Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Plastik Naik, UMKM Menjerit: Dari Minuman hingga Tempe Kena Imbas

I
Ijang Samsu RijalEditor: Yusup Suparman
|08:10 WIB
Bagikan:
Plastik Naik, UMKM Menjerit: Dari Minuman hingga Tempe Kena Imbas

PASUNDANEKSPRES.ID - Lonjakan harga plastik pada April 2026 menunjukkan satu hal. Krisis global tidak lagi jauh namun kini ia hadir di etalase warung kecil. Konflik di Timur Tengah, terutama antara Israel dan Iran, menjadi pemicu terganggunya rantai pasok bahan baku berbasis minyak bumi.

Bagi industri plastik, situasi ini langsung diterjemahkan menjadi kenaikan harga. Dan seperti biasa, gelombang pertama tidak menghantam korporasi besar melainkan pelaku usaha kecil.

Di Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, kenaikan harga plastik bukan lagi sekadar angka di tingkat distributor. Ia telah berubah menjadi tekanan harian bagi pedagang.

Salsa (26), penjual minuman segar, tidak punya banyak pilihan. “Semua naik. Cup, sedotan, plastik pembungkus. Nggak ada yang tetap,” katanya.

Kenaikan itu memaksanya menaikkan harga jual dari Rp10.000 menjadi Rp12.000 per porsi. Keputusan yang sederhana di atas kertas, tetapi berisiko di lapangan: kehilangan pelanggan.

Di sisi lain, tidak menaikkan harga berarti menanggung margin yang terus tergerus.

Data dari pedagang grosir menunjukkan adanya tren kenaikan harga yang cukup merata pada berbagai jenis produk berbahan plastik. Kenaikan ini terlihat hampir di seluruh lini, mulai dari plastik kiloan jenis PE/PP yang kini berada di kisaran Rp19.000 hingga Rp22.000 per kilogram.

Plastik kresek juga mengalami peningkatan harga dengan rentang Rp15.000 sampai Rp25.000 per pak, sementara plastik bening berukuran besar melonjak lebih tinggi, yaitu antara Rp20.000 hingga Rp59.000 per pack.

Selain itu, harga tali rafia turut mengalami kenaikan menjadi Rp23.000 hingga Rp25.000 per kilogram. Plastik roll PP menunjukkan variasi harga yang cukup lebar, mulai dari Rp14.000 hingga mencapai Rp112.000, tergantung ukuran dan kualitasnya. Produk lainnya seperti gelas plastik kini dijual dengan harga Rp23.000 hingga Rp55.000, sedangkan styrofoam berada pada kisaran Rp35.000 sampai Rp55.000.

Kenaikan yang tampak kecil per item ini, dalam praktiknya, menggerus biaya operasional harian secara konsisten.

Hermansyah (46), pedagang plastik, melihat efek kenaikan tersebut berdampak lebih luas dan sulit dihentikan. “Hampir semua usaha pakai plastik. Begitu naik, harga makanan dan minuman pasti ikut naik,” ujarnya.

Artinya, kenaikan ini bukan hanya soal plastik tetapi pintu masuk bagi inflasi skala mikro yang perlahan menyebar.

Yang menjadi persoalan, pelaku usaha kecil berada di posisi paling rentan. Mereka tidak memiliki daya tawar terhadap distributor, tidak punya cadangan stok besar, dan tidak bisa serta-merta beralih ke alternatif kemasan.

Pilihan seperti kemasan ramah lingkungan memang ada, tetapi bagi banyak UMKM, opsi tersebut masih lebih mahal dan tidak praktis dalam jangka pendek.

Sementara itu, intervensi kebijakan belum terasa di lapangan. Tanpa langkah konkret baik melalui stabilisasi distribusi maupun akses bahan baku yang lebih terjangkau beban akan terus bergeser ke bawah: dari distributor ke pedagang, lalu ke konsumen.

Dalam jangka pendek, konsumen mungkin hanya merasakan kenaikan harga Rp2.000 per produk. Namun dalam skala luas, akumulasi kenaikan ini berpotensi menekan daya beli, terutama setelah periode Lebaran ketika konsumsi cenderung melemah.

Fenomena ini menegaskan rantai pasok global tidak pernah benar-benar jauh. Ketika ia terganggu, dampaknya tidak berhenti di pelabuhan atau pabrik tetapi berakhir di tangan pembeli terakhir, di warung kecil, di pinggir jalan.

