Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Banjir Besar Terjang Padang, Seabad Lalu Kota Ini Pernah Porak-poranda! Mayat Bergelimpangan

R
Rian AlfianEditor: Rian Alfian
|09:59 WIB
Bagikan:
Banjir Besar Terjang Padang, Seabad Lalu Kota Ini Pernah Porak-poranda! Mayat Bergelimpangan
Salah satu wilayah yang terdampak adalah Kampung Apa, Kelurahan Koto Panjang Ikua Koto, Kecamatan Koto Tangah. Luapan Sungai Lubuk Minturun menyebabkan air memasuki kawasan permukiman dan mengganggu aktivitas warga.

PASUNDANEKSPRES.ID – Banjir besar kembali melanda Kota Padang, Sumatera Barat, setelah hujan berintensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut pada Sabtu (10/10/2026) dan Minggu (11/10/2026). Di balik bencana yang terjadi saat ini, tersimpan kisah kelam dari masa lalu yang membuat siapa pun bergidik.

Tepat 100 tahun silam, Padang pernah dihantam banjir dahsyat yang meluluhlantakkan sejumlah kawasan. Hujan deras selama berjam-jam membuat sungai meluap, jembatan rusak dan hanyut, jalur kereta api terputus, hingga korban jiwa berjatuhan. Bahkan, laporan surat kabar pada masa kolonial menyebut banyak mayat ditemukan tergeletak di tanah setelah air mulai surut.

Bencana itu terjadi pada 8–9 April 1926. Catatan sejarah tersebut kini kembali menjadi sorotan seiring banjir yang menerjang Padang pada Oktober 2026.

Dilansir dari PASUNDANEKSPRES.ID, sejumlah surat kabar lawas yang terbit pada Mei 1926 merekam betapa mengerikannya dampak banjir yang melanda kota tersebut. Bukan hanya merendam permukiman, bencana itu juga melumpuhkan aktivitas ekonomi dan menghancurkan infrastruktur penting.

Hujan 12 Jam, Gemuruh dari Pegunungan Bikin Warga Ketakutan

Laporan surat kabar Sumatra-Bode edisi 21 Mei 1926 menyebutkan, hujan deras mengguyur Padang selama kurang lebih 12 jam, mulai pukul 18.00 hingga 06.00.

Di tengah malam yang gelap gulita, warga mendengar suara gemuruh keras dari arah pegunungan. Suara itu menjadi pertanda datangnya aliran air dalam jumlah besar yang bergerak deras menuju kawasan permukiman.

“Di malam yang gelap gulita, terdengar suara gemuruh banjir yang mengalir deras dari pegunungan,” tulis Sumatra-Bode dalam laporannya.

Air bah kemudian menerjang kawasan yang dilaluinya. Sungai meluap, sementara kanal banjir yang tidak mampu menampung kiriman air dari pegunungan justru memperparah situasi.

Rumah-rumah dan pertokoan terendam. Sejumlah bangunan terdampak derasnya arus, sedangkan warga harus menghadapi situasi yang semakin sulit ketika malam menyelimuti kota.

Kondisi bertambah mencekam setelah aliran listrik padam. Dalam kegelapan, besarnya ancaman banjir membuat penanganan keadaan menjadi semakin sulit.

Jembatan Hanyut, Jalur Kereta Api Terputus

Dahsyatnya banjir Padang pada 1926 tidak hanya menghancurkan kawasan permukiman. Infrastruktur kota turut mengalami kerusakan parah.

Sejumlah jembatan dilaporkan rusak hingga hanyut terbawa arus. Jalan-jalan terkikis oleh derasnya air, sementara jalur kereta api menuju dataran tinggi mengalami gangguan.

Surat kabar De Gooi- en Eemlander edisi 21 Mei 1926 turut menggambarkan besarnya kerusakan akibat hujan yang mengguyur kota.

“Hujan deras yang mengguyur kota kita tadi malam telah menimbulkan dampak yang merusak,” demikian laporan surat kabar tersebut.

Kerusakan itu membuat aktivitas masyarakat terganggu. Toko dan gudang terendam, akses transportasi terhambat, dan sejumlah fasilitas harus diperbaiki setelah bencana berlalu.

Banjir tersebut memperlihatkan bagaimana hujan ekstrem dapat memicu kerusakan berantai ketika aliran air melampaui kemampuan sungai dan saluran yang tersedia.

Tragedi Longsor, Perempuan dan Anak Jadi Korban

Di balik kerusakan bangunan dan infrastruktur, banjir 1926 juga meninggalkan kisah pilu tentang korban jiwa.

Surat kabar Voorwaarts edisi 11 Mei 1926 melaporkan bahwa sejumlah wilayah di sekitar Padang turut dilanda banjir dan longsor.

Salah satu peristiwa paling memilukan terjadi ketika sebuah rumah tertimbun longsoran tanah. Seorang perempuan dan seorang anak dilaporkan meninggal dunia dalam kejadian tersebut.

Laporan lainnya menyebut seorang perempuan bersama anaknya terseret arus saat menyeberangi jembatan. Keduanya tewas tenggelam.

Jumlah keseluruhan korban meninggal dunia tidak diketahui secara pasti berdasarkan laporan yang tersedia. Namun, sejumlah pemberitaan pada masa itu menggambarkan pemandangan memilukan setelah banjir surut, ketika banyak mayat ditemukan tergeletak di tanah.

Catatan tersebut menjadi gambaran betapa besar ancaman banjir dan longsor terhadap keselamatan masyarakat, terutama ketika hujan deras berlangsung lama dan arus air datang secara tiba-tiba.

