Pasundan Ekspres
Today

© 2026 Pasundan Ekspres Media

Pojokan 282: Opera Sabun

Y
Yusup SuparmanEditor: Yusup Suparman
|09:36 WIB
Bagikan:
Pojokan 282: Opera Sabun
Kang Marbawi.

Dimana-mana tontonan yang menarik itu, jika bisa mengaduk-ngaduk perasaan penonton. Tereksposnya rasa marah, sedih, senang, gemas hingga rasa malu penonton, menunjukkan pagelaran itu sukses. Walau pemirsa tak paham sinematografi, koreografi atau alur ceritanya.

Pokoknya pertunjukkan yang memukau adalah jika penonton terlihat gemas dari bangkunya hingga ikut melonjak-lonjak sambil mengacungkan tinju ke atas. Atau menitikkan air mata sampai sesegukkan sambil bersandar ke bahu temannya. Sementara yang lain menangis meraung-raung hingga berguling-guling. Bisa membuat penontonnya tertawa terpingkal-pingkal sampai terkencing-kencing, ikut marah atau malu kepada tokoh antagonis, menunjukkan kualitas pertunjukkan.

Tontonan opera kali ini, menampilkan alur konflik rumit di sebuah kapal besar, terpandang dan kharismatik. Terukir di kapal itu, nama-nama besar kharismatik yang menjadi tiang penyangga utama kapal. Pun di buritan, di haluan, di deck, dan disetiap desahan kapal itu, ada nama-nama masyayikh. Mereka hidup dan menghidupi kapal itu, walau sudah tak hidup di dunia ini.

Jalannya konflik diopera sabun itu ruwet bin njilmet. Macam jaringan kabel listrik dan wifi yang silang sengketa di satu tiang, kusut, tak karuan. Melibatkan tokoh-tokoh sentral nahkoda, konsorsium pemilik kapal, kelasi, juru mudi, kroni dan figuran yang kadang memanas-manasi. Ada juga aktor penumpang yang mencoba mencari peruntungan dari konflik tersebut. Penumpang biasa, hanya bisa melihat saja jalannya konflik, sambil menahan was-was kapal tak karam.

Alur ceritanya sulit ditebak. Tak jelas mana tokoh antagonis atau protagonis. Bergantung dari sudut mana penonton duduk memandang drama opera tersebut. Aktor-aktor figuran yang mencoba mencari celah untuk mendapat peran dan porsi tampil lebih sering. Mengambil keuntungan dari konflik itu. Tak ubahnya air keruh di kubangan.

Ceritanya berpusat pada pelengseran juri mudi yang dianggap salah arah mengelola asset tali tambang kapal. Tali tambang yang dipinjami syahbandar ketika bersandar di pelabuhan, berujung jadi ranjau.

Terjadi tarik tambang, adu kuat posisi, antara nahkoda dengan juri mudi. Beberapa awak kapal, terpolarisasi ikut berdiri di belakang nahkoda atau juru mudi. Ada juga tetua yang mencoba mengajak untuk berembuk. Sementara aktor figuran lainnya, memanas-manasi dan mencari kesempatan untuk merebut posisi strategis.

Karena mereka sangat kuat dan sakti, pertarungan itu membuat oleng kapal. Penumpang pun histeris. Juru mudi tak mau dilengserkan. Nahkoda merasa berhak untuk mengambil alih. Tetua sedih, mau merujukkan keduanya. Tapi tak banyak membuahkan hasil. Kapal pun oleng, sementara badai akan datang. Intrik bertebaran di kalangan crew. Membangun opini kepada penumpang “posisiku” yang paling benar.

Namun opera itu bukan kisah Achilles melawan Hector pada perang Troya. Keduanya dianggap pahlawan oleh masing-masing bangsanya. Juga bukan kisah Pangeran Dipenogoro melawan tiran Belanda. Atau Nelson Mandela melawan Apharteid. Atau kisah pahlawan dipelbagai belahan dunia melawan para tiran.

Ini kisah tentang satu biduk yang tak lagi sehaluan. Mungkin kisah tentang tak lagi sama pembagian laba. Semua membuka aib, semua terpanggang nafsu, gegara tak sama pendapatan. Lupa, kisruh yang disebar itu bisa membakar sejarah agung kapal besar yang dibangun dengan perjuangan, cinta, khidmah, keikhlasan, pengayom, penjaga warisan akhlak dan umat. Semua terjerat dibiduknya sendiri. Terjebak ranjau tali tambang syahbandar.

Tak sekali, kapal besar itu mendapat serangan. Dulu juru mudi, nahkoda dan para tetua kapal masih dalam satu barisan. Semua merujuk pada satu komando para masyayikh. Walau konflik itu diciptakan oleh aktor luar, menggunakan aktor internal. Dan kapal itu tetap utuh, kuat dan melaju kencang, melewati badai.

