Program MBG Serap Banyak Tenaga Kerja Lokal

PASUNDANEKSPRES.ID - Kehadiran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) dinilai memberikan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya dalam penyerapan tenaga kerja lokal dan mendorong perputaran ekonomi desa.
Program yang menjadi bagian dari pelaksanaan Makan Bergizi Gratis (MBG) itu tidak hanya menghadirkan layanan pemenuhan gizi, tetapi juga membuka peluang kerja baru bagi warga sekitar.
Salah satu SPPG yang kini beroperasi berada di wilayah Kecamatan Kasomalang, yakni SPPG Sindangsari 1. Asisten Lapangan (Aslap) SPPG Sindangsari 1, M. Zani Tafta, mengatakan keberadaan dapur SPPG mampu menyerap tenaga kerja hingga puluhan orang.
Menurutnya, saat ini dapur SPPG mempekerjakan sekitar 47 relawan yang sebagian besar berasal dari masyarakat sekitar lokasi.
“Dengan adanya dapur SPPG ini bisa menyerap tenaga kerja sebanyak 47 relawan. Ini sangat membantu warga sekitar yang membutuhkan pekerjaan,” ucapnya kepada Pasundan Ekspres pada Rabu (28/4/2026).
Tafta menjelaskan, tenaga kerja yang direkrut berasal dari berbagai kalangan usia, baik muda maupun yang sudah berusia lebih dewasa. Hal itu menunjukkan bahwa program tersebut memberi ruang kerja bagi masyarakat yang sebelumnya kesulitan mendapatkan pekerjaan formal.
Ia menilai keberadaan SPPG menjadi solusi di tengah meningkatnya angka pengangguran, terutama bagi warga yang tidak lagi memenuhi syarat bekerja di sektor industri atau pabrik.
Serap Tenaga Kerja Lokal
“Program ini sangat membantu mengurangi pengangguran. Banyak warga yang mungkin sudah sulit masuk pabrik, sekarang bisa bekerja di sini dan menambah penghasilan keluarga,” katanya.
Sementara itu, Kepala SPPG Palasari Tanjungwangi, Angga, menjelaskan dari total tenaga kerja yang ada, hampir setengahnya berasal dari warga lokal di desa tempat dapur beroperasi.
Ia menyebut, mayoritas pekerja berasal dari Desa Tanjungwangi dan Palasari, sedangkan sisanya berasal dari desa tetangga yang masih berada dalam satu kecamatan.
“Hampir setengahnya tenaga kerja lokal, terutama warga Desa Tanjungwangi dan Palasari. Sisanya dari desa sekitar yang masih satu kecamatan,” ujar Angga.
Menurutnya, secara keseluruhan jumlah pekerja di satu dapur SPPG berkisar 47 hingga 50 orang, sesuai petunjuk teknis pelaksanaan program.
“Total relawan sekitar 47 orang. Kalau termasuk unsur lainnya seperti akuntan dan petugas lain, totalnya bisa 50 orang. Memang per SPPG rata-rata menyerap 50 tenaga kerja,” jelasnya.
Angga juga mengungkapkan berdasarkan pendataan di lapangan, banyak relawan yang direkrut berasal dari keluarga kurang mampu bahkan masuk kategori miskin ekstrem.
Hal itu diketahui setelah dilakukan pengecekan langsung ke rumah-rumah calon pekerja. Karena itu, program MBG melalui SPPG dianggap sangat tepat sasaran dalam membantu kelompok rentan secara ekonomi.
“Setelah dilakukan pendataan dan dicek ke rumah-rumah, ternyata kebanyakan masuk kategori miskin ekstrem,” katanya.
Meski demikian, para pekerja terdiri dari berbagai usia. Tidak hanya mereka yang sudah berkeluarga, tetapi juga banyak kalangan muda yang ikut bergabung.
“Ada yang muda, ada yang tua juga. Jadi bukan hanya yang sudah menikah, anak muda juga banyak. Tapi sebagian tetap dari kategori ekonomi lemah,” tambahnya.
Angga berharap program MBG dan keberadaan SPPG dapat terus berlanjut dalam jangka panjang karena dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Menurutnya, selain membantu tenaga kerja, program ini juga mendorong geliat ekonomi desa yang selama ini terbatas.
“Harapannya MBG ini tetap berlanjut walaupun nanti sudah ganti Presiden, karena sangat menggerakkan ekonomi di desa-desa seperti di sini,” ujarnya.
Ia menilai kehadiran program ini menciptakan perputaran uang di masyarakat karena para pekerja memperoleh penghasilan rutin dan membelanjakannya kembali di lingkungan sekitar.
“Jadi ada perputaran ekonomi. Mereka yang sebelumnya sudah tidak mampu kerja berat, sekarang masih bisa bekerja di sini dan punya tambahan penghasilan,” katanya.
Ketua Yayasan Karya Bakti, Iyan Sopian, menegaskan setiap SPPG pada prinsipnya diwajibkan merekrut relawan dari warga sekitar lingkungan dapur.
Menurutnya, dari total 47 relawan, mayoritas harus berasal dari masyarakat setempat. Namun untuk tenaga ahli tertentu seperti koki profesional, diperbolehkan mengambil dari luar wilayah sesuai kebutuhan.
“Pada prinsipnya semua SPPG itu relawan 47 harus mengambil dari warga setempat lingkungan. Tapi untuk tenaga ahli bisa dari wilayah lain. Misalnya cook saya ada beberapa orang ambil dari Ciater,” jelas Iyan.
Ia menyebut program ini sangat berdampak dalam menekan angka pengangguran. Jika misalnya ada enam dapur yang beroperasi, maka ratusan warga bisa terserap menjadi pekerja.
“Kalau ada enam dapur dikali 47 orang, berarti ratusan tenaga kerja terserap. Ini jelas mengurangi pengangguran,” katanya.
Lebih jauh, Iyan menilai program MBG memiliki efek berganda atau multiplier effect yang besar bagi perekonomian lokal.
“Program MBG ini multi efek. Sangat banyak manfaatnya dan langsung bisa dinikmati masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, dampak tidak hanya dirasakan pekerja dapur, tetapi juga para pemasok bahan baku seperti ayam, telur, sayur, beras, hingga pelaku usaha kecil.
Misalnya kebutuhan menu ayam dua kali dalam sepekan, maka rumah potong ayam (RPA) dan supplier akan menerima pesanan tetap dalam jumlah besar secara berkelanjutan.
“Kalau supplier dapat order rutin, otomatis mereka juga menambah karyawan. Jadi bukan hanya relawan SPPG yang bekerja, supplier juga ikut hidup,” katanya.
Iyan menambahkan, sektor pertanian menjadi salah satu pihak yang paling diuntungkan dengan adanya program MBG.
Sebelum program berjalan, banyak petani kesulitan mendapatkan pasar yang jelas. Namun kini kebutuhan bahan pangan menjadi pasti dan terus meningkat.
“Multi efek ke petani sangat luar biasa. Tadinya sebelum ada MBG belum ada pasar yang jelas, sekarang kebutuhan sangat besar,” ungkapnya.
Menurut dia, petani padi, sayur mayur, hingga peternak ayam akan sangat merasakan manfaat jika program ini terus berjalan secara konsisten.
“SPPG itu uangnya berputar di daerah itu sendiri. Jadi ekonomi masyarakat lokal ikut tumbuh,” katanya.(hdi/ysp)
