Penunjukan Mojtaba Khamenei sebagai Pemimpin Tertinggi Iran Baru, Dinasti Politik Berlanjut Pasca Kematian Ayatollah Ali Khamenei

PASUNDAN EKSPRES.ID – Majelis Pakar Iran (Assembly of Experts) secara resmi menunjuk Mojtaba Khamenei, putra mendiang Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei, sebagai pengganti ayahnya.
Pengumuman ini disiarkan pada 9 Maret 2026, hanya sembilan hari setelah kematian Ali Khamenei akibat serangan udara gabungan Amerika Serikat dan Israel di Tehran pada 28 Februari 2026.
Dalam video berita dari TribunJatim Official (durasi singkat, diupload 9 Maret 2026), disebutkan bahwa Mojtaba Khamenei, ulama garis keras berusia sekitar 55 tahun, telah dipilih oleh Majelis Pakar untuk memimpin Republik Islam Iran.
Mojtaba dikenal memiliki pengaruh besar di lingkaran kekuasaan, terutama hubungan dekat dengan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), meskipun jarang tampil di depan publik.
Ia selama ini berperan sebagai penasihat senior ayahnya dan dianggap sebagai figur kunci dalam jaringan militer dan keagamaan Iran.
Penunjukan ini menandai kelanjutan dinasti politik dalam kepemimpinan tertinggi Iran, yang sebelumnya dipegang ayahnya sejak 1989. Respons internasional langsung datang dari Presiden AS Donald Trump, yang menyatakan “Pemimpin baru Iran harus mendapat persetujuan Amerika Serikat agar dapat bertahan lama.”
Pernyataan ini memicu spekulasi tentang potensi intervensi lebih lanjut atau negosiasi ketat di tengah konflik regional yang memanas.
Konteks Pasca-Serangan
Kematian Ali Khamenei terjadi di tengah eskalasi konflik Iran-Israel-AS. Serangan udara menargetkan kompleks kepemimpinan di Tehran, menewaskan Khamenei beserta beberapa pejabat tinggi dan anggota keluarga.
Iran merespons dengan serangan balasan drone dan rudal ke Israel serta basis AS, sementara dewan transisi sementara (Presiden Masoud Pezeshkian, Kepala Yudikatif, dan perwakilan Dewan Wali) memimpin selama transisi singkat.
Mojtaba Khamenei dipandang sebagai pilihan yang mempertahankan garis keras anti-Barat dan pro-IRGC, berbeda dengan opsi reformis atau militer murni.
Namun, penunjukan ini juga menuai kritik internal dari sebagian oposisi Iran yang melihatnya sebagai bentuk nepotisme di tengah krisis ekonomi dan sanksi yang semakin berat.
Masa berkabung nasional 40 hari masih berlangsung, dengan ribuan pendukung rezim berkumpul di Tehran.
Namun beberapa elite politik dunia khawatir kepemimpinan baru ini justru memperkuat faksi militer, meningkatkan risiko perang lebih luas di Timur Tengah.
