Brain Rot Mengikis Daya Kritis: Gen Z Dan Gen Alpha Rentan Terpengaruh Iklan Komersial?

Oleh: Athaya Annisa Defani
Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi, Universitas Dian Nuswantoro, Semarang
Dalam jurnal berjudul “Brain Rot: Overconsumption of Online Content (An Essay on the Publicness of Social Media)”, Özpençe (2024) menjelaskan bahwa brain rot digunakan untuk menggambarkan dua hal sekaligus, yaitu sebagai penyebab dan sebagai akibat dari perilaku mengonsumsi konten berkualitas rendah secara terus-menerus di internet. Brain rot atau pembusukan otak merupakan istilah yang pertama kali muncul pada tahun 1854 oleh Henry David Thoreau dalam bukunya Walden.
Istilah brain rot muncul kembali seiring dengan perkembangan teknologi dan kemudahan akses bermedia sosial. Namun, kemudahan akses tersebut tidak selalu membawa dampak positif, terutama jika tidak diimbangi dengan daya pikir kritis. Salah satu dampak paling nyata dari brain rot adalah menurunnya kemampuan memproses informasi secara mendalam.
Teori Elaboration Likelihood Model (ELM) menjelaskan bahwa seseorang dapat memproses pesan persuasi (Petty & Cacioppo, 1986). Teori ini mengemukakan bahwa terdapat dua jalur dalam memproses pesan, yaitu central route dan peripheral route.
Central route adalah jalur ketika seseorang benar-benar memperhatikan, serta menilai kelebihan dan kekurangan suatu informasi secara mendalam. Sementara peripheral route adalah jalur ketika seseorang tidak terlalu memperhatikan informasi secara mendalam sehingga mudah dipengaruhi oleh hal-hal di permukaan seperti visual.
Perbedaan jalur pemrosesan pesan dapat terlihat ketika individu terpapar iklan komersial. Iklan komersial adalah iklan yang bermaksud menjual produk atau jasa agar produknya dibeli oleh sasaran iklan dan memperoleh keuntungan (Hoed dalam Maulana, et al., 2021).
Di era ini, central route semakin jarang digunakan akibat pola konsumsi video ringan berdurasi kurang dari satu menit sehingga otak terbiasa pada stimulus (rangsangan) cepat dan instan. Paparan video ringan berdurasi pendek secara terus menerus dapat mempersingkat attention span (durasi fokus seseorang), sebelum akhirnya terdistraksi.
Dengan menurunnya attention span, individu cenderung mengambil keputusan melalui peripheral route, atau secara visual, sehingga mudah termakan soft selling atau strategi promosi secara tidak langsung (indirect) dengan cara yang halus (Okaza, et al., 2010). Strategi soft selling membidik sisi peripheral konsumen mulai dari menghadirkan selebriti hingga memberi suguhan visual yang menarik.
Generasi Z dan generasi alpha bisa saja memutuskan untuk membeli suatu produk hanya karena kemasannya unik, diendorse selebriti favorit, atau iklannya viral di media sosial. Mereka bisa langsung membeli tanpa mencari tahu kegunaan, kelebihan, kekurangannya, hingga keamanannya.
Masalah yang akhir-akhir ini ramai diperbincangkan adalah kasus Pinkflash 3 Pan Eyeshadow yang dinyatakan memiliki kandungan berbahaya oleh BPOM. Dalam kasus ini, Pinkflash sudah mengabaikan etika periklanan dalam Etika Pariwara Indonesia yaitu Pasal 2.10 dengan bunyi “Iklan kosmetika dengan bahan kimia dengan persyaratan keamanan harus disertai spot “IKUTI PETUNJUK PEMAKAIAN DAN PERINGATAN YANG DISERTAKAN””. Pinkflash tidak menampilkan peringatan secara jelas sehingga individu yang memproses pesan melalui peripheral route cenderung melewatkan aspek keamanan produk.
Iklan komersial yang dibiarkan terlalu bebas di internet pada akhirnya dapat mengaburkan etika dalam beriklan sehingga terbuka ruang untuk konsumen mudah dimanipulasi. Kasus Pinkflash ini adalah bukti kegagalan berpikir kritis akibat brain rot sehingga kemampuan memproses informasi sudah sangat kurang hingga berpotensi membahayakan konsumen.
Visual kini menjadi penentu utama dalam iklan komersial terutama jika targetnya adalah generasi Z dan generasi alpha. Apakah iklan komersial harus selalu dalam bentuk visual? Tentu tidak. Namun, berdasarkan buku The Visual Marketing Revolution oleh Stephanie Diamond, visual dalam iklan membantu otak memproses pesan lebih awal sebelum kata-kata. Iklan komersial kini dituntut untuk mampu menarik perhatian dalam hitungan detik. Banyak orang tidak memiliki cukup waktu untuk menonton iklan yang terlalu panjang.
Mengurangi dampak brain rot tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Hal sederhana seperti membiasakan diri membaca tulisan media online, menonton video berdurasi panjang, dan membatasi tontonan tidak berbobot dapat menjadi latihan awal untuk melatih fokus dan kesabaran dalam memproses informasi. Bukankah kita tidak ingin generasi penerus bangsa tumbuh tanpa daya kritis dan mudah diarahkan oleh praktik periklanan yang mengabaikan etika? (*)
