Mahasiswa KKNT IPB Dorong Kemandirian Pangan Keluarga melalui Budidaya Microgreens

KARAWANG - Keterbatasan lahan bukan lagi menjadi alasan bagi masyarakat untuk tidak dapat menanam sayuran sendiri. Melalui program NUTRIMINI (Nutrisi Mini Keluarga Mandiri), mahasiswa Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) IPB University mengajak masyarakat Desa Kertajaya mengenal sekaligus mempraktikkan budidaya microgreens sebagai alternatif pangan segar yang dapat ditanam di rumah.
Kegiatan yang menyasar ibu-ibu rumah tangga dan kader PKK yang dinilai memiliki peran penting dalam pemenuhan gizi keluarga.
Program NUTRIMINI tidak hanya dirancang untuk mengenalkan microgreens sebagai sumber pangan, tetapi juga mendorong pemanfaatan lahan terbatas serta membuka peluang usaha sederhana berbasis rumah tangga.
Microgreens merupakan tanaman sayuran yang dipanen pada usia muda, umumnya sekitar 7–14 hari setelah disemai. Meskipun berukuran kecil, tanaman ini dapat menjadi bagian dari pola konsumsi sayuran yang beragam serta memiliki kandungan zat gizi dan senyawa bioaktif yang menarik.
Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan edukasi mengenai pengenalan microgreens, manfaatnya sebagai bagian dari pangan sehat keluarga, serta potensi nilai ekonominya. Sejumlah jenis tanaman yang relatif cepat tumbuh juga diperkenalkan kepada peserta, di antaranya sawi, bayam, dan kangkung.
Selain untuk memenuhi kebutuhan konsumsi keluarga, microgreens dinilai memiliki potensi untuk dikembangkan sebagai peluang usaha skala rumah tangga. Proses budidayanya yang tidak membutuhkan lahan luas memungkinkan masyarakat memanfaatkan area sederhana seperti pekarangan, teras, bahkan dapur untuk menghasilkan sayuran segar.
Usai mendapatkan edukasi, peserta kemudian mengikuti workshop budidaya microgreens. Dalam kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh penjelasan secara teori, tetapi juga terlibat langsung dalam setiap tahapan penanaman.
Dengan menggunakan alat dan bahan sederhana, peserta mempraktikkan cara meratakan media tanam pada wadah, membasahi media, hingga menaburkan benih secara merata. Wadah plastik bekas juga dapat dimanfaatkan sebagai media tanam sehingga kegiatan tersebut sekaligus mengenalkan konsep upcycling atau pemanfaatan kembali barang yang masih layak digunakan.
Proses budidaya dilanjutkan dengan tahap inkubasi. Wadah yang telah berisi benih ditutup selama beberapa hari hingga benih mulai berkecambah. Setelah itu, tanaman ditempatkan di area dengan pencahayaan yang sesuai dan dirawat dengan menjaga kelembapan media secara rutin.
Peserta juga mendapatkan panduan mengenai perawatan hingga waktu panen. Microgreens umumnya dapat dipanen sekitar 7–14 hari setelah penyemaian, tergantung jenis tanaman dan kondisi pertumbuhannya. Proses panen dilakukan menggunakan gunting yang bersih untuk menjaga kebersihan hasil tanaman.
Melalui program NUTRIMINI, masyarakat Desa Kertajaya diperkenalkan pada konsep pemenuhan pangan keluarga dapat dimulai dari langkah sederhana di lingkungan rumah. Dengan kebutuhan lahan yang relatif kecil, budidaya microgreens dapat menjadi salah satu alternatif kegiatan produktif yang mudah dipelajari dan dikembangkan.
Hasil panen dapat dimanfaatkan sebagai tambahan sayuran dalam menu keluarga, seperti campuran salad maupun pelengkap berbagai hidangan. Dengan demikian, kegiatan menanam tidak berhenti pada proses budidaya, tetapi juga dapat menjadi bagian dari kebiasaan mengonsumsi pangan yang lebih beragam.
Di sisi lain, keterampilan yang diperoleh masyarakat juga membuka peluang untuk mengembangkan microgreens sebagai produk bernilai ekonomi. Jika dilakukan secara konsisten dengan memperhatikan kualitas, kebersihan, pengemasan, serta kebutuhan pasar, microgreens berpotensi menjadi salah satu pilihan usaha rumahan.
Program NUTRIMINI diharapkan dapat memberikan manfaat berkelanjutan bagi masyarakat Desa Kertajaya. Selain meningkatkan pengetahuan dan keterampilan dalam bercocok tanam, program ini mendorong masyarakat untuk lebih kreatif dalam memanfaatkan ruang yang tersedia serta barang bekas di sekitar rumah.
“Program NUTRIMINI kami hadirkan sebagai solusi praktis bagi masyarakat yang ingin memproduksi sayuran segar sendiri tanpa terhalang lahan yang sempit. Kami berharap edukasi dan workshop ini tidak berhenti di acara saja, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan baru di setiap rumah tangga Desa Kertajaya untuk mendukung ketahanan gizi keluarga,” ujar tim pelaksana kegiatan.
Lebih dari sekadar kegiatan menanam, NUTRIMINI menjadi langkah sederhana untuk membangun kemandirian pangan keluarga, meningkatkan kepedulian terhadap konsumsi pangan sehat, sekaligus membuka peluang pemanfaatan microgreens sebagai komoditas usaha rumah tangga.
Melalui tangan masyarakat sendiri, ruang kecil di rumah dapat diubah menjadi sumber pangan segar. Dari benih yang sederhana, tumbuh kebiasaan sehat, keterampilan baru, serta peluang menuju keluarga yang lebih mandiri.(znl/ysp)
