Sega Tegaskan Akan Manfaatkan AI untuk Pengembangan Game, Tapi Tetap dengan Batasan Ketat

PASUNDANEKSPRES.ID - Perusahaan game besar asal Jepang, Sega, menyampaikan bahwa mereka akan mulai memanfaatkan kecerdasan buatan (AI) untuk mendukung proses pengembangan game di masa mendatang. Meski begitu, mereka menegaskan tetap akan bersikap hati-hati dalam penerapannya.
Pernyataan tersebut muncul melalui sesi tanya jawab antara Sega dan para investor. Dalam kesempatan itu, mereka diberi pertanyaan mengenai meningkatnya biaya produksi game, serta apakah perusahaan berniat mengikuti tren atau mencari pendekatan pengembangan yang lebih efisien.
"Daripada sepenuhnya mengikuti tren pengembangan skala besar, kami juga akan mengejar peningkatan efisiensi, seperti memanfaatkan AI," jawab Sega, dikutip dari Video Games Chronicle, Rabu (10/12/2025).
Namun Sega menekankan bahwa penggunaan AI akan dilakukan secara sangat selektif. Tidak semua tahap dan proses pengembangan akan melibatkan AI, melainkan hanya akan diterapkan pada momen yang tepat dan ketika benar-benar diperlukan.
Pemilik franchise Sonic, Yakuza, dan Persona Series ini juga mengakui bahwa penggunaan AI generatif menjadi isu yang sensitif dan kontroversial selama beberapa tahun terakhir.
Karena itu mereka memastikan tidak akan menggunakannya secara sembarangan, terutama dalam aspek yang berkaitan langsung dengan karya seni.
"Namun, karena adopsi AI dapat menghadapi resistensi yang kuat di bidang kreatif seperti pembuatan karakter, kami akan melanjutkan dengan menilai secara cermat kasus penggunaan yang tepat, seperti menyederhanakan proses pengembangan," ujarnya.
Sebelumnya, veteran CD Projekt Red, Konrad Tomszkiewicz, turut menyampaikan pandangannya bahwa AI memang memiliki ruang dalam proses pembuatan sebuah game.
Namun menurutnya, apa pun yang terjadi, AI tidak akan mampu menggantikan keberadaan manusia.
"Saya tidak percaya AI akan menggantikan orang-orang kreatif. AI memang bisa membantu, tapi tidak akan menggantikan mereka. Saya rasa game yang hanya dibuat dengan AI tidak akan memiliki jiwa. Saya tidak percaya itu. Sungguh," ujarnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa dirinya bukan sepenuhnya menentang keberadaan AI. Ia berharap teknologi tersebut hanya berkembang sebagai alat bantu, mirip seperti fungsi Google Translate.
"Bukan sesuatu yang mencuri hak cipta dan menciptakan grafis atau animasi karena ia belajar dari kreasi manusia,"
