Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Demokrasi Indonesia Terkubur, Politik Kotak Susu Menggempur

I
Indrawan SetiadiEditor: Indrawan Setiadi
|19:10 WIB
Bagikan:
Demokrasi Indonesia Terkubur, Politik Kotak Susu Menggempur
Rendy Jean Satria

Oleh: Rendy Jean Satria

Penyair dan Mahasiswa Lobachevsky University, Nizhny Novgorod, Russia

Indonesia memang demokrasi, tapi demokrasi macam apa? Demokrasi yang dulu diperjuangkan dengan darah dan air mata kini berubah menjadi sekadar formalitas lima tahunan. 

Jika dulu rakyat khawatir akan kecurangan pemilu, kini yang lebih menakutkan adalah kecurangan yang dilakukan dengan aturan yang "sah". Kasus pengangkatan Gibran Rakabuming Raka sebagai calon wakil presiden menjadi salah satu ironi terbesar demokrasi kita: demokrasi prosedural yang dipermak demi kepentingan keluarga.

Mahkamah Konstitusi (MK), yang seharusnya menjadi benteng terakhir demokrasi, malah berubah menjadi panggung sulap. Dalam sekejap, aturan batas usia capres-cawapres bisa diubah demi seorang anak presiden. Putusan ini dibuat secara kebetulan? Tentu tidak. 

Fakta bahwa ketua MK saat itu adalah ipar Presiden Jokowi membuatnya tak ubahnya seperti sidang keluarga. Rakyat pun akhirnya sadar: hukum di Indonesia tidak bekerja atas dasar keadilan, tetapi atas dasar siapa yang sedang berkuasa.

Setelah putusan MK yang penuh rekayasa, muncul berbagai narasi pembenaran. Ada yang bilang Gibran dipilih karena “anak muda harus diberi kesempatan.” Tentu saja, tidak ada yang salah dengan anak muda berpolitik, tetapi pertanyaannya: apakah anak muda lain mendapat kesempatan yang sama, atau hanya mereka yang lahir di dalam lingkaran kekuasaan?

Di belahan dunia lain, banyak anak muda yang memang berhasil menjadi pemimpin, tetapi bukan karena warisan politik. Lihat saja Sebastian Kurz, yang menjadi Kanselir Austria di usia 31 tahun karena rekam jejak dan kemampuannya. 

Atau Gabriel Boric, yang menjadi Presiden Chili pada usia 35 tahun setelah bertahun-tahun berjuang sebagai aktivis dan politisi progresif. Mereka naik ke panggung nasional karena ide dan gagasan.

Jika dulu Orde Baru terkenal dengan sentralisasi kekuasaan di tangan Soeharto dan kroninya, kini kita melihat fenomena serupa dalam kemasan yang lebih “modern”. 

Putra Presiden bukan hanya bisa melenggang menjadi cawapres tanpa hambatan, tetapi juga didukung penuh oleh elite politik yang justru seharusnya menjadi pengawas jalannya demokrasi. 

Politik dinasti bukan lagi sekadar gejala, melainkan sistem yang terlembaga.

Masa depan demokrasi Indonesia kini lebih mirip reality show: penuh kejutan, kontroversi, dan skenario yang sudah ditulis jauh-jauh hari. Demokrasi yang seharusnya berdasarkan meritokrasi kini bergeser menjadi sistem warisan. Jika tren ini terus berlanjut, kita tidak perlu repot-repot mengadakan pemilu—cukup siapkan acara "Indonesia’s Next Political Heir" di televisi.

Jadi, masihkah kita percaya bahwa suara rakyat adalah suara Tuhan? Atau kini kita harus menerima kenyataan bahwa suara keluarga lebih menentukan arah bangsa?

Setelah dilantik sebagai wapres, banyak yang bertanya: apa yang akan dilakukan Gibran? Reformasi kebijakan? Perubahan besar untuk bangsa? Tidak. 

Yang viral justru kegiatannya membagi-bagikan susu kotak dan sembako, seolah-olah jabatan wapres adalah kepala bagian CSR.

Sementara di belahan dunia lain anak muda membangun negara dengan visi besar, di Indonesia, "pemimpin muda" hanya sibuk membagikan susu kotak. 

Jadi, ini demokrasi atau dinasti? Atau sekadar festival bansos berkedok politik?

Rusia, 14 Maret 2025.

Berita Terbaru

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Headline10 jam lalu
Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Lifestyle11 jam lalu
Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Subang12 jam lalu
Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Nasional13 jam lalu
ADVERTISEMENT
Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Nasional14 jam lalu
Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Lifestyle15 jam lalu
Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Nasional16 jam lalu
Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Headline17 jam lalu
Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Headline18 jam lalu
3 Tempat Wisata Akhir Pekan untuk Pekerja di Subang, Cocok Buat Healing Setelah Sibuk Kerja

3 Tempat Wisata Akhir Pekan untuk Pekerja di Subang, Cocok Buat Healing Setelah Sibuk Kerja

Lifestyle19 jam lalu