Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 265: Jadi Presiden?

I
Indrawan SetiadiEditor: Indrawan Setiadi
|11:40 WIB
Bagikan:
Pojokan 265: Jadi Presiden?
Kang Marbawi.

“Jadi presiden? Jangan dah jangan” tulis putri ke duaku melalui pesan whats app (WA). Ketika mengomentari postingan diprofil WA saya. 

Saya terbilang jarang posting di profil atau status WA. Kebetulan 12 Agustus 25 lalu, saya berkesempatan untuk membersamai latihan Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Tingkat Pusat 2025 yang akan bertugas mengibarkan bendera pada Hari Ulang Tahun (HUT RI) ke 80 di Istana Merdeka.

Saya sengaja meminta teman untuk memfoto siluet saya sedang memandang podium kehormatan yang akan digunakan Presiden Prabowo sebagai inspektur upacara HUT RI ke 80 di teras Istana Merdeka. Iseng saya tulis di storinya “Memandang Masa Depan”. Nah tulisan itu yang dikomentari putri saya itu. Dan langsung menohok. Saya pun langsung tersenyum lebar membaca WA putriku ini, dengan dibarengi rasa kagum dan bangga.

“knp?” tanyaku, menjawab. Sistem komunikasi di medsos/media sosial, memiliki rumusnya sendiri, singkat dan idiom-idiom yang tak digunakan di komunikasi verbal sehari-hari.

“riweuh ah banyak ajudan nya” -enter.

“kemna mna ad kamera” jawab nya -enter.

“ya jangan pake ajudan lah” jawabku dengan menambahkan tiga (3) emoticon kepala berwarna kuning dengan mata berair dari sisi samping dan bibir terbuka lebar terlihat gigi, menunjukkan ekspresi tertawa.

“mana bisa” jawabnya lagi -enter. Kemudian terputus ganti topik.

Topik rutin dan wajib yang hampir dilakukan tiap minggu bahkan setiap dua hari sekali. Yaitu minta tambahan anggaran, seperti halnya tambahan anggaran untuk tunjangan anggota dewan yang terhormat, pasca pidato kenegaraan Presiden di depan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR RI) 15/8, lalu.

Beda dengan tambahkan anggaran yang setara gaji satu pembantu rumah tangga untuk setiap anggota yang terhormat itu, saya hanya mampu mensubsidi sesuai kondisi kas negara rumah tangga ku sendiri. Ya… tidak kurang dari Rp. 50 – 100 K saja, bergantung kondisi kantong. Alahamdulillah, Puji Tuhan!

Target subsidi sebenarnya hingga tujuh (7) digit di tahun yang akan datang, jika hasil pendapatan bukan dari pajak -juga bukan (dan amit-amit) dari korupsi, meningkat. Eh maaf kita kan termasuk yang terkena pajak dan pembayar pajak setia, karena kita warga negara yang baik yang taat bayar pajak. Ditengah viralitas “dimana bumi dipijak, disitu dipajaki, 1000% lagi!

Kembali ke soal WA. Terbersit, ko bisa putri ku ini berpikir bahwa saya ingin jadi presiden? Dengan rasa lucu yang terdalam, mengimaginasikan “hamba sahaya ini”,  jadi presiden. Dengan segala perangkat protokol dan fasilitas yang melekat padanya,  rasanya tak mungkin! Walau setiap bayi yang lahir sebagai Warga Negara Indonesia sudah memiliki hak konstituaional untuk menjadi Presiden. Apakah terpenuhi atau tidak, syarat sosial, politik, ekonomi dan seabrek indikator lainnya untuk menjadi presiden, itu soal lain.

Jadi Presiden adalah hak setiap warga negara sejak “jebrol” ke muka bumi, bro!

Prasangka putriku ini, nyata hadir berdasarkan interpretasinya pada postingan yang saya buat. Dan dia melakukan klarifikasi terhadap postingan itu. Memang dia melakukan tabayyun itu, karena yang memposting adalah saya, Abinya tercinta. Dan saya tidak tahu apakah dia mampu melakukan tabayun terhadap setiap postingan apapun di media sosial yang dia gunakan. Semoga.

Postingan apapun di medsos sebagai penanda komunikasi, melahirkan beragam interpretasi bagi pembacanya. Dan dengan perkembangan teknologi artificial intelegent (AI) seperti VEO 3, teknologi canggih generasi ke 3 (tiga) AI untuk membuat video hanya berbasis teks, memungkinkan produksi medsos semakin kreatif mendekati realitas.

Bisa jadi, iklan kesehatan yang menampilkan mantan menteri kesehatan Terawan, atau Siti Fadliah Supari adalah bagian dari hasil VEO 3. Dan yang terbaru adalah video pernyataan Menteri Keuangan Sri Mulyani “Guru Itu Beban Negara” yang sedang viral dan menimbulkan berbagai komentar nyinyir. Bisa jadi, itu juga hasil kerjaan VEO 3, sang AI.

Inti kata, teknologi AI bisa menjadikan apapun, merubah apapun, menggiring opini apapun sesuai dengan kepentingan penggunanya. Dan kadang kecerdasan buatan itu digunakan untuk memanfaatkan ketumpulan nalar natizen yang gampang percaya terhadap postingan apapun di medsos.

