Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Dua Pekerja Bangunan Asal Purwakarta Tewas Ditembak KKB di Jayawijaya Papua

I
Indrawan SetiadiEditor: Indrawan Setiadi
|12:30 WIB
Bagikan:
Dua Pekerja Bangunan Asal Purwakarta Tewas Ditembak KKB di Jayawijaya Papua
Ratna Nurlaelasari hanya bisa pasrah dan menangis pilu seraya memeluk Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein atas kematian suaminya. ADAM SUMARTO/PASUNDAN EKSPRES

PURWAKARTA-Dua pekerja bangunan asal Kabupaten Purwakarta menjadi korban penembakan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) pimpinan Egianus Kogoya di Kampung Kwantapo, Distrik Asotipo, Kabupaten Jayawijaya, Papua pada Rabu (4/6) pagi. 

Kedua korban adalah Rahmat Hidayat (45) warga Desa Kertajaya, Kecamatan Pasawahan, Kabupaten Purwakarta dan Saepudin (39) warga Desa Sukajadi, Kecamatan Pondok Salam, Kabupaten Purwarkarta. 

Saat peristiwa itu terjadi, keduanya tengah mengerjakan pembangunan Gereja GKI Immanuel. Kemudian, sekitar pukul 10.00 pagi WIT, dua pria bersenjata datang melintas dan tiba-tiba melepaskan tembakan ke arah mereka. 

Rahmat terkena tembakan di kepala hingga menembus mata kiri, sementara Saepudin tertembak di ketiak kiri dan mengenai lengan. Menurut keterangan saksi, keduanya sempat berusaha melarikan diri, namun dikejar dan dieksekusi di lokasi.

Jenazah kedua korban langsung dievakuasi ke rumah sakit terdekat oleh warga setempat dan dibantu oleh Paguyuban Sunda di Papua.

Rencananya, jenazah kedua korban akan dipulangkan ke kampung halamannya pada Kamis (5/6). Diperkirakan akan tiba di Kabupaten Purwakarta sekitar pukul 17.00 WIB sore.

Pemulangan dilakukan melalui Bandara Sentani, Papua, dan diberangkatkan pukul 14.00 WIT menuju Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta. 

Pemerintah Kabupaten Purwakarta pun telah menyiapkan dua mobil jenazah dari RSUD Bayu Asih untuk menjemput jenazah setibanya di Jakarta.

Bupati Purwakarta Saepul Bahri Binzein, akrab disapa Om Zein, menyampaikan bahwa upaya pemulangan ini merupakan hasil koordinasi intensif antara Pemkab Purwakarta dan Pemerintah Kabupaten Jayawijaya, menyusul permintaan dari keluarga korban.

“Kami sudah beroordinasi dengan Pemkab Jayawijaya. Alhamdulillah pemulangan bisa dilakukan hari ini," kata Om Zein kepada wartawan saat ditemui di rumah duka, Desa Kertajaya, Kamis (5/6).

Di lokasi juga, sambungnya, ada pendampingan dari petugas Pemprov Jawa Barat dan perwakilan Paguyuban Sunda di Papua.

Om Zein menyebutkan, kepala desa Kertajaya dan Sukajadi telah ditugaskan untuk mengawal langsung proses penjemputan hingga ke rumah duka.

Om Zein juga mengimbau kepada warga Purwakarta yang bekerja di wilayah konflik seperti Papua agar segera mempertimbangkan kepulangan, mengingat kondisi keamanan yang belum stabil.

“Saya minta warga Purwakarta yang bekerja di wilayah rawan agar pulang, atau pindah ke tempat yang lebih aman. Jangan sampai ada korban lagi,” ujarnya.

Sebagai bentuk empati dan dukungan, Om Zein juga menyatakan akan mengasuh anak-anak korban, khususnya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

Rutin Teleponan, Malah Dapat Kabar Duka

Sementara itu, Ratna Nurlaelasari (43), istri dari Rahmat Hidayat, mengungkapkan kesedihannya ketika mengetahui kabar duka itu. 

Setiap hari, sekitar pukul 10.00 pagi, Ratna biasa berkomunikasi dengan sang suami. Akan tetapi, pada Rabu (4/6) pagi, telepon tak tersambung.

Ketika akhirnya dihubungi balik, ia justru mendapat kabar mengerikan dari seseorang yang mengurus jenazah korban. “Saya telepon, yang angkat orang sana," ucap Ratna. 

"Katanya, ibu jangan kaget, suami Ibu kena KKB, kena penembakan. Jenazah sekarang sudah di rumah sakit," kata Ratna mengulang ucapan sang penelepon.

"Saya langsung lemas pak,” ujar Ratna dengan suara bergetar.

Kini Ratna harus menghadapi kenyataan pahit sebagai orang tua tunggal bagi dua anaknya yang masih duduk di bangku sekolah dasar.

