Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Ria Triana Menyalakan Obor Literasi dari Subang untuk Indonesia

H
HubaEditor: Huba
|08:50 WIB
Bagikan:
Ria Triana Menyalakan Obor Literasi dari Subang untuk Indonesia
Ria Triana, S.Pd., Gr., seorang guru Bahasa Inggris, pegiat literasi, dan penggerak pendidikan yang berasal dari Kabupaten Subang, Jawa Barat. HADI MARTADINATA/PASUNDAN EKSPRES.

Literasi bukan sekadar membaca dan menulis, tetapi tentang bagaimana memahami dunia dan mengubahnya menjadi lebih baik. Begitulah semangat yang dihidupi oleh Ria Triana, S.Pd., Gr., seorang guru Bahasa Inggris, pegiat literasi, dan penggerak pendidikan yang berasal dari Kabupaten Subang, Jawa Barat. 

Lahir di Subang pada 7 April 1986, Ria telah menjadi simbol inspirasi bagi dunia pendidikan, khususnya dalam upaya memperkuat budaya literasi dan numerasi di sekolah dan masyarakat.

Ria tak pernah menyangka mimpinya menjadi guru akan benar-benar terwujud. Masa kecilnya hanya dihiasi angan-angan sederhana, namun dorongan untuk terus belajar dan berbagi membuatnya terus menapaki tangga perubahan. 

Ia mengawali karier sebagai guru honorer di SD selama 10 tahun, hingga akhirnya menjadi guru PNS di SMP dan Sekarang ia menjadi guru Bahasa Inggris di SMPN 1 Cisalak. 

Bagi Ria, menjadi guru bukan sekadar mengajar di kelas. Ia melihat profesi ini sebagai jalan pengabdian yang luas, yang tak terbatas pada kurikulum, tetapi juga mencakup pembangunan karakter, pemikiran kritis, dan tanggung jawab sosial anak didiknya.

Seiring waktu, Ria aktif mencari berbagai pelatihan dan komunitas yang mendukung pengembangan profesionalisme guru. Ia percaya bahwa guru yang baik adalah guru yang terus belajar. Komitmennya itu mengantarkan Ria ke berbagai prestasi dan peran strategis di tingkat daerah hingga nasional.

Rekam jejak Ria dipenuhi deretan prestasi yang tidak hanya membanggakan, tetapi juga memberikan dampak luas. Ia adalah guru penggerak angkatan ke-3, pengajar praktik angkatan ke-9, dan fasilitator pembelajaran mendalam. 

Tak berhenti di situ, ia juga nara sumber praktik baik BBGP Jabar, validator aksi nyata Platform Merdeka Mengajar (PMM), dan PIC E-Kinerja PMM.

Kemampuannya memadukan gagasan dan praktik lapangan mengantarkannya menjadi Juara 3 PNS Berprestasi kategori Inspiratif Kabupaten Subang tahun 2024. 

Ia juga menjadi Fasilitator Implementasi Kurikulum Merdeka (IKM), penulis cerpen terbaik TALENTA 2024, hingga editor buku dan penulis bunga rampai praktik baik BBGP Jabar pada 2023. Ria pun menyandang predikat sebagai Guru Literat Kabupaten Subang, juara 2 Guru Inobel Kabupaten Subang 2022, Fasilitator daerah 2022, Penulis KTI HGN 2022, dan Master trainer orbit guru merdeka. 

“Setiap capaian bukan untuk dikagumi, tapi untuk menginspirasi lebih banyak orang agar ikut bergerak bersama,” ujar Ria dengan rendah hati.

Rentetan pencapaian ini bukanlah hal yang mudah. Di baliknya terdapat konsistensi, kerja keras, dan keberanian untuk terus berinovasi. Bagi Ria, setiap prestasi bukan sekadar pencapaian pribadi, melainkan momentum untuk membawa lebih banyak perubahan positif di dunia pendidikan.

Salah satu inisiatif paling menonjol dan berdampak besar yang diprakarsai oleh Ria adalah Program Pelita Karya. 

