Sektor Pertanian Bisa Jadi Solusi Atasi Pengangguran di Kabupaten Subang

PASUNDANEKSPRES.ID - Akademisi Ekonomi Pertanian IPB, Dr. Jojo, S.Pt., M.M., CAEF., C.MTr mengatakan, untuk mengatasi persoalan pengangguran yang saat ini terjadi di Subang, seharusnya pertanian bisa menjadi jawaban, mengingat masih banyak masyarakatnya yang agraris.
"Ketika kompetensi yang dibutuhkan itu tidak atau belum tentu terpenuhi dengan tenaga kerja yang kita miliki, secara rasional tenaga kerja yang paling simple adalah di bidang pertanian," ucapnya.
Namun, perpindahan industrialisasi yang laju di Subang membuat masyarakat agraris terpaksa untuk menyesuaikan kemampuan dengan tuntutan kebutuhan industri agar bisa menyambung hidup.
"Secara ekonomi, dari pertanian itu nantinya akan bergeser ke industri, itu sudah biasa, dan Subang sudah mendahului. Sementara itu, dari segi kesiapan kita sebagai penyedia tenaga kerja belum kompatibel dengan kebutuhan yang ada," ucapnya.
Oleh sebab itu, menurutnya yang menjadi persoalan Subang saat ini adalah bagaimana pemerintah daerah dapat mempersiapkan transisi masyarakat agraris menjadi masyarakat industri, sementara perkembangan industri di Subang sangat cepat.
"Kalau mengharapkan dari pertanian, itu tidak menarik bagi mereka. Kalau kita bicara tentang pertanian, yang ada dibayangan kita pasti adalah kumuh, kotor, dan miskin, beda Ketika kita bicara industrialisasi pertanian di negara-negara maju," ucapnya.
Menurutnya, jika transisi ini tidak dipersiapkan dengan baik, maka pernyataan "hanya jadi penonton di daerah sendiri" akan jadi kenyataan.
Sebab, tenaga kerja lokal Subang yang saat ini masih jauh dari kualifikasi industri akan bersaing dengan tenaga kerja dari luar daerah lainnya yang kemampuannya lebih kompatibel, bahkan tidak menutup kemungkinan bersaing dengan tenaga kerja luar negeri.
"Sekarang BYD sedang ngetren, bahkan teman saya yang dari luar tahu ada BYD di Subang. Ya mohon maaf, mungkin yang masuk dari Jakarta, Jawa, belum lagi dari Tiongkok. Kita mau ngapain?" ucapnya.
Jojo berpendapat, seharusnya masyarakat Subang yang terbiasa di pertanian jangan langsung dituntut langsung loncat ke industri maju, sebab tentu tidak akan siap. Hal ini juga sekaligus membuat status Subang sebagai lumbung pangan nasional menjadi 'abu-abu'.
"Harusnya dari pertanian, ke jasa, baru ke industri. Sekarang kan tidak begitu. Jadi Subang itu seperti anomali, satu sisi kita itu gudangnya pangan, satu sisi ada tidak tenaga kerjanya? Jangan-jangan pindah ke industri semua," ucapnya.(fsh/ysp)
