Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 254: 1 Juni 2025

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|16:06 WIB
Bagikan:
Pojokan 254: 1 Juni 2025
Kang Marbawi.

Enaknya negeri kita tercinta ini. Setiap orang boleh berkumpul dan buat geng sendiri berdasarkan suku, agama atau golongan. Baik yang formal atau non formal. Karena memang dilindungi Undang-Undang Dasar 1945. Bahkan atas dasar kesamaan sering nongkrong dipinggir jalan atau di lahan kosong pun bisa bikin kelompok sendiri. 

Soal diakui atau tidak, itu soal kiprah di masyarakat.Tengok saja, karena kesamaan hobi menjaga lahan kosong, pasar, parkiran, keamanan, siapa pun bisa membentuk organisasi. Supaya legal dan mentereng. Sekaligus bisa menakut-nakuti.

Kegemaran kebut-kebutan di jalan pun, bisa diwadahi. Kesamaan Model kumpulan yang tak formal dalam sekala besar dan beririsan dengan kekerasan, criminal, atau pengamanan ini, disebut kelompok geng preman, dalam kaca mata sosiologis.

Soal geng para preman menarik Douglas Wilson, dosen Murdoch University, Australia, hubungan preman, ormas, dan kekuasaan itu menunjukkan bahwa demokrasi Indonesia masih dijalankan lewat logika informal dan patronase.

Penulis buku Politik Jatah Preman: Ormas dan Kuasa Jalanan Pasca Orde Baru ini menilai jasa kelompok ini digunakan dalam konstelasi politik dan demokrasi di Indonesia.

Hobi kumpul-kumpul ibu-ibu yang hanya bekerja menunggu suami pulang kerja dan belanja barang-barang branded pun bisa diwadahi dalam arisan. Mengeratkan silaturahmi, katanya. Walau isinya tentang pamer tentengan branded dan foto-foto selfi di ujung dunia. Sosiolog menyebutnya sosialitas.

Ada lagi kumpulan orang-orang yang hobinya menjaga dan menguasai lahan hutan dan lahan adat. Mereka menebang habis sampai ke akar-akarnya isi hutan rindang. Disulap menjadi perkebunan sawit, tambang batu bara, minyak, emas dan segala hal yang ada di dalamnya di keruk.

Bedanya, mereka punya izin konsesi. Izin yang kadang turun bagai hujan dari langit dengan koneksi politik dan modal. Aksi mereka mengubah isi hutan menjadi aneka “tanaman baru” macam ilusionis David Copperfield. Kaca mata sosiologis menyebut mereka, geng oligarkhi. 

Perkumpulan model ini, biasa menggunakan nama depan paguyuban, forum, aliansi atau apa pun. Pokoknya yang penting terlihat keren.

Sosiologi itu macam tukang nujum. Pintar menerka kelakuan orang-orang dan menamainya dengan seenak hati. Pas pula serta diikuti banyak orang.

Tukang nelisik interaksi sosial orang-orang ini, paham juga soal ideologi yang menjadi salah satu kajian mereka. Kata mereka, ideologi Pancasila yang digali oleh Soekarno dan diucapkan untuk pertamakalinya pada 1 Juni 1945 di sidang Badan Persiapan Usaha-Usaha Kemerdekaan (BPUK) ini, mumpuni kandungan nilai dan filosofinya yang mendalam. Sayangnya saat ini, tak ada contoh yang konkrit dalam tindakannya. 

Tak ada lagi orang-orang seperti Sutami, Menteri Pekerjaan Umum era Soekarno dan Seoharto yang miskin sejak jadi pejabat hingga pensiun. Atau Hoegeng, Baharuddin lopa dan masih banyak lagi yang memiliki integritas. Saat ini, pejabat negara banyak mengidap penyakit osteoporosis (kerapuhan-keropos) etika.

Padahal sebagai ideologi, Pancasila harus menjadi landasan berpikir dan berperilaku serta sekaligus menjadi tujuan. Pancasila seharusnya menjadi “semacam Protestan ethic” yang menjadi etos kerja untuk mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Mewujudkan dan menghadirkan nilai-nilai kemanusiaan dan keadaban dalam perilaku sehari-hari.

Sayangnya, telisik para sosiolog tak terlalu didengar pada isu, ideologi dari luar mulai menggerogoti ideologi Pancasila melalui proyek industri  kreatif (financial, fun, food, film, fasyen) dan kecerdasan imitasi. Pancasila masih berkutat diruang-ruang diskusi dan akademik. Ideologi yang gagah di ruang wacana dan perdebatan filosofis.

Namun sepi-senyap di ruang digital dan industri kreatif. Padahal generasi Z dan Alpha adalah generasi digital dan kreatif. Setelah 80 tahun sejak kelahiran Pancasila ini, saatnya Pancasila beranjak merambah industry kreatif  sebagai  kekuatan soft power untuk penguatan ideologi negara. 

Selamat Hari Lahir Pancasila yang ke 80 tahun. Pancasila dalam tindakan bukan dalam wacana. (Kang Marbawi, 010625)

Berita Terbaru

Rekomendasi Wisata Subang untuk Wisatawan Asing, Yuk Eksplor!

Rekomendasi Wisata Subang untuk Wisatawan Asing, Yuk Eksplor!

Lifestyle24 menit lalu
Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Mantan Pejabat Bea Cukai Menangis di Sidang, Ungkap Diminta Pasang Badan agar Kasus Tidak Melebar

Headline11 jam lalu
Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Kuliner dan Wisata Dekat Pelabuhan Patimban, Subang yang Menarik untuk Dikunjungi

Lifestyle12 jam lalu
Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Wisata Sehari di Sekitar Patimban Subang, Ini Pilihan Tempat yang Bisa Dikunjungi

Subang13 jam lalu
ADVERTISEMENT
Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Polda Jabar Ungkap Perdagangan Data Pribadi, Dijual Lewat Telegram hingga Jasa Lacak Identitas

Nasional14 jam lalu
Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Terungkap Pertemuan Ketum Partai Bahas RUU Pemilu, Ini yang Dibicarakan

Nasional15 jam lalu
Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Daftar Tempat Liburan Dekat Kawasan Industri Subang, Yuk Healing!

Lifestyle16 jam lalu
Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Pengukuran Terjadwal Hadirkan Layanan Pertanahan yang Lebih Jelas bagi Masyarakat

Nasional17 jam lalu
Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Gelar Sosialisasi Percepatan Sertipikasi Tanah bagi MBR, Kejar Target 3 Juta Bidang

Headline17 jam lalu
Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Bupati Subang Pasang Target BUMD: Tak Boleh Cuma Habiskan Modal, Harus Setor PAD

Headline19 jam lalu