Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Menjahit Asa dari Benang, 26 Tahun Perjalanan Perajin Tas di Sukamelang Kasomalang Subang

H
Hadi MartadinataEditor: Indrawan Setiadi
|09:11 WIB
Bagikan:
Menjahit Asa dari Benang, 26 Tahun Perjalanan Perajin Tas di Sukamelang Kasomalang Subang
KONSISTEN: Perajin tas Rofi'i di Desa Sukamelang Kecamatan Kasomalang yang masih konsisten menghasilkan produk. HADI MARTADINATA/PASUNDAN EKSPRES

PASUNDANEKSPRES.ID - Di sebuah sudut tenang Desa Sukamelang Kecamatan Kasomalang, aroma benang dan kain seolah menyatu dengan denyut kehidupan seorang perajin tas yang telah mengabdikan lebih dari dua dekade hidupnya pada kerajinan tangan.

Kampung Sukamelang RT 05/RW 02,desa Sukamelang di sanalah Rofi'i menghabiskan sebagian besar hidupnya merajut benang menjadi harapan, dan kain menjadi cerita.

Selama 26 tahun, ia bertahan dalam sunyi, merajut asa dari helai demi helai benang, menjadikannya tas yang tak hanya bernilai guna, tetapi juga sarat cerita.

Perjalanan itu dimulai pada tahun 2000, saat ia masih seorang bujangan dengan semangat belajar yang tinggi. Ketertarikannya pada dunia kerajinan tas bukan datang tiba-tiba. Ia terinspirasi dari sang kakak yang lebih dulu menekuni profesi serupa. Dari situlah, benih kecintaan terhadap dunia kerajinan tumbuh dan perlahan menjadi jalan hidup yang ia pilih hingga hari ini.

Di awal perjalanannya, ia hanya bermodalkan kemauan dan ketekunan. Tanpa pendidikan formal khusus di bidang kerajinan, ia belajar secara otodidak—mengamati, mencoba, gagal, lalu bangkit kembali. Setiap jahitan yang ia buat menjadi pelajaran berharga, hingga akhirnya ia mampu menghasilkan tas dengan kualitas yang tak kalah dari produk pabrikan.

Kini, setelah lebih dari seperempat abad berlalu, ia masih setia menekuni profesinya. Namun, ada yang berubah. Jika dulu ia dikelilingi banyak rekan kerja, kini ia hanya ditemani sang istri dalam menjalankan usaha kecilnya. Di rumah sederhana mereka, suara mesin jahit menjadi saksi bisu perjuangan sepasang suami istri yang terus bertahan di tengah berbagai keterbatasan.

Meski dikerjakan secara sederhana, tas-tas hasil buatannya memiliki kualitas yang patut diacungi jempol. Setiap produk dibuat dengan ketelitian tinggi, mulai dari pemilihan bahan hingga proses finishing. Tak heran jika hasil karyanya diminati oleh berbagai kalangan.

Harga tas yang ia tawarkan pun cukup beragam, mulai dari Rp25 ribu hingga Rp200 ribu, tergantung pada model dan tingkat kesulitan pembuatan. Dengan harga tersebut, konsumen sudah bisa mendapatkan produk yang kuat, rapi, dan tahan lama.

Namun di balik kualitas yang terjaga, ada tantangan besar yang terus menghantui. Salah satunya adalah keterbatasan modal. Tak jarang, ia harus menolak pesanan dalam jumlah besar karena tidak mampu memenuhi kebutuhan bahan baku dan produksi dalam waktu singkat.

“Sering ada pesanan banyak, tapi terpaksa saya tolak. Bukan tidak mau menerima, tapi kemampuan dan modal kami terbatas,”

Keputusan untuk menolak pesanan tentu bukan hal mudah. Di satu sisi, peluang untuk meningkatkan penghasilan terbuka lebar. Namun di sisi lain, ia harus realistis dengan kondisi yang ada agar tidak mengecewakan pelanggan.

Meski demikian, ia tidak pernah kehilangan semangat. Baginya, menjaga kualitas dan kepercayaan pelanggan jauh lebih penting daripada sekadar mengejar kuantitas. Prinsip itulah yang membuatnya tetap bertahan hingga saat ini.

Dalam kesehariannya, ia dan sang istri membagi peran dengan sederhana namun penuh kekompakan. Ia fokus pada proses produksi utama, sementara istrinya membantu dalam tahap penyelesaian dan pemasaran. Kebersamaan mereka menjadi kekuatan utama dalam menghadapi berbagai tantangan usaha.

Di tengah gempuran produk pabrikan dan barang impor yang lebih murah, ia tetap percaya bahwa produk lokal memiliki tempat tersendiri di hati masyarakat. Apalagi jika dibuat dengan ketulusan dan kualitas yang terjaga.

Desa Sukamelang sendiri sebenarnya memiliki potensi besar dalam pengembangan kerajinan. Namun, tanpa dukungan yang memadai, para pengrajin seperti dirinya harus berjuang sendiri untuk bertahan. Ia berharap suatu saat ada perhatian lebih dari pemerintah maupun pihak terkait, terutama dalam hal permodalan dan pemasaran.

“Kalau ada bantuan modal atau pelatihan, mungkin kami bisa berkembang lebih jauh. Tidak hanya berdua, tapi bisa membuka lapangan kerja juga untuk warga sekitar,” harapnya.

Selain modal, ia juga menghadapi keterbatasan tempat produksi. Ruang kerja yang sempit membuat proses produksi tidak bisa dilakukan secara maksimal. Ia menyadari, jika fasilitas lebih memadai, peluang untuk berkembang sebenarnya terbuka lebar.

Menariknya, hasil karyanya juga pernah masuk ke pasar yang lebih luas melalui penampung di Bandung, yang kemudian mendistribusikannya ke luar, termasuk untuk kebutuhan ekspor.

Lebih dari sekadar mencari nafkah, usaha yang ia jalankan juga menjadi bagian dari identitas dan kebanggaan diri. Setiap tas yang ia hasilkan bukan hanya produk, tetapi juga representasi dari perjalanan panjang, kerja keras, dan ketekunan.

Kini, di usianya yang tak lagi muda, ia tetap setia duduk di depan mesin jahitnya. Tangannya yang terampil terus bergerak, seolah tak lelah menenun harapan demi harapan. Di balik kesederhanaannya, tersimpan kekuatan besar tentang bagaimana seseorang bisa bertahan, berkarya, dan memberi arti, meski dalam keterbatasan.(hdi/ysp)

Berita Terbaru

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Headline6 jam lalu
Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Lifestyle7 jam lalu
Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Subang8 jam lalu
Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Nasional9 jam lalu
ADVERTISEMENT
Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Nasional10 jam lalu
Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Lifestyle11 jam lalu
Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Nasional12 jam lalu
Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Headline13 jam lalu
Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Headline14 jam lalu
3 Tempat Wisata Akhir Pekan untuk Pekerja di Subang, Cocok Buat Healing Setelah Sibuk Kerja

3 Tempat Wisata Akhir Pekan untuk Pekerja di Subang, Cocok Buat Healing Setelah Sibuk Kerja

Lifestyle15 jam lalu