Siswa di Subang Minta Pemerintah Siapkan Transportasi Umum yang Layak untuk Berangkat ke Sekolah

PASUNDANEKSPRES.ID - Siswa di salah satu SMA di Subang, Ika Oliviani berpendapat, kebijakan pelarangan penggunaan sepeda motor ke sekolah yang dibuat oleh Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi itu memiliki dampak positif dan negatifnya.
Dari sisi positif, ia menilai kebijakan ini dapat melindungi siswa dari kecelakaan dan bahaya lainnya di jlan raya.
"Aturan ini bisa membuat siswa lebih aman karena banyak pelajar yang belum cukup umur untuk mengendarai motor dan belum punya SIM," ucapnya.
Selain itu, ia juga berpendapat apabila semua siswa membawa motor, jalan di sekitar sekolah jadi macet dan rawan kecelakaan.
"Dengan adanya larangan ini, suasana sekolah jadi lebih tertib dan lingkungan juga lebih bersih karena berkurang polusi asap kendaraan dan membuat banyak siswa/siswi jadi olahraga," ucapnya.
Ia menambahkan, kebijakan ini juga bisa mengajarkan siswa untuk tidak menyepelekan waktu karena mengandalkan menggunakan motor ke sekolah.
"Banyak yang sengaja datang siang karena mereka berpikir bisa cepat sampai. jadi dengan adanya aturan ini mereka jadi belajar caranya disiplin waktu dan olahraga pagi setelah turun dari angkutan ke lingkungan sekolah," ucapnya.
Satu sisi, banyak juga siswa yang merasa kesulitan, sebab tidak semua daerah punya transportasi umum yang mudah dijangkau.
"Ada yang rumahnya jauh dari sekolah, sehingga kalau tidak boleh pakai motor, harus berangkat lebih pagi supaya tidak terlambat," ucapnya.
Dirinya mengungkapkan, beberapa siswa bahkan merasa kendaraan umum yang ada saat ini tidak aman, ditambah lagi saat ini hampir jarang ditemi Angkot di Subang.
"Bahkan (Angkot) tidak ada yang menjangkau daerah-daerah yang jauh dari jalan raya, apalagi kalau harus ganti kendaraan lebih dari sekali," ucapnya.
Oleh sebab itu, ia berharap dalam menjalankan kebijakan ini pemerintah dapat memberikan trasnportasi umum yang layak untuk digunakan.
"Sebaiknya pemerintah dapat menyediakan transportasi khusus atau memiliki solusi jangka panjang untuk siswa yang jauh rumah nya dari sekolah agar siswa tetap bisa berangkat dengan aman dan tepat Waktu," ucapnya.
Mengenai perbandingan jumlah uang yang dikeluarkan antara menggunakan sepeda motor atau transportasi umum, ia mengatakan jumlahnya relatif tergantung Jarak yang ditempuh.
Ia mencontohkan biaya harian yang digunkannya Ketika menggunakan sepeda motor. Ika menyebut kira-kira uang dikeluarkan antara Rp10.000 sampai Rp15.000 untuk bensin pulang-pergi. Jika dalam sebulan atau 20 hari sekolah, totalnya sekitar Rp200.000 sampai Rp300.000 per bulan.
Sementara jika menggunakan angkutan umum, ongkosnya sekitar Rp10.000 sampai Rp20.000 per hari tergantung jarak yang ditempuh. Jika dikalikan sebulan makan jumlah ongkos yang dikeluarkan sekitar Rp200.000 sampai Rp400.000.
"Dari perbandingan itu, bisa disimpulkan bahwa biaya naik motor dan angkutan umum sebenarnya hampir sama, tapi kendaraan umum lebih aman dan mendukung aturan pemerintah yang melarang siswa membawa motor ke sekolah," ucapnya.
Apabila ingin konsisten memberlakukan kebijakan tersebut, Ika menyarankan agar dapat juga memberlakukan tarif belajar bagi angkutan umum yang dibarengi juga dengan penambahan kuantitas dan kualitas angkutan umum.
"Kalau ada tarif pelajar, biayanya juga bisa lebih murah karena dIwajarkan oleh beberapa supir untuk pelajar," ucapnya.(fsh/ysp)