“Anak saya tiga, yang pertama sudah dewasa, sudah bisa bekerja sendiri. Yang dua masih kecil, satu kelas enam satu lagi kelas satu SD. Sekarang saya harus gimana? Suami saya tulang punggung keluarga,” ucapnya lirih.

Ia juga meminta agar hak-hak suaminya, termasuk sisa gaji dan tunjangan, bisa segera diselesaikan oleh pihak terkait.

“Tolong sisa-sisa gaji suami saya dibayarkan. Buat kebutuhan anak-anak saya, buat hidup ke depan. Saya enggak kerja, kami hidup dari kerja keras suami saya di sana,” katanya.

Ratna mengungkapkan bahwa suaminya itu telah bekerja di Papua selama enam tahun terakhir. Tidak menetap, kalau ada proyek berangkat, selesai proyek pulang ke Purwakarta.

Akan tetapi, kata Ratna, dalam 18 bulan terakhir suaminya itu belum sempat pulang karena masih harus menyelesaikan proyek demi menafkahi keluarganya. 

Dalam proyek terbarunya, Rahmat tengah mengerjakan pembangunan fasilitas air garam di sebuah gereja setempat, yakni Gereja GKI Imanuel. 

Karena kekurangan tenaga, Rahmat mengajak keponakan Ratna yang bernama Saepudin (39) untuk ikut membantu proyek tersebut. Tragisnya, keduanya tewas dalam insiden penembakan tersebut.

“Dia bilang, kerjaan tinggal sedikit lagi. Gaji tinggal nunggu sisa tunggakan, habis itu langsung pulang. Tapi sekarang yang pulang bukan orangnya, tapi jenazahnya,” ujar Ratna.

Setiap hari, kata Ratna, Rahmat rutin berkomunikasi dengan Ratna. Pagi, siang, dan malam mereka video call. Namun, malam sebelum kejadian, Ratna mengaku merasakan firasat aneh.

“Mual, dada sakit, engga bisa tidur. Rasanya gelisah. Padahal malam itu kami masih video call, satu dua jam biasa becanda, cerita," ucap Ratna.

"Suami saya cerita kalau dia lagi tidur di rumah kepala desa karena situasi di sana lagi perang, takut diserang. Pagi saya tunggu kabar, engga ada. Saya telepon, malah orang lain yang angkat. Katanya suami saya sudah meninggal," katanya.

Ratna pun berharap, jenazah korban bisa segera dipulangkan untuk dikebumikan di Kabupaten Purwakarta.

"Saya minta, almarhum suami saya bisa segera dipulangkan. Dia ke sana niat untuk bekerja bukan untuk mati dibantai begitu. Pokoknya saya mau dia pulang dan dimakamkan di sini," ujar Ratna.(add)

Berita Terbaru

Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Bupati Subang Targetkan 2.100 Ruang Kelas Rusak Tuntas Diperbaiki

Headline22 menit lalu
6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

6 Promo Tanggal Kembar 10.10 di Subang, Siap-siap Berburu yang Hemat!

Lifestyle25 menit lalu
7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

7 Ide Aktivitas Weekend Hemat, Seru Bersama Keluarga Tanpa Bikin Kantong Jebol

Lifestyle1 jam lalu
Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Subang, Ada Berbagai Permainan Seru

Rekomendasi Tempat Wisata Ramah Anak di Subang, Ada Berbagai Permainan Seru

Lifestyle2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Program Jabar Sakola Resmi Diluncurkan, Bantu Tekan Angka Putus Sekolah

Program Jabar Sakola Resmi Diluncurkan, Bantu Tekan Angka Putus Sekolah

Jawa Barat3 jam lalu
Darurat Kekerasan di Sekolah, DPP AGPAII Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk ke Dalam RUU Sisdiknas

Darurat Kekerasan di Sekolah, DPP AGPAII Desak Rekayasa Sosial Berbasis Sekolah Ramah Anak Masuk ke Dalam RUU Sisdiknas

Headline3 jam lalu
Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

Ibu Kota Nusantara, Tuan Rumah Borneo Economic Forum 2027

Nasional11 jam lalu
Konferensi Regional Teknik Jalan ke-16 Kunjungi IKN, Saksikan Transformasi Infrastruktur Jalan dan Jembatan Nusantara

Konferensi Regional Teknik Jalan ke-16 Kunjungi IKN, Saksikan Transformasi Infrastruktur Jalan dan Jembatan Nusantara

Headline11 jam lalu
Terkait Polemik Rumah Ibadah di Purwakarta, Kanwil KemenHAM Jabar Tegaskan Hak Beribadah Harus Dilindungi

Terkait Polemik Rumah Ibadah di Purwakarta, Kanwil KemenHAM Jabar Tegaskan Hak Beribadah Harus Dilindungi

Headline15 jam lalu
inDrive Ajak Mahasiswa Purwakarta Jadi Penggerak Keselamatan Berkendara

inDrive Ajak Mahasiswa Purwakarta Jadi Penggerak Keselamatan Berkendara

Purwakarta15 jam lalu