Pojokan 279: Pahlawan R.M.

Rasanya kepingin betul menjadi Raden Mas. Sayangnya, saya tak tahu harus beli dimana dan tak mugkin juga mampu membeli. Pasti mahal harganya. Tetiba saya ingin menjadi Raden Mas, kali saja saya bisa menjadi Raja Mataram, yang konon sedang kisruh. Kali, dengan model saya yang bisa menampung semua kepentingan dan mencari solusi bersama, konfliknya tak berkepanjangan.
Tapi bukan itu tujuannya, sebab soal siapa penerus raja Mataram, mereka sudah punya pakem sendiri. Tak usahlah kita orang biasa, bukan siapa-siapa dan bukan darah biru, ikut-ikutan konflik, siapa yang pantas dan berhak jadi penerus Pakubuwono ke XIII. Kita cukup menonton saja. Toh tak ada untungnya buat keluarga keraton keterlibatan pihak luar yang tak ada kaitannya. Malah tambah riweuh. Biarkan mereka menyelesaikan sendiri gemerincing kelereng dikaleng yang sedang mereka kocok.
Ihwal keinginan saya menjadi Raden Mas, sederhana. Gelar itu bisa dipakai di depan namaku. R.M. AA alias Raden Mas Abi Alvaro. Siapa tahu dengan menyematkan R.M. (bukan rumah makan) dinamaku, jika mengurus sesuatu di kelurahan bisa dipercepat. Pokoknya kalau seisi kolong jagat tahu saya bergelar R.M., mereka pasti akan menunduk-nunduk sampai rela tersungkur seperti kepada para penguasa otoritarian. Tak hanya itu, mereka pun baik terpaksa atau sukarela akan memberikan segala bentuk bantuan tanpa diminta atau tak harus membayar. Itu ilusi saya.
Gelar R.M. itu, tak bisa didapat oleh semua orang. Dia itu macam madu di sarang lebah yang nemplok di dinding ngarai atau hadiah nobel perdamaian atau sastra yang sulit didapat. Macam Nobel, gelar ini hanya diberikan kepada orang terpilih saja. Tidak sembarang orang bisa peroleh gelar R.M. Orang yang bergelar R.M. harus lahir dari keturunan kerajaan yang berdarah biru. Nyatanya semua darah di PMI (Palang Merah Indonesia) tak ada yang berwarna biru. Semua merah warnanya!
Konon orang yang bergelar R.M. ini tak banyak. Bahkan anaknya raja Inggris saja menanggalkannya. Ingin jadi orang biasa. Bebas seperti burung terbang ke mana dan tak terikat aturan kerajaan. Apakah berat menyandang gelar R.M. hingga Pangeran Harry pun rela menanggalkan gelar kebangsawanan yang mentereng itu? Tak tahu lah saya.
Perihal gelar R.M. ini sebenarnya tak ada hubungan dengan saya sendiri. Namun itu menjadi menarik manakala pemberian gelar pahlawan yang sedang ramai dibicarakan. Ihwal siapa yang berhak mendapat gelar pahlawan sudah diatur Undang-Undang (UU) Nomor 20 tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa dan Gelar Kehormatan. Itu saja tidak cukup, kita juga harus menengok Peraturan Menteri Sosial nomor 35 tahun 2012 tentang Pengusulan Gelar Pahlawan Nasional.
Seseorang yang diusulkan menjadi pahlawan, kiprahnya harus mulus bersih sampai ke akar-akarnya. Bagai kentang yang baru dicuci bersih setelah dicabut dari tanah. Tak boleh ada satupun belatung yang nempel. Nah jika sudah seperti ini, baru bisa diajukan.
Nah lalu apa masalahnya? Yang masalah adalah terkait sudut pandang yang berbeda tentang kiprah sosok yang diusulkan. Satu memakai kaca mata pembesar, yang lain cukup pakai teropong UU. Ini yang tak masuk dalam aturan itu.
Pemberian gelar pahlawan tetap harus dilakukan sebagai bentuk penghargaan atas jasa-jasa sesiapapun terhadap bangsa dan negara. Namun tetap tanpa glorifikasi dan denominasi. Sebab pemberian gelar pahlawan, menunjukkan bagaimana bangsa ini mendefiniskan dan belajar dari perjalanan sejarahnya itu sendiri.
Ah sudahlah, terlalu njlimet mendiskusikan kriteria seorang untuk bisa menjadi pahlawan nasional. Padahal sehari-hari banyak orang-orang yang sesungguhnya pantas dianggap pahlawan. Hatta kepahlawanannya tak masuk dalam kriteria UU No 20 tahun 2009 itu. Salah satunya orang tua kita. Pun petugas kebersihan, pengantar barang pesanan, tukang asongan atau siapapun yang memberi kebermanfaatan lebih untuk sesama dan lingkungan. Dan mereka pun tak perlu glorifikasi atas apa yang dikerjakannya.
Orangtua, hanya ingin anak-anaknya berkembang pesat melebihi dirinya, memberi manfaat yang besar untuk kehidupan, tidak korupsi dan berkah. Dan untuk mencapai itu, orangtua rela menyiapkan segala yang dibutuhkan untuk masa depan anak-anaknya. Walau harus banting tulang. Dan yang terbesar adalah dukungan kasih sayang tanpa batas dan selamanya. Sentuhan kasih sayang ini, mungkin yang mulai hilang tergantikan kehidupan maya dimedia sosial yang merampas kebersamaan di meja makan, ruang keluarga dan percakapan sederhana disore hari.
Dan saat ini lebih banyak orang yang sok pahlawan dan jadi pahlawan kesiangan. Entah siapa. Mari ngopi, sambil nonton sendra tari “Adeging Mataram”. (Kang Marbawi, 151125)