Kerugian 500.000 Gulden, Disebut Setara 2–3 Ton Emas

Bencana Padang pada 1926 juga meninggalkan pukulan berat bagi perekonomian masyarakat.

Menurut Nieuwe Rotterdamsche Courant edisi 17 Mei 1926, kerugian penduduk diperkirakan mencapai 500.000 gulden.

Nilai tersebut kerap digambarkan setara dengan sekitar 2–3 ton emas dalam sejumlah perbandingan populer. Meski demikian, angka itu merupakan ilustrasi nilai historis dan tidak bisa disamakan begitu saja dengan nilai ekonomi masa kini.

Kerugian tersebut bahkan belum mencakup seluruh kerusakan yang dialami dunia usaha. Perusahaan ekspor Eropa dan perusahaan impor milik pengusaha Tionghoa masing-masing diperkirakan merugi sekitar 25.000 gulden.

Pemerintah kota juga harus menanggung kerusakan jalan dan fasilitas lainnya senilai sekitar 7.000 gulden. Sementara itu, total kerugian pemerintah belum dapat dihitung secara menyeluruh.

Setelah air surut, pekerjaan berat masih menanti warga. Lumpur menutupi sejumlah kawasan, jalan terkikis hingga menyerupai dasar sungai, dan fasilitas umum membutuhkan perbaikan agar kehidupan kota kembali berjalan normal.

Seabad Berlalu, Sejarah Kembali Jadi Peringatan

Setelah kabar bencana menyebar, bantuan dari berbagai daerah di Hindia Belanda berdatangan. Sejumlah tokoh nasional turut mengirimkan dana untuk membantu masyarakat dan mendukung pemulihan wilayah terdampak.

Kini, tepat satu abad setelah tragedi tersebut, banjir kembali melanda Padang pada Oktober 2026. Peristiwa ini mengingatkan masyarakat bahwa ancaman bencana hidrometeorologi tetap perlu diwaspadai, meskipun zaman, teknologi, dan infrastruktur telah berubah.

Sejarah memang tidak selalu berulang dengan pola yang sama. Namun, pengalaman pahit pada 1926 menunjukkan bahwa hujan berkepanjangan, luapan sungai, dan longsor dapat menimbulkan dampak besar ketika kesiapsiagaan tidak memadai.

Penguatan sistem peringatan dini, perawatan drainase, pengelolaan daerah aliran sungai, penataan kawasan rawan banjir, serta edukasi kebencanaan menjadi langkah penting untuk mengurangi risiko.

Banjir Padang 1926 bukan sekadar cerita kelam dari masa kolonial. Seratus tahun kemudian, catatan itu kembali mengetuk kesadaran: bencana bisa datang kapan saja, tetapi dampaknya dapat ditekan melalui mitigasi dan kesiapsiagaan yang serius

Berita Terbaru

Warga Sukamelang Soroti Dugaan Penampungan Limbah Pabrik, DPRD Subang Minta Persoalan Dikaji Objektif

Warga Sukamelang Soroti Dugaan Penampungan Limbah Pabrik, DPRD Subang Minta Persoalan Dikaji Objektif

Subang34 menit lalu
DP2KBP3A Subang Raih Juara III Provinsi Jabar dalam Pencapaian KB Pasca Salin

DP2KBP3A Subang Raih Juara III Provinsi Jabar dalam Pencapaian KB Pasca Salin

Subang41 menit lalu
Pasca Serangan di Bandara King Khalid, Kemenhaj Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman

Pasca Serangan di Bandara King Khalid, Kemenhaj Pastikan Jemaah Umrah Indonesia Aman

Nasional45 menit lalu
Kasus PHK di Jawa Barat 2026 Tertinggi di Indonesia, Apa Kabar Penyerapan Tenaga Kerja?

Kasus PHK di Jawa Barat 2026 Tertinggi di Indonesia, Apa Kabar Penyerapan Tenaga Kerja?

Jawa Barat47 menit lalu
ADVERTISEMENT
Bupati Larang Warga Tebang Pohon Aren, Dorong Program Ekonomi Hijau

Bupati Larang Warga Tebang Pohon Aren, Dorong Program Ekonomi Hijau

Purwakarta50 menit lalu
Persib Bandung Siap Gempur Viettel! Maung Bandung Bidik Kemenangan Kedua di ACL Two 2026/2027

Persib Bandung Siap Gempur Viettel! Maung Bandung Bidik Kemenangan Kedua di ACL Two 2026/2027

Olahraga54 menit lalu
Persiapan Persib vs The Cong-Viettel FC di ACL Two 2026/2027

Persiapan Persib vs The Cong-Viettel FC di ACL Two 2026/2027

Olahraga55 menit lalu
Soal PP No. 28/2025, Abang Ijo: Bawa Semangat Baru Reformasi Perizinan Nasional

Soal PP No. 28/2025, Abang Ijo: Bawa Semangat Baru Reformasi Perizinan Nasional

Purwakarta58 menit lalu
Mahasiswa Politeknik Enjinering Indorama Perjuangkan Hak Disabilitas

Mahasiswa Politeknik Enjinering Indorama Perjuangkan Hak Disabilitas

Purwakarta1 jam lalu
Dinas Perikanan Subang Soroti Pasokan Solar SPBU, Ratusan Nelayan Muara Ciasem Tak Melaut

Dinas Perikanan Subang Soroti Pasokan Solar SPBU, Ratusan Nelayan Muara Ciasem Tak Melaut

Subang1 jam lalu