Sepertinya, walau kita sudah 80 tahun Merdeka, kita masih menghadapi penjajahan dalam bentuk baru. Tak langsung, AI yang dikendalikan kapitalisme global, bisa jadi sedang menjajah akal sehat kita. Berbagai bentuk AI (medsos, dan berbagai aplikasi) yang memberikan kemudahan untuk kebutuhan apapun dan unsur hiburan yang melahirkan adiksi melebihi narkoba dan meracuni hampir semua umat manusia di kolong langit.

Sejatinya AI, menciutkan daya kreatifitas dan daya tahan (struggle) kita untuk menyelesaikan berbagai hal, melalui proses alami sebagai pembelajaran. Bahwa segala sesuatu harus di raih dengan kerja keras, kesabaran, keuletan dan ketabahan serta kebersamaan.

Penggunaan AI yang tak bijak dan tak kritis hanya melahirkan manusia instan, manusia yang ingin serba cepat, mudah, murah dan hasil maksimal.  Tanpa proses yang panjang dan melelahkan.

Bisa jadi kita sedang menghadapi penjajahan akal sehat oleh AI. Nalar kritis sedang diserang dan dibungkam oleh medsos dan AI (VEO 3), dalam bentuk produksi konten maya yang dianggap kebenaran atau hoaks. Agar nalar kritis itu menjadi Brain Rot, melahirkan tumpul nalar, bebal nurani dan hilang kepekaan.

Saya ikuti saran teman saya, mari adaptif terhadap perubahan teknologi. Penikmat produk AI ini yang harus diedukasi, agar bisa memvalidasi kebenaran suatu produk AI. Agar tidak mudah tertipu, terjebak, dan terprovokasi.

“Nak, gak mungkin Bapakmu jadi Presiden (soalnya ayahmu gak punya partai dan bukan anggota partai serta bla..bla… bla lainnya). Kamu saja jadi Presiden RI (entah yang ke berapa), Presiden yang bisa memberi manfaat untuk bangsa dan mensejahterakan rakyatnya. Bisa menjaga Daulat dan Marwah bangsa. Dan terpenting bisa memberantas Korupsi!” itu doa saya untuk anak-anak kami. Ketinggian ya, doanya? (Kang Marbawi, 200825)

Berita Terbaru

4 Layanan KPU Kabupaten Subang Masuk SKM Triwulan III 2026, Ini Hasil Penilaiannya

4 Layanan KPU Kabupaten Subang Masuk SKM Triwulan III 2026, Ini Hasil Penilaiannya

Subang2 jam lalu
Peringati 1 Tahun Pasar Sasagaran, Bupati Purwakarta Dorong Desa jadi Penggerak Ekonomi Lokal

Peringati 1 Tahun Pasar Sasagaran, Bupati Purwakarta Dorong Desa jadi Penggerak Ekonomi Lokal

Purwakarta2 jam lalu
Benarkah 1 Oktober Pedagang Online Kena Pajak? Simak Penjelasan DJP

Benarkah 1 Oktober Pedagang Online Kena Pajak? Simak Penjelasan DJP

Nasional2 jam lalu
Nama SMAN 1 Pagaden Terseret Video Viral, Pihak Sekolah Akhirnya Buka Suara

Nama SMAN 1 Pagaden Terseret Video Viral, Pihak Sekolah Akhirnya Buka Suara

Jawa Barat2 jam lalu
ADVERTISEMENT
Guru Diduga Rekam Bagian Dalam Rok Siswa di Pagaden Subang? Simak Berita Updatenya Disini!

Guru Diduga Rekam Bagian Dalam Rok Siswa di Pagaden Subang? Simak Berita Updatenya Disini!

Subang2 jam lalu
Daerah Jadi Rumah Industri, Andhika Soroti Keadilan Pembagian Manfaat Ekonomi

Daerah Jadi Rumah Industri, Andhika Soroti Keadilan Pembagian Manfaat Ekonomi

Jawa Barat2 jam lalu
379.373 Ribu Anak Jabar Tidak Sekolah, Andhika Dorong SADA Jabar Jadi Senjata Pemerataan Pendidikan

379.373 Ribu Anak Jabar Tidak Sekolah, Andhika Dorong SADA Jabar Jadi Senjata Pemerataan Pendidikan

Jawa Barat2 jam lalu
Agenda Besar Pemkab Bandung Barat Tangani 15.279 Rutilahu, Baru 367 Rumah Tercover APBD

Agenda Besar Pemkab Bandung Barat Tangani 15.279 Rutilahu, Baru 367 Rumah Tercover APBD

Bandung Barat2 jam lalu
Karhutla Subang Capai 91 Hektare, Gunung Kujang Terbakar Hampir Sepekan

Karhutla Subang Capai 91 Hektare, Gunung Kujang Terbakar Hampir Sepekan

Subang3 jam lalu
Komplotan Curanmor di Karawang Ditangkap, Polisi Sita 7 Motor Hasil Curian

Komplotan Curanmor di Karawang Ditangkap, Polisi Sita 7 Motor Hasil Curian

Karawang3 jam lalu