Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Apa Dalil Merayakan Tahun Baru Menurut Islam? Simak Penjelasannya di Sini

P
Paramitha AuliaEditor: Heru Ramdani
|06:25 WIB
Bagikan:
Apa Dalil Merayakan Tahun Baru Menurut Islam? Simak Penjelasannya di Sini
Apa Dalil Merayakan Tahun Baru Menurut Islam? Simak Penjelasannya di Sini (Image From: Pexels/Rakicevic Nenad)

PASUNDANEKSPRES.ID - Menjelang pergantian tahun, baik Tahun Baru Hijriyah maupun Tahun Baru Masehi, masyarakat biasanya punya cara masing-masing untuk merayakannya.

Ada yang mengisinya dengan doa bersama dan refleksi diri, tapi ada juga yang memilih berpesta dan menyalakan kembang api. Lalu, apa dalil merayakan tahun baru menurut Islam, ya? 

Asal-Usul Perayaan Tahun Baru Masehi 

Dilansir dari NU Online, Tahun Baru Masehi pada 1 Januari berasal dari sistem kalender Gregorian, yang pertama kali diperkenalkan oleh Kaisar Julius Caesar pada tahun 46 SM, lalu disempurnakan oleh Paus Gregorius XIII pada 1582.

Kalender ini kemudian digunakan secara luas di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Karena itu, perayaan Tahun Baru Masehi sebenarnya bukan perayaan agama, melainkan tradisi budaya global yang berkembang seiring zaman.

Biasanya, malam tahun baru diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari berdoa dan berkumpul bersama keluarga, hingga pesta kembang api dan konser musik.

Namun, ada pula sebagian orang yang merayakannya secara berlebihan, bahkan sampai melakukan hal-hal yang dilarang agama seperti mabuk-mabukan atau pesta tanpa batas.

Hal inilah yang kemudian menjadi perhatian para ulama dalam menilai hukum merayakan tahun baru.

Dalil Merayakan Tahun Baru Menurut Islam 

Dilansir dari NU Online, kompilasi fatwa ulama Al-Azhar Mesir, Syekh Athiyyah Shaqr (wafat 2006 M), yang merupakan salah satu Guru Besar Al-Azhar dan pernah menjabat sebagai Mufti Agung Mesir, menjelaskan bahwa merayakan momentum seperti tahun baru diperbolehkan selama tidak diiringi dengan kemaksiatan atau pelanggaran syariat.

وَقَيْصَرُ رُوْسِيَا "الإِسْكَنْدَرُ الثَّالِثُ" كَلَّفَ الصَّائِغَ "كَارِلْ فَابْرَج" بِصَنَاعَةِ بَيْضَةٍ لِزَوْجَتِهِ 1884 م، اسْتَمَرَّ فِي صُنْعِهَا سِتَّةَ أَشْهُرٍ كَانَتْ مَحِلَّاةً بِالْعَقِيْقِ وَالْيَاقُوْتِ، وَبَيَاضُهَا مِنَ الْفِضَّةِ وَصِفَارُهَا مِنَ الذَّهَبِ، وَفِى كُلِّ عَامٍ يَهْدِيْهَا مِثْلَهَا حَتَّى أَبْطَلَتْهَا الثَّوْرَةُ الشُّيُوْعِيَّةُ 1917 م. وَبَعْدُ، فَهَذَا هُوَ عِيْدُ شَمِّ النَّسِيْمِ الَّذِي كَانَ قَوْمِيًّا ثُمَّ صَارَ دِيْنِيًّا فَمَا حُكْمُ احْتِفَالِ الْمُسْلِمِيْنَ بِهِ؟ لَا شَكَّ أَنَّ التَّمَتُّعَ بِمُبَاهِجِ الْحَيَاةِ مِنْ أَكْلٍ وَشُرْبٍ وَتَنَزُّهٍ أَمْرٌ مُبَاحٌ مَا دَامَ فِى الْإِطَارِ الْمَشْرُوْعِ الَّذِي لَا تُرْتَكَبُ فِيْهِ مَعْصِيَّةٌ وَلَا تُنْتَهَكُ حُرْمَةٌ وَلَا يَنْبَعِثُ مِنْ عَقِيْدَةٍ فَاسِدَةٍ

Artinya: “Kaisar Rusia, Alexander III pernah mengutus seorang tukang emas ‘Karl Fabraj’ guna membuat topi baja untuk istrinya pada tahun 1884 M. Proses pembuatannya berlangsung selama 6 bulan. Topi itu ditempeli batu akik dan permata. Warna putihnya dari perak dan warna kuningnya dari emas.