Program ini dirancang untuk mengatasi rendahnya tingkat literasi dan numerasi siswa, sekaligus menanggapi tantangan zaman seperti maraknya kasus investasi bodong, pinjaman online ilegal, hingga judi online yang berakar pada rendahnya literasi informasi masyarakat.

Pelita Karya lahir dari kegelisahan Ria terhadap kondisi pendidikan dan masyarakat yang minim kemampuan berpikir kritis. 

Ia melihat keterbatasan literasi bukan hanya berdampak pada akademik siswa, tetapi juga membuat masyarakat rentan terhadap berbagai bentuk penipuan dan manipulasi informasi.

Program ini bertujuan untuk Meningkatkan literasi dasar dan numerasi siswa, Mengembangkan profesionalitas guru dalam mengelola pembelajaran berbasis literasi, Meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya literasi informasi dan finansial, terus Membentuk karakter siswa yang kuat, mandiri, dan adaptif terhadap perubahan global.

Implementasi Pelita Karya dilakukan dengan pendekatan kolaboratif. Ria membangun koordinasi yang kuat dengan kepala sekolah, guru, komite sekolah, dan tokoh masyarakat. Ia menggunakan pendekatan inkuiri apresiatif BAGJA, sebuah metode reflektif yang menggali potensi terbaik dari lingkungan sekolah.

Beberapa program unggulan dari Pelita Karya antara lain Pembiasaan membaca 15 menit sebelum pelajaran, penulisan jurnal harian literasi siswa, workshop literasi untuk guru dan orang tua, kemudian Pendampingan komunitas membaca, Integrasi literasi dalam setiap mata pelajaran, dan kolaborasi dengan komunitas literasi seperti GLN Gareulis Jabar dan Komunitas Lisangbihwa.

Evaluasi terhadap program ini menunjukkan hasil yang sangat membanggakan. Tingkat literasi siswa di SMPN 1 Cisalak meningkat drastis dari 77,78% pada tahun 2023 menjadi 97,78% di tahun 2024. Sementara itu, capaian numerasi mencapai 100%. Data ini bukan sekadar angka, melainkan bukti konkret bahwa perubahan bisa dilakukan jika dikerjakan dengan hati, strategi, dan kolaborasi.

Tak hanya siswa yang merasakan manfaatnya. Guru-guru pun menjadi lebih reflektif dan profesional dalam pembelajaran. Masyarakat mulai menyadari pentingnya peran literasi dalam kehidupan sehari-hari.

Aktif di Komunitas Pendidikan

Di luar sekolah, Ria aktif di berbagai komunitas pendidikan yang memperluas pengaruhnya dalam membangun budaya literasi. Ia adalah pengurus MGMP Bahasa Inggris Kabupaten Subang, Sekretaris MGMP Bahasa Inggris Komsat Jalancagak, Pengurus Komunitas Guru Penggerak, Pengurus GLN Gareulis Jabar, Anggota aktif di Kelas Kreatif Indonesia, dan Anggota Komunitas Literasi “Lisangbihwa”

Melalui komunitas ini, Ria tidak hanya berbagi praktik baik, tetapi juga menjadi fasilitator dan mentor bagi guru-guru lainnya. Ia memosisikan dirinya sebagai pembelajar sejati yang terus tumbuh bersama rekan sejawat.

Tak ada perjuangan tanpa hambatan. Dalam pelaksanaan program literasi, Ria dihadapkan pada sejumlah tantangan serius, seperti rendahnya pemahaman literasi di kalangan siswa dan guru, kurangnya keterlibatan orang tua, dan terbatasnya sumber daya dan fasilitas pendukung.

Namun Ria tidak menyerah. Ia mengatasi tantangan ini melalui komunikasi intensif, pelatihan rutin, dan pendekatan yang menyentuh hati para stakeholder. Ia percaya bahwa perubahan besar harus dimulai dari hal-hal kecil dan dilakukan secara konsisten.

