Pojokan 271: BIN-et

Walau tak ada yang melantik atau didirikan secara resmi, badan intelejen yang satu ini cukup berhasil mengaduk-ngaduk peta sosial, politik, budaya terutama emosi siapapun. Uniknya, biar pun tak ada struktur, tak ada koordinasi, dan tak ada ikatan keanggotaan atau staf, badan ini efektif menyebarkan satu isu dengan berbagai macam komentar.
Anggota badan ini mampu menciptakan suatu realitas sebagai sebuah realitas baru yang diinginkan. Realitas baru yang berasa vonis mematikan yang seolah tak bisa dan sulit dibantah. Padahal belum tentu apa yang disampaikan itu adalah realitas yang sebenarnya.
Selain itu, badan ini sangat berpengaruh menggerakkan warga lainnya untuk bersama-sama menguliti sesuatu atau seseorang, hingga bisa merubah kebijakan atau mengundang gelombang protes. Tanpa anggaran pun mereka bekerja efektif untuk menguliti dan memviralkan segala hal yang dilakukan siapapun yang kebetulan jadi sasaran. Tak terhitung korban dari badan ini.
Hebatnya lagi, badan ini tanpa pengawasan dan terbuka untuk siapapun. Asal punya handphone dan aktif di media sosial (medsos).
Badan ini adalah badan intelejen netizen alias “BINet”.
BIN-et ini selalu mengawasi postingan siapapun. Postingan apapun adalah komoditas. Begitu ada postingan di medsos dari seorang pejabat, akan diserbu netizen untuk dikomentari.
Gosip bagi warga BIN-et adalah fakta yabg tertunda. Tak dikomandoi, BIN-et akan mencari tahu dan dilempar ke hutan belantara medsos. Untuk memancing komentar natizen. Kadang sangat kejam dan tak manusiawi, komennya.
Komentar dari netizen akan membentuk persepsi, makna dan tafsir baru dari postingan itu sendiri. Dunia maya hidup 24 jam dalam 365 hari, tak pernah tidur, hiruk pikuk, bising dan tak ada aturan.
Dunia nyata yang dihadirkan di dunia maya, memberikan adiksi yang kuat dan ketergantungan. Sebab medsos bisa menjadi pelarian dari realitas yang sedang dihadapi dan bisa secara bebas menumpahkan dan mencaci terhadap realitas yang ada. Pun membentuk realitas baru yang diinginkan.
Algoritma memanfaatkan adiksi dan ketergantungan kepada medsos yang menyebabkan kebebalan akal, rasa dan nurani. Bebal akal menjadikan warganet mudah terkena hoaxs. Bebal rasa menyebabkan komentar netizen bisa sangat kasar, kejam dan tak sopan. Bebal Nurani menyebabkan natizen bebas melakukan fleksing dan memamerkan gaya hidup hedonis tanpa berpikir ada banyak orang kesusahan.
Komentar netizen, dimanfaatkan algoritma untuk menawarkan dan mendorong pergerakan -motif dari warga net-netizen lainnya. Tengok saja peristiwa penjarahan rumah pesohor ahir Agustus 25 lalu.
Disinilah dahsyatnya pengaruh “BINet”. Komentar warganet BINet bisa membuat “riweuh” siapapun, pejabat bahkan presiden sekalipun. Soal “menelanjangi”, natizen lebih jago tenimbang tukang pangkas rambut menggunduli rambut pelanggannya. Bersih bersinar, terang benderang hingga ke ujung dunia pun tahu. Bahkan bisa diingat hingga akhir hayat. Seolah, sesuatu yang dikomentari oleh netizen bisa menjadi immortal dan abadi.
Komentar netizen atas sesuatu, menjadi realitas baru atas realitas sebenarnya. Gayung bersambut dengan komentar warganet lainnya, Menjadikan realitas baru dari komentar pertama. Menjadi realitas baru yang kedua dan berlangsung terus menerus. Saling bersahut-sahut seperti efek dengung para buzzer.
Seolah resonansi bass sound horeg yang bisa memecahkan kaca. Bermetamorfosis menjadi tafsir-tafsir baru berkat kecanggihan AI (artificial intelegent) dan medsos. Membentuk makna yang tak berhenti di satu titik atau komen. Melahirkan hiperrealitas, tak jelas batasan mana yang benar, nyata dan mana yang maya, buatan atau palsu. Terciptalah simulacrum berbentuk hoaxs.
Di dunia maya, realitas bisa diciptakan dan tidak satu. Realitas bisa dibuat dan diubah, sesuai kepentingan. Bukan hanya maknanya, tetapi realitas itu sendiri bisa dengan sengaja dihiperralitaskan. Realitas yang diwakili postingan, bisa berubah menjadi realitas baru berkat komentar netizen.
Kadang mempercantik realitas awal atau justru menjadi lebih seram, memperburuk jauh dari aslinya. Sebab di medsos, komentar warga BINet membentuk makna dan tafsir baru, serta menjadi realitas terbarukan yang terus menerus tumbuh. Walau kadang cacat bahkan sesat logikanya.
Warga BIN-et seolah gerombolan lalat yang sangat peka kotoran dimanapun. Selalu awas pada postingan apapun atau siapapun yang bisa “digoreng”, diungkit, dan direproduksi ulang. Ada adagium di dunia maya, no viral no justice. Dan warga BIN-et lah pelaku sekaligus hakimnya. Jadi hati-hati dengan postingan, sebab bisa jadi akan masuk dan di BIN-et kan. (Kang Marbawi, 210925)