Perajin Tempe Terpaksa Kurangi Berat dan Ukuran

Sementara itu, para perajin tempe di Kabupaten Purwakarta semakin terbebani dengan lonjakan harga bahan baku dan perlengkapan produksi.

Hal ini seperti yang disampaikan Sujoyo (55), perajin tempe di Jalan Kampung Lodaya, Kelurahan Nagri Kidul, Kecamatan Purwakarta, Kamis (9/4/2026).

Sujoyo mengaku harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan tanpa mengalami kerugian.

"Kendalanya banyak sekali. Harga plastik pembungkus naik drastis, dari kisaran Rp33 ribu sampai Rp34 ribu sekarang jadi Rp55 ribu," katanya.

Tak hanya itu, sambungnya, harga kedelai juga naik dari sekitar Rp9.000-an sekarang harganya nyaris Rp11.000 per kilogram

Kondisi ini memaksa Sujoyo dan perajin lainnya mengambil langkah yang tak biasa. Alih-alih menaikkan harga jual, mereka memilih untuk mengurangi ukuran dan berat tempe.

"Kalau harga dinaikkan, warung dan masyarakat juga keberatan. Jadi kami siasati dengan mengurangi ukuran. Misalnya yang tadinya 4 ons, sekarang jadi 3,5 ons. Timbangan juga dikurangi sedikit supaya tidak rugi," ujarnya.

Langkah tersebut, kata dia, terpaksa dilakukan agar usaha tetap berjalan, sekaligus memenuhi kebutuhan sehari-hari serta membayar upah karyawan.

Dengan segala upaya dan siasatnya itu, Sujoyo mengaku bahwa pendapatannya tetap saja menurun.

"Keuntungan kami memang tidak besar, yang penting cukup untuk keluarga dan karyawan. Tapi tetap saja sekarang terasa berat," ucapnya.

Sujoyo mengaku tidak mengetahui secara pasti penyebab kenaikan harga yang terjadi belakangan ini. Akan tetapi, ia berharap pemerintah lebih memperhatikan pelaku usaha kecil seperti perajin tempe dan tahu yang kini mulai “menjerit”.

"Jangan sampai masyarakat kecil ini terjepit. Kami berharap ada perhatian dari pemerintah, terutama soal harga bahan baku," katanya.

Di lokasi produksi milik Sujoyo, aktivitas pembuatan tempe masih berjalan seperti biasa, meski dalam tekanan biaya.

Proses awal, tampak kedelai direndam dalam drum besar sebelum direbus menggunakan tungku berbahan bakar kayu. Setelah itu, kedelai dikupas, dicuci, lalu difermentasi dengan ragi.

Para pekerja terlihat telaten membungkus kedelai yang sudah diberi ragi menggunakan plastik, yang kini menjadi salah satu komponen biaya paling mahal.

Bungkus-bungkus tempe itu kemudian disusun rapi di rak kayu untuk proses fermentasi selama satu hingga dua hari. Jika diperhatikan lebih dekat, ukuran tempe yang dihasilkan memang sedikit lebih kecil dibanding sebelumnya.

"Karena gramnya dikurangi, jadi ukuran panjangnya ikut turun, yang biasanya dipotong 25 Cm, sekarang paling cuman 20 Cm, tapi harga tetap sama di Rp 4.000," ujar Sujoyo.(ijr/add/ysp)

Berita Terbaru

Polres Subang Amankan 36 Barang Bukti Pelanggaran Lalu Lintas

Polres Subang Amankan 36 Barang Bukti Pelanggaran Lalu Lintas

Headline28 menit lalu
Rekomendasi Wisata untuk Tamu Perusahaan di Subang

Rekomendasi Wisata untuk Tamu Perusahaan di Subang

Lifestyle1 jam lalu
Film Indonesia yang Tayang di Netflix September 2026, Ada Sekawan Limo 2

Film Indonesia yang Tayang di Netflix September 2026, Ada Sekawan Limo 2

Lifestyle2 jam lalu
Rekomendasi Wisata Subang untuk Wisatawan Asing, Yuk Eksplor!

Rekomendasi Wisata Subang untuk Wisatawan Asing, Yuk Eksplor!

Lifestyle3 jam lalu
ADVERTISEMENT
Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Headline14 jam lalu
Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Lifestyle15 jam lalu
Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Subang16 jam lalu
Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Nasional17 jam lalu
Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Nasional18 jam lalu
Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Lifestyle19 jam lalu