Pojokan 270: Shima

Mimpi itu tetap dipelihara. Walau dibalut mitos dan mistis. Menjadi penglipur lara tuk menjaga asa. Asa yang kian jauh dari kenyataan. Lara atas laku para penguasa yang abuse power tuk memenuhi nafsu serakahnya.
Mimpi itu tak datang sekonyong-konyong. Dia lahir dari hasrat kembalinya Sang Ratu Adil. Yang dipuja dalam berbagai macam cara. Dia hadir menjelma dalam laku penguasa yang melampahi keadilan, keadaban dan tegaknya hukum. Tanpa pandang bulu.
Obsesi itu adalah datangnya kembali masa seperti jaman Ratu Shima ratu kerajaan Kalingga, putri Hyang Syailendra putra Santanu. Ratu bergelar Sri Maharani Mahissasuramardini Satyaputikeswara itu, menjadi penanda teladan dimana keadilan, kejujuran dan penegakkan hukum menjulang lurus tegak, kokoh! Tak doyong karena kepentingan, koneksi atau patron. Tak ada korupsi!
Dijamannya, rakyat mengalami gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja. Ketegasan sang Ratu dalam menegakkan hukum tersiar hingga ujung dunia. Hatta ketika seorang bangsawan Arab bernama Dazi -ada yang menyebut Ta-shih, menguji berita itu. Sekantong emas sengaja diletakkan Dazi dijalanan umum. Dan setelah tiga tahun, kantong emas itu tak bergeser dari tempatnya. Hingga tak sengaja, putra mahkota menyenggolnya dan sedikit bergeser dari tempatnya. Sang putra mahkota pun harus menerima keputusan, jari kakinya dipotong sebagai hukuman dari sang Ratu-ibundanya.
Rasanya tak ada lagi pemimpin seperti Ratu Shima-sang Ratu Adil sesungguhnya. Ratu adil itu kini menjadi mitos. Mitos yang menjadi gerakan perlawanan. Menjadi konstruksi sosial untuk menjaga asa dari rusaknya tatanan sosial-politik, ekonomi dan budaya. Kadang asa perlawanan itu mewujud menjadi gerakan, revitalis atau revivalis. Kesemua gerakan sosial itu mengharapkan hadirnya sang Juru Selamat -mesianis, atas tindak serakah korupsi yang merajalela.
Bagi anakku, mungkin tak kenal Ratu Shima. Seumur-umur dia belum pernah mendengar nama Ratu Shima dari Kalingga. Entah, apakah di sekolahnya di ajarkan atau tidak, sejarah tentang raja-ratu. Anakku lebih kenal artis Korea dibanding pahlawan Indonesia, apalagi raja dan ratu jaman pra Indonesia merdeka.
Bisa jadi bagi generasi seusia anakku, pahlawan itu sesuatu yang absurd, tak nyata dan tak ada. Baginya Ratu Shima, Gajah Mada, Ratu Kalinyamat, Malahayati, Pattimura, Frans Kaisiepo, atau lainnya, adalah alien yang tak pernah dikenal, didengar bahkan tak pernah tahu ada nama itu.
Sah benar maklumat George Orwell “cara paling efektif untuk menghancurkan rakyat adalah dengan menyangkal dan menghapuskan pemahaman mereka atas sejarah diri mereka sendiri”. Mereka -generasi anakku mengalami keterputusan -dengan disengaja, dari darah sejarah bangsanya sendiri, diskontinuitas sejarah yang melahirkan historical blank. Kekosongan itu diisi dengan parade flexing dan hedonisme.
Selain idola artis, yang dibenaknya saat ini adalah deretan para pesohor dan pejabat berbaju rompi orange. Atau tontonan gaya hidup flexing dan hedonism yang tersaji 24 jam diberbagai platform media sosial (medsos). Mungkin itu yang tertanam -semoga tidak.
Nelangsa benar Ratu Shima, tak dikenal anakku para pelajar-mahasiswa di Indonesia. Apalagi bagi penguasa atau pejabat, Ratu Shima bukan teladan atau rujukan. Dia hanya mitos dari abad ke 7. Sudah sangat kuno.
Tapi penting juga anakku -juga aku, menyerap ruh kuno Ratu Shima. Agar dia -pun beta, mewarisi keberaniannya untuk tegak lurus pada kejujuran dan menggunakan kekuasaannya untuk kemaslahatan rakyatnya. Tegakkan keadilan dan hukum tanpa pandang bulu. Kekuasaan yang tak digunakan untuk kemaslahatan dirinya, kroni apalagi anak-anaknya.
Mungkin Ratu Shima juga sedang sedih seperti lagu Ibu Pertiwi gubahan Ismail Marzuki. Air matanya berlinang, bersusah hati, melihat Bumi Pertiwinya tercabik-cabik keserakahan dan korupsi. Juga anarkis-penjarahan. Ratu Shima hanya bisa merintih dan berdoa, semoga Indonesia, aku dan anak-anakku diberikan kekuatan untuk jujur dan tak korupsi. Sebab para penguasa sudah tak mau bicara lagi dengan Ratu Shima. (Kang Marbawi 160925)
