Pojokan 269: Eudaimonia

“Jangan pernah lelah mencintai Indonesia”. Begitu penggalan pesan Sri Mulyani -menteriKeuangan Republik Indonesia 2016-2025, dengan nada bergetar.
Dengan caranya dia menunjukkan kedalaman cintanya kepada Indonesia.
Bisa jadi, Sri tahu semuanya tentang Indonesia, yang baik dan buruknya. Tapi Sri hanyafokus bagaimana negeri tercintanya tak jatuh ke jurang gagal. Walau Sri harus dihujat.
Konon di eranya, hutang negeri tercinta ini semakin menjulang tinggi. Tapi mungkin Sri yakin, dia bisa menyelesaikannya. Asal tidak ada korupsi!
Sri tahu, kepercayaan yang diberikan kepadanya adalah kesempatan untuk memberi manfaatyang sebesar-besarnya kepada Indonesia. Sri hanya melampahi arete, kebajikan dalam setiapkebijakan dalam bingkai etis-phronesis. Sri berusaha melakoni Eudaimonia-memberi manfaatuntuk sesama. Walau tak lepas dari menuruti maunya yang dilayani.
Laku eudaimonia adalah laku rasa dan nurani. Yang muncul dari kegelisahan melihatketimpangan. Dia muncul dari kelembutan dan ketulusan untuk membantu. Kegelisahanuntuk diwujudkan dalam laku perikemanusiaan. Perikemanusiaan yang menjadi dasareudaimonia.
Perikemanusiaan itu harus terus dihidupkan dalam setiap insan Warga Negara Indonesia. Perikemanusiaan yanga menjadi bantalan dari laku eudaimonia. Tanpa rasa kemanusiaan, kitatak mungkin punya empati. bertiwikrama dalam laku hedonis dan egois. Tak kenalbelaskasihan. Serakah dan tak beradab menjadi buah.
Tapi eudaimonia tak harus sempurna. Dia bisa mewujud dalam laku apapun. Sederhana, takserakah pun bisa. Bahkan menghormati ruang pribadi setiap warga pun bagian darieudaimonia.
Tan Malaka menyebut, “lindungi bendera itu dengan bangkaimu, nyawamu, dan tulangmu. Itulah tempat yang selayaknya bagimu, seorang putra Indonesia tempat darahmu tertumpah”. Bukan dengan korupsi, menjarah bumi pertiwi dan milik orang. Semoga Indonesia tetap kau cintai, dimanapun kau melakukan eudaimonia. (Kang Marbawi, 110925)
