Tradisi Guyuran di Ruwatan Bumi Desa Bojonegara

PASUNDANEKSPRES.ID - Tradisi Ruwat Bumi yang kerap dilaksanakan di desa desa di Kabupaten Subang sudah ada sejak dahulu kala, dan masih kuat mengakar menjadi budaya menjelang musim tanam padi tahunan.
Ruwat Bumi yang diisi oleh gelaran kesenian apakah wayang golek, wayang kulit atau sandiwara kerap jadi tontonan saat malam harinya.
Di siang harinya, biasanya perangkat desa berkeliling kampung berjalan kaki, sementara anak anaknya ada pula yang naik sisingaan.
Warga menunggu di setiap gang atau jalan desa, siap mengguyur kepala desa ataupun perangkat desa lainnya. Membuat suasana bertambah semarak, mungkin itulah wujud rasa gembira warga petani desa atas datangnya musim tanam tahun ini, tradisi guyuran kerap mewarnai gelaran Ruwat Bumi.
Seperti di Desa Bojonegara Kecamatan Tambakdahan Kabupaten Subang, saat menggelar Ruwat Bumi, kades bersama perangkat desa keliling kampung, basah kuyup diguyur warga.
"Tadi kita keliling kampung bersama kesenian sisingaan, kita basah kuyup, warga mengguyur kami saat melintasi jalan dan gang di perkampungan," kata H. Suraden Kades Bojonegara kepada Pasundan Ekspres.
Diapun mengucapkan banyak terimakasih atas sambutan warga desa yang begitu antusias mengikuti acara Ruwat Bumi ini. Semoga musim tanam tahun ini hasil panen berlimpah.
Camat Tambakdahan Suhaendi mengatakan pihaknya mengapresiasi kegiatan Ruwat Bumi itu, menurutnya hal ini menandakan bahwa kuatnya tradisi masyarakat pedesaan, sebagai ciri khas sebuah daerah yang tetap menghormati kepada kearifan budaya lokal.
"Tentu kita juga sangat berharap hasil panen nanti melimpah, Tambakdahan juga salahsatu lumbung padi di Subang," pungkasnya.(dan/ded)
