Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 291: YBR, Sang Martir

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|11:16 WIB
Bagikan:
Pojokan 291: YBR, Sang Martir
Sumber: Beautynesia.id

Aneh! Pohon cengkih setinggi 15 meter itu berbuah seorang bocah berumur 10 tahun. Pohon cengkeh itu berada di desa Naruwolo, Kecamatan Jarebo Kabupaten Ngada, Nusa Tenggara Timur/NTT. Tubuh bocah yang tergantung bernama YBR, kelas IV SD itu seolah mengingatkan kembali pada lagu “Strange Fruit” yang dibawakan Billie Holiday di café society tahun 1939. Sebelumnya lagu yang dikarang oleh Abeel Meeropol, guru Yahudi di Bronx ini, biasa di nyanyikan di rapat-rapat buruh di Medison Square Garden. Lagu itu ungkapan protes terhadap tindak rasial-Lynching, memukuli orang kulit hitam dan membakarnya hingga mati, yang dilakukan oleh kulit putih. Dan mayatnya digantung di pohon Popler.

Tubuh di pohon Cengkih itu, diam-terayun-ayun. Ayunan dan diam yang menggemakan protes keras, terang, tajam, dan kencang bagi nurani yang peka. Tubuh kecil kurus itu bukan unjuk rasa kepada ibunya yang miskin-papa atau putus asa karena tak dibelikan buku dan pencil. Tapi dia mendemo para penguasa dan para pemuja hedons. Tubuh itu, wujud dan mewakili perlawanan atas kekerasan struktural yang sekian lama terjadi, yang dialami keluarganya dan masyarakat.

Sebab dia, keluarganya, masyarakat papa lainnya adalah korban. Korban dari kekerasan sistemik-struktural atas nama kekuasaan dan dominasi ekonomi yang dilakukan oleh entah siapa. Tubuh itu adalah bukti dari apa yang disebut Slavoj Žižek, korban kekerasan sistemik (systemic violence), di mana sistem politik ekonomi yang tak menyentuh (berpihak pada) kepentingan kesejahteraan masyarakat bawah seperti orang tua YBR dan lainnya. Kebijakan ekonomi justru menguntungkan para oligarkh-penguasa. Bahkan negara membiayai mereka dan tak ada yang kembali pada negara. Hanya kerusakan dan bencana yang tertinggal.

Coretan di kertas lusuh yang ditinggalkan oleh YBR, menegaskan tesa Judith Butler, di mana bahasa-tulisan menjadi medium perlawanan atas kekerasan dan dominasi kebijakan yang terstruktur dan sistematis. Surat YBR untuk mamanya adalah perlawanan atas kekerasan linguistik yang dilakukan para penguasa dengan janji dan kebijakannya yang tak pernah pro rakyat. Janji dan kebijakan yang digunakan sebagai bagian dari kekerasan epistemiknya -Michael Foucault, untuk mendominasi dan mengontrol masyarakat.

YBR adalah martir atas kekerasan simbolik-struktural-epistemik dan sistematis. Tubuh dan secarik suratnya adalah perlawanan terhadap apa yang disebut Pierre Bourdieu, kekerasan simbolik. Ada pihak yang mendominasi semua ruang publik -termasuk akses ekonomi, politik, budaya dan pendidikan, yang melembaga dan sistemik. Sepertinya Johan Galtung dan Hannah Arendt pun akan mengamini, kemartiran YBR.

Bukan karena pelit, ibunya YBR tak sanggup membelikan buku dan pensil yang hanya Rp. 10.000-20.000,-. Tapi karena dia tak berdaya atas ketimpangan ekonomi yang dia peroleh selama hidup, penyebab dia MISKIN atau sengaja DIMISKINKAN. Harga buku yang diminta YBR, adalah paradoks sekaligus ironi dengan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (RAPBN) 2026 sebesar Rp1.498,25 triliun. Pun kontras dengan iuran untuk Board of Peace (BoP) bentukan Trump.

“Mama Galo Zee (Mama pelit sekali)

Mama molo Ja'o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis)

Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne'e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee)

Molo Mama (Selamat tinggal mama)”

Nurani ini menangis tak berdaya. Tapi kematian YBR akan sia-sia, jika tak ada perlawanan-perjuangan, untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Bukan kesejahteraan oligarkh dan penguasa. (Kang Marbawi, 040226)

Berita Terbaru

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Headline9 jam lalu
Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Lifestyle10 jam lalu
Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Subang11 jam lalu
Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Nasional12 jam lalu
ADVERTISEMENT
Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Nasional13 jam lalu
Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Lifestyle14 jam lalu
Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Nasional15 jam lalu
Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Headline15 jam lalu
Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Headline17 jam lalu
3 Tempat Wisata Akhir Pekan untuk Pekerja di Subang, Cocok Buat Healing Setelah Sibuk Kerja

3 Tempat Wisata Akhir Pekan untuk Pekerja di Subang, Cocok Buat Healing Setelah Sibuk Kerja

Lifestyle18 jam lalu