Line Webtoon Pernah Merajai Indonesia, Ini Alasan Popularitasnya Kini Mulai Turun

PASUNDANEKSPRES.ID - Buat banyak anak muda Indonesia, Line Webtoon dulu bukan sekadar aplikasi baca komik gratis.
Platform ini mengubah cara orang menikmati komik digital legal, praktis, dan tinggal scroll di smartphone.
Sebelum Webtoon hadir, pembaca harus repot mencari file komik di forum atau membeli versi cetak di toko buku.
Webtoon sendiri pertama kali muncul di Korea Selatan pada 2004 sebagai proyek Naver. Format komik vertikal dari atas ke bawah jadi inovasi besar karena nyaman dibaca di layar ponsel.
Kesuksesan di Korea membuat Webtoon masuk ke pasar internasional, termasuk Indonesia sekitar 2015 dengan menggandeng aplikasi Line.
Masuknya Webtoon ke Indonesia datang di waktu yang tepat. Smartphone Android sedang booming, internet makin terjangkau, dan minat baca komik digital mulai tumbuh.
Konsep baca komik legal dan gratis dengan update mingguan langsung disambut antusias. Pada periode 2015–2019, Line Webtoon berada di puncak kejayaan dengan jutaan pembaca aktif setiap bulan.
Tak hanya komik luar, Webtoon juga menjadi rumah bagi kreator lokal. Banyak komik Indonesia lahir, viral, hingga diadaptasi ke buku dan film.
Line Webtoon pun berubah dari sekadar aplikasi menjadi fenomena digital di kalangan anak muda. Namun memasuki tahun 2020-an, pamornya mulai menurun.
Persaingan makin ketat, muncul banyak platform baru dengan update lebih cepat, visual lebih tajam, dan sistem berlangganan yang agresif.
Sementara itu, jadwal update Webtoon yang relatif lambat dan minim inovasi membuat sebagian pembaca dan kreator berpindah.
Meski kini tak lagi sedominan dulu, Line Webtoon tetap punya peran besar dalam sejarah komik digital Indonesia.
Ia adalah pionir yang memperkenalkan komik vertikal legal dan membuka jalan bagi banyak komikus lokal untuk dikenal luas.
