MSCI, Timing Informasi, dan Dugaan ‘Gorengan’: Pasar Modal RI di Persimpangan

PASUNDANEKSPRES.ID - Diskusi soal pasar modal Indonesia kembali menghangat setelah muncul sorotan terhadap laporan MSCI dan timing rilis informasinya. MSCI dinilai menyampaikan informasi yang valid dan benar, namun waktu penyampaian yang bertepatan dengan level indeks tinggi memunculkan tanda tanya di kalangan pelaku pasar.
“Informasinya valid, itu tidak dibantah. Tapi timing ketika indeks sudah naik tinggi, lalu informasi dirilis, sulit dipungkiri ada potensi pengaruh terhadap pembentukan harga,” ujar seorang analis pasar senior.
Ia menilai, praktik “menggoreng” informasi yang sah untuk menciptakan posisi di bursa bukanlah hal baru, terutama di pasar negara berkembang. Asing, menurutnya, sangat memahami karakter emerging market, termasuk soal struktur free float yang relatif kecil dan basis investor ritel yang terbatas.
“Tidak bisa hanya menaikkan free float kalau basis investornya tetap kecil. Itu malah berpotensi melahirkan praktik nominee lagi,” ujarnya. Praktik nominee disebut sebagai masalah lama yang sudah melekat dalam struktur pasar Indonesia sejak krisis 1997.
Dalam pandangannya, investor global masuk ke emerging market bukan tanpa pemahaman. Mereka tahu risiko, tahu kelemahan otoritas, dan tahu peluang keuntungan. Ia mencontohkan kinerja sejumlah global hedge fund pada 2025 yang mencatat keuntungan hingga 35%, dengan porsi signifikan berasal dari Asia emerging market.
“Artinya mereka paham betul masuk ke emerging market itu bukan cuma soal fundamental, tapi juga soal dinamika pasar,” katanya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa sebagai otoritas, MSCI tetap harus berhati-hati. Indonesia, melalui OJK, juga dinilai berhak meminta kejelasan terkait pihak-pihak yang memanfaatkan informasi tersebut, demi menjaga integritas pasar.
