Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Tausiyah Ramadan: Budaya “Mendadak Religius”

H
HubaEditor: Huba
|04:00 WIB
Bagikan:
Tausiyah Ramadan: Budaya “Mendadak Religius”

Oleh : Ujang Heri Syamsudin, S.Pd.I.,MM.

(Kepala SMK Miftahul Bariyyah Tanjungsiang Subang)

Dalam kehidupan sosial, fenomena "mendadak religius" kerap terlihat di berbagai kesempatan. Banyak orang tiba-tiba menunjukkan sikap religius pada momen-momen tertentu seperti bulan Ramadan, hari raya keagamaan, atau saat menghadapi musibah. Fenomena ini menimbulkan pertanyaan: mengapa religiusitas seseorang bisa muncul secara mendadak dan tidak konsisten dalam keseharian?

Salah satu faktor utama yang mempengaruhi fenomena ini adalah lingkungan sosial. Ketika masyarakat secara kolektif menjalankan ibadah, seseorang cenderung terdorong untuk ikut serta. Misalnya, di bulan Ramadan, atmosfer religius sangat kuat, mulai dari siaran televisi bernuansa Islami hingga meningkatnya aktivitas ibadah bersama. Hal ini membuat seseorang lebih mudah terpengaruh untuk mendadak menjadi lebih religius.

Selain pengaruh sosial, ada pula aspek psikologis yang berperan. Banyak individu yang mendekatkan diri kepada agama saat menghadapi masalah atau kesulitan hidup. Dalam situasi sulit, agama sering kali menjadi tempat pelarian dan sumber ketenangan batin. Sebaliknya, saat kondisi membaik, banyak yang kembali pada kebiasaan lama tanpa mempertahankan tingkat religiusitas yang sama.

Faktor budaya juga turut memengaruhi pola ini. Di banyak komunitas, religiusitas kadang dianggap sebagai simbol moralitas yang perlu diperlihatkan pada waktu-waktu tertentu. Misalnya, saat perayaan hari besar agama, seseorang merasa perlu untuk menampilkan citra yang lebih religius, baik melalui pakaian, ucapan, maupun aktivitas ibadah.

Media juga memiliki peran dalam membentuk pola religiusitas musiman ini. Program televisi, iklan, hingga media sosial sering kali menampilkan konten-konten religius pada momen tertentu, yang secara tidak langsung mendorong masyarakat untuk ikut serta dalam tren tersebut. Sayangnya, ketika euforia momen itu berlalu, banyak yang kembali ke gaya hidup seperti sebelumnya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa aspek ekonomi juga berpengaruh. Banyak pelaku usaha yang memanfaatkan momen keagamaan untuk meningkatkan keuntungan, seperti bisnis busana muslim, kuliner halal, dan pariwisata religi. Hal ini secara tidak langsung membentuk kebiasaan religius yang lebih bersifat momentum daripada konsistensi keyakinan.

Meskipun mendadak religius dapat berdampak positif dalam meningkatkan kesadaran spiritual, perlu ada upaya untuk menjadikannya sebagai kebiasaan yang berkelanjutan. Konsistensi dalam menjalankan ajaran agama tidak seharusnya terbatas pada momen-momen tertentu saja, tetapi diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan dan pembinaan keagamaan memiliki peran penting dalam membangun kesadaran ini. Jika nilai-nilai religius diajarkan secara mendalam dan berkesinambungan sejak dini, maka seseorang akan lebih cenderung untuk menjadikan agama sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, bukan hanya sekadar tradisi tahunan.

Pada akhirnya, menjadi religius bukan sekadar mengikuti tren atau tuntutan sosial, tetapi tentang keyakinan yang dijalankan dengan tulus dan konsisten. Dengan memahami alasan di balik fenomena ini, diharapkan masyarakat dapat lebih introspektif dan menjadikan spiritualitas sebagai bagian dari keseharian, bukan sekadar fenomena musiman.(*)

Berita Terbaru

6 Fakta Kasus Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

6 Fakta Kasus Rumah Dinas TNI di Cijantung Diduga Jadi Markas Judi Online

Headline13 menit lalu
Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Olahraga31 menit lalu
Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Headline50 menit lalu
Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Headline1 jam lalu
ADVERTISEMENT
6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

Lifestyle1 jam lalu
7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

Lifestyle2 jam lalu
Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Subang, Ada Berbagai Permainan Seru

Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Subang, Ada Berbagai Permainan Seru

Lifestyle3 jam lalu
Program Jabar Sakola Resmi Diluncurkan, Bantu Tekan Angka Putus Sekolah

Program Jabar Sakola Resmi Diluncurkan, Bantu Tekan Angka Putus Sekolah

Jawa Barat4 jam lalu
Darurat Kekerasan di Sekolah, DPP AGPAII Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk ke Dalam RUU Sisdiknas

Darurat Kekerasan di Sekolah, DPP AGPAII Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk ke Dalam RUU Sisdiknas

Headline4 jam lalu
Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

Nasional11 jam lalu