Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 236: Xenia

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|19:08 WIB
Bagikan:
Pojokan 236: Xenia
Kang Marbawi.

“Anda diterima di sini”.  Nyaman sekali membaca atau mendengar kalimat seperti itu. Walau tak ada hubungan darah, sanak-famili, ras, suku, agama, atau kepentingan hatta politik, kalimat itu membuat orang betah dan kerasan untuk tinggal dan bercengkrama. Keberterimaan oleh lingkungan dan sesama yang tulus. 

Tapi rasanya, kata itu mulai luntur. Tereduksi oleh prasangka dan xenophobia. Sikap ketakukan berlebihan terhadap orang yang dianggap berbeda, asing, di luar kelompok  atau tidak dikenal. Melahirkan stereotip, dengan pandangan sinis dan benci. Jika tak segolongan, tak sesuku, tak seagama, tak sepemahaman, adalah musuh. Dan pantas dibenci, direndahkan bahkan dihinakan.

Gangguan ini, diidap oleh semua komunitas bahkan individu. Seolah lalat, patologi ini bisa nemplok dimana saja, tak kenal strata sosial, komunitas dan kelas.  Bahkan golongan strata sosial tinggi, pengidap akut penyakit ini. Kadang dipermanenkan dalam kebijakan.

Munculnya makhluk xenophobia, dimulai dari rasa diri “paling”. Tengok saja Hitler dengan semangat Nazi-nya yang menjunjung tinggi supremasi Kaum Arya atas suku lainnya.  Pembaca dapat membuka kembali lembaran sejarah semisal Hitler yang menjual supremasi kelompok atau individu di atas golongan lain.

Xenophobia juga bisa muncul dari rasa “takut” yang melahirkan curiga tak berdasar. Memandang orang lain atau sesuatu yang baru yang datang dengan rasa tak senang. Yang datang dan berbeda itu, dianggap akan mengganggu kepentingan pribadi/kelompok dan akan merubah sesuatu yang telah mapan. Ketakutan yang tak dilawan dengan dialog, tapi diwujudkan dengan sikap represif dan menolak orang lain.

Dibatasi oleh “ini aku, kamu bukan aku, bukan kelompokku. Maka kamu salah dan aku benci kamu”. Jauh dari kata “Kita” yang melebur semua perbedaan dan kepentingan. Yang ada justru adalah “Kami” yang bersebrangan dengan “Kamu”. Pada konteks sosial, “Kami” adalah pernyataan diri/kelompok yang berbeda dengan yang lain. Ada “Lian” yang dianggap berbeda dengan “Kami”.

“Anda diterima di sini” juga hadir dari musabab perilaku diri. Laku lampah yang menjunjung tinggi keadaban dan nilai kemanusiaan. Seperti halnya ajaran para leluhur. Keramahan adalah pintu Kebajikan. Memandang sesama dengan kasih, setara dan kesalingan.

Seperti juga Xenios Zeus, dewa keramahtamahan, yang mewajibkan hukum XENIA kepada setiap orang Yunani kuno. Xenia, semua orang asing yang datang harus dihadapi dengan keramahan dan diberi perlindungan. Dulu Xenia, menjadi ajaran hukum/adat istiadat yang sangat mendasar bagi kehidupan manusia yang beradab. Entah didasari kepercayaan bahwa Zeus xenios, adalah sang dewa pelindung orang asing.

Keramahtamahan kepada orang asing yang datang adalah kewajiban moral yang berakar pada kemurahan hati, pertukaran hadiah dan kesalingan/timbal balik. Pun keramahan yang dimusabab laku orang asing yang rendah hati (xenos) dalam interaksi sosial.

Kini, ruang interaksi sosial kita telah bertiwikrama dalam kanal media sosial (medsos) Medsos menjadi wahana komunikasi maya yang massif tanpa batasan (boarder less). Melebur kan “Lian” atau “Kami” menjadi warga maya (natizen) yang tak mematuhi ajaran XENIA. Diksi “Kita” di medsos, sekarat. Tak ada keramahan di medsos.

Tengok laporan terbaru Digital Civility Index (DCI). DCI mengukur tingkat kesopanan digital pengguna internet dunia saat berkomunikasi di medsos, semakin tinggi angkanya, tingkat kesopanan semakin buruk. Raport Netizen Indonesia menempati urutan terbawah se-Asia Tenggara, alias paling tidak sopan, dengan skor 76.

Di medsos, kita rentan menjadi korban dan pelaku  penyebar hoaxs (berita bohong). Di medsos, xenophobia menjadi laku. Tapi kita harus tetap punya Xenia – keramahtamahan di medsos dan di dunia nyata. Ini bukan promosi merek mobil. (Kang Marbawi, 200125)

 

Berita Terbaru

Rekomendasi Serial Anime untuk Weekend Ini, Cocok Menemani Waktu Santai!

Rekomendasi Serial Anime untuk Weekend Ini, Cocok Menemani Waktu Santai!

Lifestyle4 jam lalu
Mengenal Gembyung Ragasuta Subang, Kesenian Tradisional yang Menjaga Warisan Budaya Sunda

Mengenal Gembyung Ragasuta Subang, Kesenian Tradisional yang Menjaga Warisan Budaya Sunda

Lifestyle5 jam lalu
Lebih dari Pemecah Ombak, Inovasi APO Strap dan Harapan Baru Warga Pesisir Subang

Lebih dari Pemecah Ombak, Inovasi APO Strap dan Harapan Baru Warga Pesisir Subang

Headline5 jam lalu
Bukan Sekadar Tabuhan Bedug, Genjring Bonyok WBTb dari Subang Punya Cerita Panjang

Bukan Sekadar Tabuhan Bedug, Genjring Bonyok WBTb dari Subang Punya Cerita Panjang

Subang8 jam lalu
ADVERTISEMENT
Tujuan Perda Pemajuan Kebudayaan, Bukan Sekadar Menjaga Warisan Leluhur

Tujuan Perda Pemajuan Kebudayaan, Bukan Sekadar Menjaga Warisan Leluhur

Jawa Barat9 jam lalu
Jadwal Persib Bulan November : Tujuh Laga Menanti, Ada Melbourne Victory dan FC Seoul

Jadwal Persib Bulan November : Tujuh Laga Menanti, Ada Melbourne Victory dan FC Seoul

Olahraga12 jam lalu
Pesan Menteri ATR/BPN kepada 152 Pejabat dalam Pelantikan: Layani Masyarakat dengan Baik

Pesan Menteri ATR/BPN kepada 152 Pejabat dalam Pelantikan: Layani Masyarakat dengan Baik

Nasional12 jam lalu
Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Kementerian ATR/BPN Makin Mendekat Layanan ke Masyarakat Lewat ATR/BPN Dekat

Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Kementerian ATR/BPN Makin Mendekat Layanan ke Masyarakat Lewat ATR/BPN Dekat

Nasional12 jam lalu
Cara Melamar Kerja di BYD Subang 2026, Ini Link Pendaftaran Resmi dan Tips agar Lolos Seleksi

Cara Melamar Kerja di BYD Subang 2026, Ini Link Pendaftaran Resmi dan Tips agar Lolos Seleksi

Jawa Barat13 jam lalu
BAZNAS Subang Terima Penghargaan di Puncak Hari Santri 2026

BAZNAS Subang Terima Penghargaan di Puncak Hari Santri 2026

Headline13 jam lalu