Namun sekarang, kisah perseteruan ini terpercik dari dalam, gegara tali tambang, juga lawatan juru mudi ke pulau terlarang. Ada perebutan kapal.

Opera itu -konflik awak kapal besar, megah, kebanggan dan legendaris, ditonton para kiai kampung dan nahdliyin di sudut musola. Pun warga dunia.

Para penonton, tak mengerti bagaimana akhir cerita opera itu. Mereka pun tak tahu siapa sutradara dan sponsor utama pagelaran terbesar dipenghujung tahun ini.

Di beranda musola bersama segelintir jamaah, kiai kampung hanya bisa mengelus dada dan menitikan air mata. Terbawa suasana malu dan sedih. Entah sampai kapan opera ini berakhir. Sambil berdoa merapal nasehat Hadrotusy Syekh K.H. Hasyim Asyari; “Masuklah (Nahdlatul Ulama - NU) dengan penuh kecintaan, kasih sayang, rukun, bersatu, dan dengan ikatan jiwa raga. Bukan untuk mencari hidup dan pekerjaan”

Sementara di panggung opera, masing-masing aktor sedang menjalankan perannya dengan serius. Merebutkan kepentingan ekonomi-politik masing-masing. Mengorbankan khidmah, wibawa dan keikhlasan. Tak segan marwah kapal dilego dan dipertaruhkan. Apakah mereka sedang bersandiwara? Entahlah. Tapi sandiwara mereka yang tak patut itu, mencoreng peradaban yang dibangun masyayikh. Sejarah agung, sosial-politik-budaya dan warisan nilai, bahtera besar ini, pudar-redup.

Opera ini layak mendapat penghargaan Oscar. Karena ditonton jutaan orang di seluruh dunia dan peran maksimal para aktornya. Mungkin ada yang berharap opera itu berujung karamnya kapal. Sementara kiai kampung, ingin bahtera ini tetap gagahs berlayar. Agar para kiai kampung bisa kembali ngopeni umat. Walau tak dipikirkan kesejahteraannya oleh para juru mudi dan nahkoda kapalnya. Sementara kapal besar lain, begitu sejahtera, kokoh, aman, damai dan satu komando. (Kang Marbawi, 061225)

Berita Terbaru

Mengenal Gembyung Ragasuta Subang, Kesenian Tradisional yang Menjaga Warisan Budaya Sunda

Mengenal Gembyung Ragasuta Subang, Kesenian Tradisional yang Menjaga Warisan Budaya Sunda

Lifestyle6 menit lalu
Lebih dari Pemecah Ombak, Inovasi APO Strap dan Harapan Baru Warga Pesisir Subang

Lebih dari Pemecah Ombak, Inovasi APO Strap dan Harapan Baru Warga Pesisir Subang

Headline39 menit lalu
Bukan Sekadar Tabuhan Bedug, Genjring Bonyok WBTb dari Subang Punya Cerita Panjang

Bukan Sekadar Tabuhan Bedug, Genjring Bonyok WBTb dari Subang Punya Cerita Panjang

Subang3 jam lalu
Tujuan Perda Pemajuan Kebudayaan, Bukan Sekadar Menjaga Warisan Leluhur

Tujuan Perda Pemajuan Kebudayaan, Bukan Sekadar Menjaga Warisan Leluhur

Jawa Barat4 jam lalu
ADVERTISEMENT
Jadwal Persib Bulan November : Tujuh Laga Menanti, Ada Melbourne Victory dan FC Seoul

Jadwal Persib Bulan November : Tujuh Laga Menanti, Ada Melbourne Victory dan FC Seoul

Olahraga7 jam lalu
Pesan Menteri ATR/BPN kepada 152 Pejabat dalam Pelantikan: Layani Masyarakat dengan Baik

Pesan Menteri ATR/BPN kepada 152 Pejabat dalam Pelantikan: Layani Masyarakat dengan Baik

Nasional7 jam lalu
Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Kementerian ATR/BPN Makin Mendekat Layanan ke Masyarakat Lewat ATR/BPN Dekat

Dua Tahun Kabinet Merah Putih, Kementerian ATR/BPN Makin Mendekat Layanan ke Masyarakat Lewat ATR/BPN Dekat

Nasional7 jam lalu
Cara Melamar Kerja di BYD Subang 2026, Ini Link Pendaftaran Resmi dan Tips agar Lolos Seleksi

Cara Melamar Kerja di BYD Subang 2026, Ini Link Pendaftaran Resmi dan Tips agar Lolos Seleksi

Jawa Barat8 jam lalu
BAZNAS Subang Terima Penghargaan di Puncak Hari Santri 2026

BAZNAS Subang Terima Penghargaan di Puncak Hari Santri 2026

Headline8 jam lalu
Pabrik BYD di Subang Diprotes Warga Soal Tenaga Kerja Lokal

Pabrik BYD di Subang Diprotes Warga Soal Tenaga Kerja Lokal

Subang10 jam lalu