Menunggu Ayah Pulang

PASUNDANEKSPRES.ID - Di sudut ruang sidang Pengadilan Negeri Subang, seorang perempuan berusaha tegar menyaksikan jalannya sidang praperadilan yang diajukan suaminya, Muhammad Harun alis Harun.
Namun sesekali, matanya tampak berkaca-kaca. Di sampingnya, anak-anak yang masih kecil duduk menunggu tanpa benar-benar memahami rumitnya proses hukum yang sedang dihadapi sang ayah.
Bagi mereka, yang terpenting hanya satu: kapan ayah pulang ke rumah?
Sudah tiga bulan Muhammad Harun, seorang jurnalis media Triberita.com, menjalani penahanan terkait kasus dugaan tindak pidana pemerasan dan pengancaman yang ditangani Polres Subang. Di tengah proses hukum yang masih berjalan, keluarga yang ditinggalkan harus berjuang menjalani kehidupan sehari-hari.
Nety Ibrahim istri Harun mengaku tidak mudah menjalani hari-hari tanpa kehadiran suaminya. Selain harus menjadi ibu bagi anak-anaknya, ia kini juga menjadi tulang punggung keluarga.
"Suami saya sudah terlalu lama ditahan, Pak. Anak-anak masih kecil, mereka butuh ayahnya. Sudah hampir tiga bulan ditinggalkan ayahnya," ucapnya dengan suara bergetar di kantor Hukum Asep Rohman Dimyati pada Selasa (23/6/2026).
Kalimat itu terhenti sejenak. Air mata yang sedari tadi ditahan akhirnya jatuh membasahi pipinya.
Menurutnya, yang paling berat bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan saat harus menjawab pertanyaan anak-anak yang terus menanyakan keberadaan ayah mereka.
"Anak-anak selalu bertanya, kapan ayah pulang? Saya bingung harus menjawab apa," katanya sembari menangis.
Di rumah sederhana yang kini ia tempati bersama anak-anaknya, kehidupan harus terus berjalan. Tagihan kebutuhan sehari-hari tidak pernah menunggu. Beras harus tersedia, uang sekolah harus dibayar, dan anak-anak tetap harus berangkat belajar seperti biasa.
Untuk bertahan hidup, perempuan itu memilih bekerja apa saja yang bisa dilakukan.
Setiap hari, ia mengantar dan menjemput anak-anak sekolah milik tetangga dengan sepeda motor. Upahnya memang tidak besar dan biasanya baru diterima setiap pekan. Selain itu, ia juga mencoba menambah penghasilan dengan berjualan di warung kecil-kecilan di rumah.
Dari usaha sederhana itulah ia berusaha memenuhi kebutuhan keluarga.
"Tiap hari saya antar jemput anak-anak sekolah. Dibayarnya perminggu. Selain itu saya jualan warung kecil-kecilan untuk kebutuhan sehari-hari," tuturnya.
Meski penghasilannya terbatas, ia mengaku tetap berusaha kuat demi masa depan anak-anaknya.
Pada sidang praperadilan ketiga yang digelar di Pengadilan Negeri Kelas IA Subang, ia sengaja datang bersama anak-anaknya. Kehadiran mereka bukan sekadar untuk mengikuti jalannya persidangan, tetapi juga sebagai bentuk harapan agar ada perkembangan yang membawa kabar baik bagi keluarga.
Di ruang sidang, anak-anak sesekali memandang ke arah pintu masuk. Mereka tampak menunggu seseorang yang selama ini hanya bisa mereka lihat dalam kunjungan terbatas dan cerita-cerita yang disampaikan sang ibu.
Bagi mereka, ayah bukan sekadar sosok pencari nafkah. Ayah adalah teman bermain, tempat bercerita, dan pelindung keluarga.
"Saya mohon segera beri keadilan untuk suami saya. Anak-anak masih kecil dan masih membutuhkan ayahnya," ucap sang istri.
Sementara itu, proses hukum terhadap Muhammad Harun masih terus berjalan. Harun, yang berprofesi sebagai jurnalis media Triberita.com, saat ini menjalani penahanan setelah ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan pemerasan dan pengancaman.
Pihak Polres Subang sebelumnya menyatakan bahwa perkara yang menjerat Harun merupakan tindak pidana murni berupa dugaan pemerasan dan pengancaman yang proses penanganannya dilakukan berdasarkan ketentuan hukum yang berlaku.
Di sisi lain, tim kuasa hukum Harun menempuh jalur praperadilan untuk menguji sejumlah tindakan hukum yang dilakukan penyidik dalam proses penanganan perkara tersebut.
Di tengah perdebatan hukum yang berlangsung di ruang sidang, ada kisah lain yang berjalan diam-diam di luar gedung pengadilan. Kisah seorang ibu yang berjuang sendiri membesarkan anak-anaknya, dan anak-anak yang setiap malam masih berharap mendengar suara ayah mereka kembali di rumah.
Bagi keluarga Harun, sidang demi sidang bukan hanya soal dokumen hukum, argumentasi para pengacara, atau pasal-pasal yang diperdebatkan. Sidang itu adalah harapan.
Harapan agar suatu hari nanti, pertanyaan sederhana dari anak-anak mereka dapat terjawab. "Kapan ayah pulang?".(hdi/ysp)
