat terpuruk. Dari ratusan industri, sekarang hanya tinggal sekitar 20 yang masih bertahan," kata Diki kepada wartawan, Senin (9/2/2026).
Menurutnya, genteng tanah liat kalah bersaing bukan dari sisi kualitas, melainkan tren dan persepsi pasar. Padahal, secara fungsi, genteng tanah liat memiliki keunggulan karena mampu menjaga suhu rumah tetap sejuk.
"Sekarang kalah sama baja ringan, genteng metal, dan beton. Padahal dari segi fungsi, genteng tanah liat itu adem dan dingin. Mudah-mudahan kebijakan Presiden ini turun sampai gubernur, bupati, camat, hingga desa, supaya UMKM genteng bisa bangkit seperti dulu," ujarnya.
Dukungan juga datang dari UPTD Pengembangan Sentra Keramik Plered DKUPP Kabupaten Purwakarta. Kepala UPTD, Mumun Maemunah, menyatakan pihaknya mendukung penuh gagasan Presiden Prabowo terkait kebangkitan industri genteng tradisional melalui gerakan nasional penggantian atap seng menjadi genteng.
"Kami sangat mendukung gagasan Pak Presiden. Ini bisa menjadi momentum kebangkitan industri genteng tradisional, khususnya genteng tanah liat di Plered Purwakarta," kata Mumun.
Ia mengatakan, menurunnya minat pasar akibat persaingan dengan material atap modern membuat banyak pengrajin berhenti beraktivitas. Padahal, Kecamatan Plered, khususnya Desa Citeko, sejak puluhan tahun lalu dikenal sebagai sentra genteng tanah liat terbesar di Purwakarta.
"Jumlah pengrajin sangat menurun karena kalah bersaing dengan genteng baja dan metal. Mudah-mudahan dengan adanya kebijakan dari Presiden, pengrajin yang sempat berhenti bisa kembali berproduksi dan memanfaatkan potensi desa," ucapnya.
Terpisah, Kepala Dinas Koperasi Usaha Kecil Menengah Perdagangan dan Perindustrian (DKUPP) Purwakarta, Hariman Budi Anggoro, menyatakan dukungan penuh terhadap program gentengisasi.
Ia menilai program tersebut menjadi angin segar bagi industri genting lokal. Terlebih, Kabupaten Purwakarta dikenal sebagai salah satu produsen genting terbesar di Jawa Barat dengan jumlah 92 perajin genting, setara dengan Jatiwangi, Majalengka.
Hariman mengakui bahwa industri ini sempat mengalami penurunan omzet akibat maraknya penggunaan genteng metal. Akan tetapi, dengan program Presiden Prabowo, diharapkan semua konstruksi di Jawa Barat akan kembali menggunakan genteng berbahan baku tanah, memberikan keuntungan besar bagi para perajin.
"Apabila semua konstruksi yang ada di Jawa Barat menggunakan genteng berbahan baku tanah, maka, akan banyak keuntungan untuk perajin," kata Hariman kepada wartawan, di Kantor DKUPP Purwakarta.
Pihaknya pun telah menyiapkan serangkaian langkah strategis untuk menghidupkan kembali industri genteng. Di antaranya, memberikan pembinaan dan pendampingan kepada 92 perajin genteng agar dapat memproduksi secara besar-besaran.
"Bagi pengusaha yang sempat tumbang atau menjual asetnya, pemerintah juga akan menginventarisir dan memberikan pembinaan khusus untuk mendorong mereka kembali berproduksi," ujarnya.
Lebih lanjut ia mengatakan, DKUPP akan membantu masalah infrastruktur, seperti tempat pembakaran. Untuk alat-alat kecil, bantuan akan diupayakan melalui program CSR dari perusahaan-perusahaan di Purwakarta.
Saat ini, lanjut dia, DKUPP juga sedang mendata jumlah total perajin genteng. Perajin yang sudah aktif akan dipantau, sementara yang belum akan didorong untuk berproduksi.
"Apabila program ini cepat terealisasi, kami sudah siap untuk menerima order yang banyak ini. Pemerintah daerah juga akan membantu pemasaran baik secara offline maupun online," ucap Hariman.
Tak sampai di situ, DKUPP sedang menyiapkan Litbang Keramik sebagai pusat display contoh-contoh genting hasil produksi, sekaligus mendorong pemasaran melalui platform online.
Untuk mengatasi masalah insentif dan bantuan, DKUPP akan bermitra dengan BUMN dan perbankan untuk membantu pembiayaan, terutama jika produksi meningkat. Mereka juga akan membantu inisiatif bagi para pengrajin.
Hariman menyoroti ketersediaan bahan baku yang sangat berlimpah di Kecamatan Plered, yang menjadi peluang besar bagi perajin genting di Purwakarta.
Mengatasi tantangan cuaca, DKUPP akan mengkolaborasikan perajin yang tidak memiliki oven dengan "Lio" (tempat produksi genting) yang memiliki fasilitas oven.
Oven ini, kata dia, dapat digunakan bersama oleh beberapa pengusaha, mengingat cuaca sangat berpengaruh terhadap proses pengeringan.
"Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah dan potensi pasar yang terbuka lebar, industri genting di Purwakarta diharapkan dapat kembali berjaya, memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal dan kesejahteraan para pengrajin," kata Hariman.(add/ysp)
