Tugas 'Mahaberat' Guru: Banyak Tuntutan, Beban Administrasi, Hingga Ekspektasi Berlebih Masyarakat

PASUNDANEKSPRES.ID – Hari Guru Nasional menjadi momen refleksi untuk mendengar suara hati mereka. Ini adalah momen yang tepat, sebenarnya apa yang dirasakan sejumlah guru di Subang.
Diketahui bersama bahwa berbagai tuntutan, beban administrasi, hingga peran tambahan yang tidak sedikit membuat para pendidik merasa semakin terjepit di antara regulasi, ekspektasi masyarakat, serta kondisi lapangan yang kian kompleks.
Para guru berharap pemerintah dan masyarakat bisa melihat persoalan ini lebih dekat dan memberikan solusi yang adil.
Wakasek Humas SMPN 1 Sagalaherang, Nunung Nuryanti, mengatakan tugas guru hari ini bukan lagi sekadar mengajar mata pelajaran di dalam kelas.
Lebih dari itu, mereka dituntut untuk membentuk karakter siswa, membimbing perilaku, sekaligus menjadi pihak yang ikut bertanggung jawab atas perkembangan psikologis anak.
“Tuntutan guru itu bukan hanya mengajar, tapi membentuk karakter anak. Sedangkan karakter anak sekarang sudah banyak bervariasi karena pengaruh handphone,” ujar Nunung.
Nunung menilai, pengaruh teknologi dan media sosial telah membawa dampak signifikan terhadap perilaku siswa. Anak-anak semakin cepat terpapar informasi yang belum tentu sesuai dengan usia mereka, sementara orang tua sering kali menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pembinaan karakter kepada sekolah.
Nunung menambahkan, hubungan antara guru dan orang tua kini terasa kurang padu. Padahal pembentukan karakter idealnya merupakan kerja sama antara keluarga dan sekolah.
“Untuk pembentukan karakter itu seolah tidak ada kerja sama antara orang tua dan sekolah. Ada pembatasan bagi guru, padahal tuntutan pada sekolah itu banyak,” tuturnya.
Nunung menyoroti tuntutan pemerintah dan harapan masyarakat terhadap guru kadang tidak sejalan dengan kondisi di lapangan. Anak dituntut berperilaku ideal, tetapi guru sering kali terbatasi aturan ketika ingin melakukan pendekatan kedisiplinan.
“Anak dituntut harus begini-begini, tapi kenyataannya aturan dan kondisi lapangan tidak sesuai. Guru seperti bergerak di tengah batasan,” ujarnya.
Selain itu, beban administrasi menjadi persoalan lain yang dianggap menghambat peran guru dalam mengajar. Nunung menegaskan bahwa guru membutuhkan ruang agar bisa fokus pada proses pendidikan.
“Guru minta jangan terlalu dibebankan dengan administrasi supaya bisa konsentrasi mendidik dan mengajar,” tegasnya.
Menurut Nunung, persoalan karier guru juga masih menjadi pekerjaan rumah besar. Proses kenaikan pangkat dan golongan dianggap terlalu rumit dan memakan waktu, padahal tuntutan profesi semakin tinggi.
“Untuk karier guru jangan dipersulit. Tuntutan pemerintah harus membentuk anak seperti ini, tetapi anak sudah teracuni teknologi sekarang. Situasinya kompleks,” katanya.
Wakasek Kurikulum SMPN 1 Sagalaherang, Agita Setia Perwana, menyoroti hal lain yang kini menjadi tantangan, yakni pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Ia mengatakan bahwa program tersebut sangat positif, namun implementasinya di sekolah tidak boleh sepenuhnya dibebankan kepada guru.
“Sekarang ada MBG yang memakan waktu untuk guru mengondisikan anak. Itu menyita waktu dan menambah pekerjaan, sementara kami tidak dibayar,” ungkap Agita.
Dia berharap pemerintah menyediakan petugas khusus di setiap dapur sekolah agar distribusi makanan bisa berjalan tertib tanpa melibatkan guru secara intensif.
“Tolong sediakan petugas pembagiannya. Kalau ada tempat makan hilang, sekolah diminta mengganti. Ini jadi beban tambahan,” ujarnya.
Salah satu guru SMPN 1 Sagalaherang, Herni, mengungkapkan minat generasi muda untuk menjadi guru kini sangat rendah. Banyak survei menunjukkan profesi guru tidak lagi menjadi pilihan utama anak muda.
“Menurut survei, profesi guru itu paling tidak diminati. Ini karena tuntutannya besar,” ujarnya.
Menurutnya, generasi muda saat ini lebih memilih pekerjaan lain yang dinilai lebih menjanjikan.
“Anak muda sekarang lebih memilih kerja di luar negeri daripada menjadi guru,” tambahnya.
Namun tidak semua guru memiliki perspektif yang sama terkait administrasi. Kepala SDN Pelita Karya Jalancagak, Dadan Hermawan, memberi pandangan berbeda. Ia menilai bahwa justru di era Kurikulum Merdeka, administrasi telah dipangkas dan jauh lebih sederhana dibanding sebelumnya.
“Administrasi guru hari ini lebih sedikit. Hanya membuat ATP dan modul ajar. Yang lain dibuat jika dibutuhkan,” kata Dadan.
Menurutnya, anggapan bahwa administrasi semakin berat sering muncul karena guru belum sepenuhnya memahami kurikulum atau belum terbiasa dengan sistem digital.
“Banyak yang merasa berat karena belum terbiasa berpindah dari manual ke digital. Bagi yang sudah terbiasa, semuanya lebih mudah,” terangnya.
Dia menjelaskan tuntutan sesungguhnya bukan pada administrasi, melainkan peningkatan kompetensi guru agar mampu mengimbangi kecanggihan teknologi yang juga memengaruhi pola belajar siswa.
“Jika guru santai saja, anak tidak akan tertarik. Teknologi sekarang bisa jadi ‘guru baru’ bagi mereka,” jelasnya.
Dadan menambahkan, orang tua kini lebih mudah membandingkan sekolah satu dengan lainnya melalui media sosial. Hal ini membuat guru berada dalam posisi yang serba salah jika pelayanan tidak sesuai ekspektasi.
“Konflik guru dan orang tua bisa terjadi kapan saja. Ini menuntut guru meningkatkan skill pedagogik mereka,” katanya.
Guru SDN Karang Bagja, Syaripudin Bahari, menyoroti persoalan lain yang tak kalah penting: banyak guru merangkap tugas yang bukan ranahnya. Misalnya tugas operator sekolah, pengelola data, hingga pengelola BOS.
“Biasanya guru kelas merangkap operator sekolah. Ini luar biasa. Guru dituntut bisa hitungan sarpras, keuangan, administrasi, semua dikerjakan,” ujarnya.
Menurutnya, guru sering kali dituntut menjadi multitalenta. “Harus bisa jadi ahli ekonomi saat mengolah keuangan. Harus bisa data, surat menyurat, dan lainnya,” tambahnya.
Untuk itu, ia mengusulkan agar setiap sekolah memiliki tenaga administrasi profesional agar guru dapat fokus mengajar.
“Kita membutuhkan tenaga ahli agar guru bisa fokus membimbing peserta didik,” tegasnya.
Meski beragam tantangan dihadapi, para guru tetap menunjukkan dedikasi mereka terhadap dunia pendidikan. Namun demikian, mereka menegaskan bahwa perubahan sistem, dukungan orang tua, peningkatan kompetensi, dan pengurangan beban tambahan adalah kunci agar guru dapat menjalankan perannya dengan optimal.(hdi/ysp)