Bagi Ria, literasi bukan hanya urusan sekolah, melainkan gerakan sosial yang melibatkan semua pihak. Ia mengajak masyarakat, tokoh adat, RT/RW, hingga pemerintah daerah untuk terlibat aktif dalam menghidupkan budaya literasi. Ia mendorong agar setiap rumah menjadi ruang baca, dan setiap anak menjadi duta literasi di lingkungannya.

Ria menyadari tantangan pendidikan di masa depan jauh lebih kompleks. Ia percaya  penguatan literasi adalah fondasi untuk menyiapkan generasi Indonesia menghadapi era industri 4.0 dan Society 5.0—sebuah tatanan masyarakat cerdas yang mengintegrasikan teknologi dengan nilai-nilai kemanusiaan.

“Pelita Karya bukan sekadar program sekolah. Ini adalah gerakan sadar literasi yang kami rancang untuk menjawab tantangan nyata di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0,” jelas Ria.

Maka dari itu, Ria merancang pengembangan program Pelita Karya tahap selanjutnya dengan menambahkan dimensi digital literasi, kewirausahaan berbasis literasi, dan inovasi pembelajaran berbasis proyek. Ia juga menggagas pengembangan aplikasi digital sederhana untuk mendukung aktivitas literasi siswa secara daring.

Ria adalah sosok perempuan yang membuktikan perubahan dapat dimulai dari ruang kelas. Ia adalah contoh nyata guru bukan sekadar pendidik, melainkan agen transformasi sosial. Ketekunannya, kepekaannya terhadap isu sosial, dan kemampuannya membangun jaringan membuatnya menjadi tokoh pendidikan yang sangat dihormati.

Di akhir setiap pelatihan, Ria selalu mengingatkan peserta dengan kalimat sederhana namun menggugah. “Jangan lelah menjadi lilin di tengah gelap. Suatu saat, cahaya itu akan membakar semangat banyak orang,” Ujar Ria. 

Ia ingin lebih banyak guru yang bangkit, lebih banyak siswa yang sadar literasi, dan lebih banyak masyarakat yang mendukung gerakan membaca dan berpikir kritis. Baginya, literasi bukan sekadar program, tapi gaya hidup yang harus ditanamkan sejak dini.

“Kalau ingin masa depan bangsa lebih baik, maka tanamkan literasi sejak dini,” katanya.

Ria Triana bukan hanya guru, tapi pelita di tengah gelapnya tantangan pendidikan hari ini. Ia menginspirasi, memimpin dengan hati, dan bergerak dengan visi yang jelas. 

Lewat program Pelita Karya, ia membuktikan bahwa satu orang guru bisa mengubah banyak hal. Ia adalah bukti perempuan, ketika diberi ruang dan dukungan, mampu menjadi agen perubahan yang luar biasa.

Ria berharap Pelita Karya dapat direplikasi di sekolah lain, dengan dukungan kebijakan dari pemerintah daerah dan pusat. Ia juga mengajak seluruh elemen bangsa – guru, orang tua, pemuda, hingga tokoh masyarakat – untuk ikut mengambil peran dalam gerakan literasi.

“Jangan serahkan semuanya pada guru atau sekolah. Literasi adalah tanggung jawab bersama. Kalau semua terlibat, maka perubahan akan nyata,” ucapnya.

Ia percaya, literasi dan numerasi adalah kunci untuk membangun bangsa yang berkarakter dan berdaya saing. Dalam konteks Subang yang terus berkembang menjadi kawasan industri, SDM yang literat sangat dibutuhkan agar pembangunan tidak sekadar fisik, tapi juga peradaban.(hdi)

Berita Terbaru

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Headline9 jam lalu
Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Lifestyle10 jam lalu
Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Subang11 jam lalu
Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Nasional12 jam lalu
ADVERTISEMENT
Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Nasional13 jam lalu
Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Lifestyle14 jam lalu
Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Nasional15 jam lalu
Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Headline15 jam lalu
Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Headline17 jam lalu
3 Tempat Wisata Akhir Pekan untuk Pekerja di Subang, Cocok Buat Healing Setelah Sibuk Kerja

3 Tempat Wisata Akhir Pekan untuk Pekerja di Subang, Cocok Buat Healing Setelah Sibuk Kerja

Lifestyle18 jam lalu