Pojokan 280: Sensasi Bobibos

Ternyata, tak semudah seperti menjambret baju di kapstok untuk dipakai, kalau terburu-buru. Begitupun soal Bobibos (Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos), walau menjanjikan, tapi tak bisa langsung diterima.
Alternative bahan bakar yang ditawarkan M. Ikhlas Thamrin, penggagasnya, menawarkan bisa mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil hasil impor yang semakin besar dan mahal. Tapi, perlu pembuktian. Pun untuk melawan pemain lama yang telah menguasai pasar dan sistem.
Data BPS (Badan Pusat Statistik) awal September 2025 menyebutkan, nilai impor minyak mentah pada Juli 2025 naik 34,92 persen secara bulanan, mencapai $ 786 juta dolar Amerika Serikat (AS). Impor hasil minyak turut naik $1,72 miliar dolar AS pada Juli 2025 atau 5,38 persen secara bulanan. Namun secara kumulatif, nilai impor minyak mentah Januari—Juli 2025 turun 21,07 persen dari rentang yang sama tahun lalu, mencapai $ 4,96 miliar dolar AS. Nilai impor hasil minyak Januari—Juli 2025 $13,41 miliar dolar AS, juga turun 12,20 persen secara tahunan. Impor ini mencakup minyak mentah senilai $10,35 miliar dan produk hasil migas senilai $25,92 miliar, berdasarkan data tahun 2024.
Kehadiran Bobibos dibayangi pengalaman kegagalan leluhurnya. Sebut saja Banyu Biru, Blue Energy jaman pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), Niku Banyu (Nikuba) jaman Joko Widodo. Keduanya mati hilang ditelan bumi. Entah karena tekanan dari pemain besar yang takut status quo-nya terganggu atau kurang dukungan research.
Bahkan Blue Energi yang diprakarsai Djoko Suprapto di-endorse pemerintahan SBY dan dipamerkan dalam ekspedisi Jakarta-Bali menjelang United Nation Framework Conference on Climate Change (UNFCCC) Desember 2007 di Bali. Blue Energy rencananya akan diproduksi massal dengan kapasitas produksi 10 liter per detik atau setara dengan 5 ribu barel per hari bph). Bahan Bakar Minyak (BBM) ini sangat murah, sekitar Rp3 ribu per liter. Namun walau kadung sudah dipercaya istana, akhirnya ide cemerlang Djoko dianggap penipuan oleh UGM (Universitas Gajah Mada). Dan Djoko Suprato diarak ke meja hijau dan divonis 3,5 tahun penjara pada Januari 2009.
Setelah itu, pada Mei 2022, muncul Aryanto Misel memperkenalkan Nikuba Hidrogen, sebuah alat yang diklaim dapat mengubah air menjadi hidrogen dan dapat digunakan sebagai bahan bakar. Aryanto menyebut bahwa satu tetes air rata-rata bisa untuk menjalankan motor sejauh 45-50 kilometer. Sayangnya Nikuba pun harus pupus-layu, lalu mati, RIP (Rest in Peace). Tinggal kenangangan.
Bobibos mengklaim punya RON 98 (research octane number), nangkring melebihi Pertamax. Bobibos digadang-gadang bisa menjadi energi alternative. Sumber bahan bakar ramah lingkungan yang ditemukan oleh pemuda Jonggol ini, tak usah repot mengorek-ngorek tanah seperti ayam mencari makan. Atau ngebor perut bumi untuk mencari sumber minyak bumi-energi fosil yang semakin berkurang.
Cukup mengumpulkan para petani, bahwa setelah panen, jeraminya jangan dibakar. Kumpulkan dan kirim ke pabrik pengolahan Bobibos. Petani senang dapat uang tambahan, Bobibos tenang ada pasokan yang melimpah. Ada 50-120 juta ton jerami padi per tahun, Bobibos tak perlu risau mencari pasokan bahan bakar. Dari 1 hektar Jerami atau setara 9 (sembilan) ton jerami, bisa menghasilkan 3000 liter.
Saya tak paham bagaimana proses uji petik, uji lab, dan uji-uji sertifikasi lainnya untuk menyatakan Bobibos layak dikonsumsi oleh jutaan kendaraan. Yang pasti, Bobibos layak diberi peluang untuk membuktikan, jika memang itu menjadi energi alternative. Sebab anggaran $ 36,27 milliar dollar pertahun yang semula dialokasikan untuk impor minyak mentah dan produk hasil migas (minyak dan gas), bisa digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Pun mengurangi defisit belanja negara yang memusingkan Purbaya. Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mencatat posisi defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2025 mencapai Rp 479,7 triliun atau 2,02% dari PDB per akhir Oktober 2025. Begitu seperti disebutkan media online.
Jerami rakyat pastinya lebih murah dari pada harga impor minyak mentah. Namun bisa jadi angka milliaran dolar tersebut telah menjadi sumber keuntungan bagi pihak tertentu. Dan mungkin mereka tak rela sumber pendapatannya hilang gara-gara Jerami-Bobibos.
Jangan sampai Bobibos diambil negara tetangga, karena tak didukung dan dianggap ancaman bagi status quo. Jadi kita tunggu akhir cerita Bobibos. Semoga Bobibos, tak mengulang para pendahulunya. Hanya menjadi sensasi Bobibos. Meyakinkan! Lalu hilang, bagai asap knalpot tertiup angin. (Kang Marbawi, 231125)
