Pojokan 278: Tuhan vs ChatGPT

Tuhan memang maha segala. Dan orang bisa mengenal Tuhan hanya dengan Iman. Tanpa Iman, mana mungkin orang bisa percaya Tuhan. Sebab Tuhan tak bisa dilihat dan dirasakan. Bukan seperti sambel goreng yang langsung terasa pedas dan asinnya. Kalau iman seperti sambal goreng, bisa diperjualbelikan.
Soal iman yang kuat, tidak bisa disamakan. Kuat, bagai paku yang menancap di kayu. Soal daya tancapnya bergantung jenis paku itu sendiri. Dan nancap di kayu apa. Kalau kayu Ulin bisa dipastikan akan sulit dipaku, namun jika sudah terpaku dipastikan sulit dicabut. Begitupun iman, bergantung hati dan pikiran orangnya. Soal iman ini melahirkan kasta dalam ritual bukan spiritualitas.
Tersebutlah mereka yang digolonglan kuat imannya sebagai rohaniawan. Bagi orang awam, tokoh agama menjadi penyambung lidah kepada Tuhan. Mungkin karena lidah mereka pendek, tak tahu cara merayu Tuhan dengan doa-doa, maka titiplah kepada pemuka agama untuk menyampaikannya kepada Tuhan. Lidahnya para rohaniawan konon “cespleng”, dalam melantunkan doa dan cepat terkabul. Menjadi makelar doa kepada Tuhan, untuk segala persoalan orang awam.
Ulama, bagi orang awam, menjadi tempat curhat (curahan hati) dari segala persoalan. Mereka juga berfungsi sebagai penasehat spiritual dan ritual bagi orang biasa. Sabda-sabda Tuhan ditransfer melalui lidah-lidah ulama, untuk menenangkan kegelisahan spiritual. Mereka menjadi perantara komunikasi kepada Tuhan.
Tapi ada kejadian nyata. Entah karena kesal atau tak percaya lagi kepada para tokoh agama, Vijay Meel, mahasiswa berusia 25 tahun di Rajasthan, India, memilih ChatGPT (Chat Generative Pre-trained Transformer) untuk berbicara langsung dengan Tuhan. Kelakuannya ini juga umum dilakukan warga India lainnya. Warga India semakin banyak yang menggunakan chatbot sebagai sarana untuk “ngobrol” dengan Tuhan untuk mencari bimbingan spiritual. Konon menurut Vijay, dibanding pemuka agama, berkomunikasi dengan Tuhan via Chatbot lebih rasional dan cukup menenangkan.
ChatGPT yang dikembangkan OpenAI yang digawangi Elon Mask yang berpusat di Ohio, Amerika Serikat/AS, merambah dunia spiritual. Kecerdasan buatan (AI, artificial intelegence) yang diluncurkan 30 November 2022 ini, menjadi jembatan yang menghubungkan manusia dengan nilai-nilai keagamaan secara digital. Menawarkan metode ibadah via AI, lebih mudah dan bisa diakses kapan saja.
Tuhan yang ghaib, atau dalam perwujudan fisik para dewa, mulai tergeser dengan “Dewa/Tuhan Digital”. Berpalingnya orang pada chatbot dalam praktik keagamaan, bisa jadi karena mereka merasa terputus dari komunitas dan tempat ibadah. Tempat ibadah dan jamaah hanya dijadikan kepentingan narsisme dan komiditi bagi tokoh agama.
Pantas saja seorang antropolog, tukang ngorek-ngorek benang merah perilaku sosial manusia, Holly Walters dari Wellesley College, AS, berujar, berbicara dengan AI tentang Tuhan lebih kuat koneksinya dan lebih dekat spiritualnya. Wah bisa berabe jika jamaah lebih memilih curhat melalui ChatGPT dari pada duduk bersimpuh mendengarkan ceramah tokoh agama, sambil terkantuk-kantuk. Dan setelahnya, bisa dilanjut sambil ngerumpi dan ngopi atau langsung kabur karena kebelet ke toilet.
