Pojokan 289: Emper Musola

Hampir setiap bada Maghrib, tiga sampai enam orang jama’ah Musolah Al-Istiqomah yang terletak di Gang Makam, Kelurahan Harapan Baru, Bekasi Utara, bercengkrama diemperan mushola. Jumlah jama’ah Maghrib sendiri cukup lumayan dengan ukuran musolah yang hanya 6 x 5 meter ini. 35 jama’ah berbanjar ditiga shap, selalu memenuhi musola ketika salat Maghrib. Menyisakan satu setengah shap disalat Isya. Saat Subuh, hanya dihuni satu shap kurang. Sementara di waktu Duhur dan Ashar, diikuti lima atau empat orang jama’ah saja. Jama’ah lainnya mungkin melaksanakan di tempat kerja.
Kebiasaan “nongkrong” di emperan musola, kadang dilanjutkan setelah Isya hingga jam 22.00 atau 23.00 WIB. Itupun tidak selalu setiap malam. Kopi siap seduh, dispenser dan camilan sederhana selalu menyertai keguyuban warga-jama’ah musola. Ditimpali suara anak-anak yang belajar mengaji.
Obrolannya pun bermacam jenis. Mulai soal “ngomongin” kunjungan kerja presiden, KDM-Kang Dedi Mulyadi, anggota dewan, bencana ekologi di tiga provinsi, ketua RW (rukun warga) yang belum menyelesaikan laporan dana hibah, selametan aqikah, undangan tahlilan, rencana ngecat musola, hingga soal sampah dilingkungan. Pokoknya gado-gado, dan sekenanya. Tak ada yang mendominasi obrolan. Tak juga didominasi oleh ustadz, tokoh, atau lainnya. Kadang diselingi debat kusir-lucu yang tak jelas juntrungnya. Memetik gelak tawa.
Setiap obrolan tersaji dengan gayeng, disambar dengan santai dan ringan oleh jama’ah. Diselingi “guyonan”, menertawakan keadaan warga sendiri atas segala persoalan kehidupan warga pinggiran-kelas bawah. Karena memang jama’ah bukan anggota dewan yang terhormat atau pengamat sosial yang “njlimet” mengomentari berbagai persoalan sosial. Maka segala obrolan itu kadang tak ada pangkal, ujung atau solusinya. Menguap begitu saja, berganti topik lain dengan halus, yang “dilempar” jama’ah.
Tak jarang, obrolan ringan jama’ah datang dari kepedulian terhadap persoalan yang ada. Soal membantu warga ketika anggota keluarganya wafat - “kepaten”, pengelolaan sampah, gotong royong membersihkan lingkungan dan hal-hal remeh temeh yang berujung bergeraknya warga-jama’ah untuk membantu. Yang paling nyata adalah, hadirnya iuran dana sosial untuk membantu warga yang “kepaten”, rutinan kerja bakti bersih-bersih musola dan lingkungan.
Inisiatif itu tak dikomandoi oleh siapapun. Muncul dari kesepakatan bersama, Ketika “ngariung” di emperan musola. Kesepatan yang dilegal formalkan dengan musyawarah warga.
Jama’ah Musola Al-Istiqomah ini, tak kenal collectiveactionin control-nya John Roggers Commons-sosiolog Amerika. Gerak bersama jama’ah, hadir dari kesadaran bersama yang mendorong collective action di lingkungan sosial. Melahirkan inisiatif dan partisipasi warga untuk menyelesaikan secara mandiri, persoalan yang terjadi di lingkungan.
“Ngariung” ala jama’ah Musola Al-Istiqomah atau lainnya ini, lahir tanpa design teori sosiologis-community development-nya para sosiolog. Ini hadir dari pelepasan kepenatan warga dari aktivitas pekerjaan masing-masing. Warga melepas lelah psikologis dengan “ngobrol ngalor-ngidul” di emperan musola. Ngumpul yang tanpa sekat-atribut sosial. Sekaligus wahana interaksi alamiah warga, yang mulai tergerus arus individualis.
Musola menjadi medium pertemuan warga tanpa batas-public sphere sekaligus public space. Menjadi tempat melepas beban dan menertawakan kesulitan hidup yang terus menghimpit. Musola di Gang Makam, selain menjadi tempat ibadah, menjelma menjadi tempat urun rembuk warga. Aktivitas warga yang lahir atas inisiatif, dilakukan dan diawasi bersama-sama. Lahir dari kepedulian dan kesadaran atas persoalan lingkungan.
“Nongkrong” bareng di emperan musolah, menjadi katalisator-perubahan sosiologis, atas merebaknya kecendrugan sikap “EGP” emang gue pikirin. Sikap EGP lahir ketika seseorang lebih mementingkan urusan pribadi, tak peduli dengan persoalan sosial, mementingkan kenyamanan pribadi dan kurangnya keterikatan dengan lingkungan sekitar. Tak hanya untuk ibadah, musola bisa menjadi medium perekat warga. Sekaligus benteng perlawanan terhadap sikap EGP yang semakin marasuk. Jadi AYO NGOPI di musola. (Kang Marbawi 250126)