Di setiap tahunnya ia menghadiahkan topi serupa kepada istrinya hingga kemudian istrinya ditumbangkan oleh pemberontakan kelompok komunisme pada tahun 1917 M. Mulanya acara ini merupakan suatu perayaan ‘Sham Ennesim’ (Festival nasional Mesir yang menandai dimulainya musim semi) yang merupakan tradisi lokal Mesir lantas berubah menjadi tradisi keagamaan.

Lalu bagaimanakah hukum memperingati dan merayakannya bagi seorang muslim? Tak diragukan lagi bahwa bersenang-senang dengan keindahan hidup yakni makan, minum dan membersihkan diri merupakan sesuatu yang diperbolehkan selama masih selaras dengan syariat, tidak mengandung unsur kemaksiatan, tidak merusak kehormatan, dan bukan berangkat dari akidah yang rusak.” [Wizarah Al-Auqof Al-Mishriyyah, Fatawa Al-Azhar, juz X, halaman 311).

Ulama terkemuka asal Haramain, Syekh Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki (wafat 2004 M), juga menyampaikan pandangan serupa dalam kitabnya Mafahim Yajibu an Tushahihah (halaman 337–338).

Beliau menjelaskan bahwa berkumpul untuk memperingati berbagai momentum bersejarah seperti Maulid Nabi, Isra Mi’raj, Nuzulul Qur’an, hingga Tahun Baru Hijriyah adalah bagian dari tradisi, bukan ibadah.

Pernyataan ini menegaskan bahwa perayaan tahun baru, baik Hijriyah maupun Masehi, merupakan bentuk ekspresi sosial, bukan ibadah. Maka dari itu, tidak ada larangan selama kegiatan tersebut dilakukan dalam batas-batas syariat dan tidak menimbulkan mudarat.

Nah, itulah mengenai dalil merayakan Tahun Baru menurut Islam. Jadi, umat Islam boleh merayakan Tahun Baru Masehi atau Tahun Baru Hijriyah sebagai bentuk syukur dan kebersamaan sosial, selama tidak disertai maksiat atau keyakinan yang menyimpang. 

(ipa) 

Berita Terbaru

DPRD Subang Sahkan Perda Penyelenggaraan Kesehatan, Bupati: Ikhtiar Tingkatkan Kualitas Layanan

DPRD Subang Sahkan Perda Penyelenggaraan Kesehatan, Bupati: Ikhtiar Tingkatkan Kualitas Layanan

Headline3 jam lalu
Pengendara Harap Hati-hati, Jalan Tol Cipali Sedang Diperbaiki

Pengendara Harap Hati-hati, Jalan Tol Cipali Sedang Diperbaiki

Headline4 jam lalu
Dukung Infak BERSERI BAZNAS, Dinkes Subang Himpun Rp5,3 Juta dalam Jumat Berkah

Dukung Infak BERSERI BAZNAS, Dinkes Subang Himpun Rp5,3 Juta dalam Jumat Berkah

Headline4 jam lalu
Dari Jalanan ke Forum HRD, Megi Akbar Bawa Isu Tenaga Kerja Lokal ke Ruang Pendidikan

Dari Jalanan ke Forum HRD, Megi Akbar Bawa Isu Tenaga Kerja Lokal ke Ruang Pendidikan

Headline4 jam lalu
ADVERTISEMENT
Cara Gunakan Fitur Bookmark Postingan Instagram dengan Mudah

Cara Gunakan Fitur Bookmark Postingan Instagram dengan Mudah

Lifestyle6 jam lalu
Daftar Drama Korea Tayang November 2026, Ada The Remarried Empress hingga Good Partner 2

Daftar Drama Korea Tayang November 2026, Ada The Remarried Empress hingga Good Partner 2

Lifestyle7 jam lalu
HP Infinix Terbaru 2026 dari Rp1 Jutaan hingga Rp12 Jutaan, Ini Daftarnya

HP Infinix Terbaru 2026 dari Rp1 Jutaan hingga Rp12 Jutaan, Ini Daftarnya

Lifestyle8 jam lalu
Rumah123 Ungkap Tren Rumah Tapak di Subang, Harga Penawaran Tembus Rp1,5 Miliar

Rumah123 Ungkap Tren Rumah Tapak di Subang, Harga Penawaran Tembus Rp1,5 Miliar

Lifestyle9 jam lalu
Polda Metro Jaya Hapus Postingan Sumpah Pemuda di Instagram? Ini Informasi yang Beredar

Polda Metro Jaya Hapus Postingan Sumpah Pemuda di Instagram? Ini Informasi yang Beredar

Nasional9 jam lalu
Subang Fest Vol.15 Kembali Digelar Akhir Oktober, Gandeng Komunitas Otomotif

Subang Fest Vol.15 Kembali Digelar Akhir Oktober, Gandeng Komunitas Otomotif

Lifestyle10 jam lalu