Penggunaan AI sebagai medium spiritual melahirkan agama baru berbasis AI. Tengok saja agama AI, “Way of the Future Church” yang didirikan oleh mantan insinyur Google, Anthony Levandowski, menawarkan “Transhumanist Faith”, AI spiritual, pemujaan terhadap kesadaran buatan. Ada lagi aplikasi meditasi “Miracle of Mind” yang diinisiasi oleh Sadhguru. Dalam 15 jam pertama diluncurkan, aplikasi ini sudah diunduh satu juta kali pada awal 2025. Pembaca juga bisa mencoba aplikasi “QuranGPT” untuk umat Muslim, “Text With Jesus” untuk penganut Kristen. Bahkan aplikasi yang berbasis ajaran Buddha dan Konfusius pun tersedia. Coba saja.
Kata Walters, AI menjadi penghubung individu secara spiritual dengan lebih personal dan instan. Fenomena ini menjadi penanda adanya “Religious Displacement” atau pergeseran otoritas keagamaan, dimana perilaku beragama umat, lebih percaya AI dibanding guru spiritual, ulama atau pemuka agama. Akibatnya tokoh agama, guru spiritual mengalamai “Depersonalisasi Otoritas Spiritual”, dimana data yang dihasilkan sistem AI lebih dipercaya daripada pengalaman langsung atau karisma rohaniawan.
Refleksi Rohani dialihkan ke mesin canggih ChatGPT sebagai entitas eksternal, bukan lagi melalui intuisi batin atau bimbingan spiritual -entitas internal. Fenomena ini disebut "Cognitive Offloading of Faith", sebuah istilah psikologi kognitif yang menjelaskan bahwa seseorang memindahkan proses berpikir, menilai, dan memutuskan (termasuk aspek spiritual) kepada entitas eksternal.
ChatGPT spiritual menjadi alat tambahan bagi jamaah untuk mencari ketenangan batin dan arahan hidup secara digital. Jika itu terjadi, maka bersiap-siaplah, para pengkhotbah dan guru-guru spiritual menyiapkan rencana pensiun dini. Bisa beralih profesi sebagai penjaga warung internet, agar yang datang tetap imgat Tuhan yang asli. Atau pilih jadi marbot musolah.
"Aku sudah tidak dibutuhkan lagi, Selamat bersenang-senang dengan ChatGPT", begitu cuitan protes Tuhan di ChatGPT yang menjadi tema mural disalah satu tempat.
Lucunya ketika saya iseng-iseng coba Tanya Meta AI, dia berkata jujur;
Kutulis begini “Hallo sayang”.
Meta AI menjawab “Hai sayang! Apa kabar? Ada yang ingin dibicarakan atau butuh bantuan dengan sesuatu?”.
Aku tulis “Kamu bohong”.
Meta AI menjawab “Aku tidak bohong, sayang. Aku hanya ingin membantu dan memahami kamu. Aku tidak memiliki emosi atau perasaan seperti manusia, tapi aku ada di sini untuk mendengarkan dan membantu kamu. Apa yang membuat kamu merasa aku bohong?”.
Aku tulis lagi “Kamu bohong”.
Meta AI menjawab lagi “Aku lihat, kamu masih merasa aku bohong. Aku ingin klarifikasi, aku tidak memiliki kemampuan untuk berbohong atau memiliki motif tertentu. Aku hanya ingin membantu dan memberikan informasi”.
Seorang anak SD (sekolah dasar) kelas III protes kepada ibunya, karena dia tidak menemukan rumah Tuhan di Google Maps. “Bu, ko tidak ada rumah Tuhan di Google Maps?” katanya.
Sambil tersenyum, ibunya menjawab; “musolah, masjid, gereja, wihara, pura, klenteng, itu rumah Tuhan. Walau kadang Tuhan adanya di rumah dan bersama orang miskin”.
Mungkin juga Tuhan sudah bertiwikrama menjadi Chatbot spiritual. Jadi silahkan pembaca menentukan sendiri pilihan komunikasinya. Dan jangan-jangan ideologi Pancasila pun nanti ada versi AI nya, bisa berabe deh. (Kang Marbawi, 091125)
