Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Benarkah Merayakan Tahun Baru Haram? Simak Penjelasan Lengkap Ulama dan MUI di Sini

K
Khoirul AnsoriEditor: Dobi Maulana
|16:45 WIB
Bagikan:
Benarkah Merayakan Tahun Baru Haram? Simak Penjelasan Lengkap Ulama dan MUI di Sini
Benarkah Merayakan Tahun Baru Haram? Simak Penjelasan Lengkap Ulama dan MUI di Sini (Edited via canva)

‎PASUNDAN EKSPRES - Bagi sebagian orang, perayaan malam 31 Desember terasa seperti kebiasaan duniawi yang tak masalah sebuah kesempatan untuk bersuka ria, berkumpul dengan saudara, ataupun sekadar menikmati kembang api dan hitungan mundur. 

‎Namun di sisi lain, ada keinginan untuk memahami secara lebih mendalam apakah tradisi tersebut sesuai dengan ajaran agama. 

‎Maka dari itu penting bagi kita untuk menelisik lebih jauh mengapa sebagian ulama menyatakan bahwa apakah merayakan tahun baru haram, sedangkan yang lainnya memberikan pandangan yang lebih moderat. Ulama maupun lembaga keagamaan telah mengeluarkan fatwa dan kajian terkait topik ini. 

‎Dengan menyimak referensi yang kredibel, kita bisa memahami konteks, argumentasi, dan panduan praktisnya. Artikel ini hadir untuk membantu menjawab, Apakah merayakan tahun baru haram? 

‎Dengan bahasa yang mudah dimengerti dan tetap menghormati perbedaan pendapat, kita akan membahas latar sejarah kalender, pendapat ulama, hukum dalam Islam, serta bagaimana sebaiknya seorang Muslim bersikap. 

‎Dengan demikian, kamu dapat membuat keputusan secara sadar dan berdasarkan pemahaman, bukan sekadar ikut-ikutan atau berdasarkan anggapan umum.

Sejarah dan Latar Belakang Kalender Tahun Baru

Sebelum kita memutuskan apakah apakah merayakan tahun baru haram, penting mengetahui asal-usul tradisi pergantian tahun. Kalender Masehi (Gregorian) yang dipakai secara luas di berbagai negara di dunia merupakan perkembangan dari sistem perhitungan matahari yang dikembangkan sejak zaman Romawi dan disahkan oleh Paus Gregorius XIII pada tahun 1582. 

Sejarah menunjukkan bahwa tradisi perayaan 1 Januari tidak berasal dari ajaran Islam tetapi dari kebiasaan budaya dan agama lain (misalnya perayaan kuno yang bernama Nairuz) yang kemudian melekat pada kalender Masehi. 

Karena itu, ketika umat Islam bertanya tentang apakah merayakan tahun baru haram, salah satu aspek yang dipertimbangkan adalah apakah tradisi tersebut memiliki landasan syariat atau termasuk adaptasi budaya yang perlu diwaspadai.

Dua Pandangan Ulama Mengenai Hukum Merayakan Tahun Baru

Dalam kajian keagamaan mengenai apakah merayakan tahun baru haram, terdapat dua kelompok pandangan ulama yang sering disebut:

Pandangan yang menyatakan haram

Sebagian ulama berpendapat bahwa merayakan tahun baru Masehi adalah haram bagi seorang Muslim.

Alasan utama yang dikemukakan antara lain: tradisi tersebut merupakan “hari raya” yang diada-adakan, menyerupai kebiasaan non-Muslim, dan tidak memiliki dasar syariat Islam. 

Misalnya, situs Rumaysho menyebut bahwa “hukum merayakan tahun baru bagi seorang muslim adalah haram ikut serta dalam merayakan tahun baru adalah suatu kemungkaran” apabila tradisi tersebut mengandung unsur menyerupai orang kafir (tasyabbuh) atau bid’ah.

Pandangan ini menekankan bahwa seorang Muslim sebaiknya tidak meniadakan batas antara hari raya yang disyariatkan (yakni Idul Fitri dan Idul Adha) dengan perayaan yang bersifat adat atau budaya.

Pandangan yang memperbolehkan dengan syarat

Di sisi lain, lembaga seperti Majelis Ulama Indonesia (MUI) menyampaikan bahwa tidak ada larangan eksplisit dalam Islam untuk merayakan tahun baru Masehi atau mengucapkan selamat tahun baru.

Namun, perayaan tersebut harus dilakukan dengan cara yang sederhana dan tidak melanggar norma agama. 

Dalam artikel dari Antara disebut bahwa “seorang Muslim diperbolehkan merayakan pergantian tahun baru, asalkan tidak disertai dengan perbuatan maksiat”. 

Dengan demikian, dalam kerangka ini, pertanyaan apakah merayakan tahun baru haram memperoleh jawaban yang lebih nuansa bukan haram secara mutlak, tetapi tergantung pelaksanaan dan niat.

Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa pertanyaan apakah merayakan tahun baru haram tidak selalu memiliki jawaban tunggal.

Jawabannya tergantung pada bagaimana perayaan itu dilakukan, niat yang melatarinya, dan apakah perayaan tersebut mengandung elemen yang bertentangan dengan ajaran Islam (seperti maksiat, pemborosan, atau unsur ritual asing).

Jika perayaan dijalankan hanya sebagai momen kumpul bersama, evaluasi diri, atau syukur tanpa unsur yang bermasalah, maka sebagian ulama memandang bahwa hal itu diperbolehkan.

Sebaliknya, jika perayaan mengandung unsur pesta pora, meniru ritual non-Muslim secara khusus, atau meniadakan nilai agama, maka menurut pandangan lain hal itu termasuk yang harus dihindari.

Dengan demikian, seorang Muslim yang khawatir akan isu apakah merayakan tahun baru haram sebaiknya menimbang dua hal utama: niat dan pelaksanaannya.

Berita Terbaru

Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Jadwal MotoGP Mandalika 2026 Hari Ini, Sabtu 10 Oktober: Kualifikasi hingga Sprint Race, Digelar Siang Ini

Olahraga13 menit lalu
Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Kabut Asap Sumatera Bikin Singapura Diselimuti Polusi, PSI Tembus 160 Jelang F1 GP 2026

Headline32 menit lalu
Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Headline52 menit lalu
6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

Lifestyle55 menit lalu
ADVERTISEMENT
7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

Lifestyle1 jam lalu
Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Subang, Ada Berbagai Permainan Seru

Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Subang, Ada Berbagai Permainan Seru

Lifestyle2 jam lalu
Program Jabar Sakola Resmi Diluncurkan, Bantu Tekan Angka Putus Sekolah

Program Jabar Sakola Resmi Diluncurkan, Bantu Tekan Angka Putus Sekolah

Jawa Barat3 jam lalu
Darurat Kekerasan di Sekolah, DPP AGPAII Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk ke Dalam RUU Sisdiknas

Darurat Kekerasan di Sekolah, DPP AGPAII Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk ke Dalam RUU Sisdiknas

Headline4 jam lalu
Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

Nasional11 jam lalu
Konferensi Regional Teknik Jalan ke-16 Kunjungi IKN, Saksikan Transformasi Infrastruktur Jalan dan Jembatan Nusantara

Konferensi Regional Teknik Jalan ke-16 Kunjungi IKN, Saksikan Transformasi Infrastruktur Jalan dan Jembatan Nusantara

Headline11 jam lalu